Pariwisata Indonesia menuju “Creative World Class Tourism Industry Service”

Kitanesia- Paris, the City of Light, the City of Love, dua julukan utama ibukota Perancis yang menjadi ikon turisme internasional. Jumlah wisatawan internasional ke Perancis adalah terbesar di dunia, 85 juta orang! Bisnis pariwisata merupakan 7.5% ekonomi Perancis dan bernilai € 150 milyar (2015).

image : SUGARMINTS
image : SUGARMINTS

Jumlah wisatawan tersebut lebih banyak dari penduduk Perancis yang 67 juta orang. Adalah umum lalu lintas kota Paris didominasi oleh turis yang hilir mudik dengan menggunakan berbagai moda transportasi. Moda city tour dengan bus Hop on and Hop off adalah salah satu favorit untuk turis karena murah,meriah dan ‘dapat banyak’. Dan amboi! Diantara bus-bus tersebut ada yang berbalut ‘Wonderful Indonesia!’

Wonderful-Indonesia-Hadir-di-Ajang-Euro-2016-Paris-Kementrian-Pariwisata-lensamedia

Dan jika kita buka website Wonderful Indonesia di Paris, sudah langsung berbahasa Prancis

WORLD-CLASS

Terlihat Kementerian Pariwisata yang dipimpin oleh Arief Yahya serius untuk menuju “Creative World Class Tourist Industry Service”. Arief Yahya adalah salah satu putra terbaik bangsa Indonesia dari Banyuwangi. Lahir 2 April 1961, sarjana teknik elektro ITB ini seumur karirnya mengabdi di PT Telkom Indonesia, sampai ke puncak tertinggi. Kompetensi dan kreativitasnya membuat PT Telkom mengirimnya ke Surrey University di Inggris untuk mempelajari Telematika yaitu kombinasi piranti lunak dan telekomunikasi. Ilmunya tersebut diterapkan dengan baik di PT Telkom, sehingga menjadi perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia dan juga mulai merambah ke dunia global. Suatu kombinasi antara kemampuan teknis, entrepreneur dan motivator relijius yang luar biasa!

“Success without plan is luck. Success with plan is achievement…!”

“Baik saja tidak cukup, kita harus menjadi yang terbaik! Bekerja yang terbaik, menjadi nomor satu, itu adalah spirit Ikhsan. Dan saya minta Kemenpar menjadi nomor wahid,”

Saat ini jumlah wisatawan internasional yang datang ke Indonesia berjumlah10 juta orang, jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yag 255 juta, tentunya rasionya masih sangat kecil. Jangan bandingkan dengan Perancis dan Spanyol (68 juta wisatawan, jumlah penduduk 47 juta) yang jumlah wisatawan per tahunnya lebih besar dari jumlah penduduk, dibandingkan dengan Thailand (29 juta wisatawan, jumlah penduduk 65 juta) dan Malaysia (25 juta wisatawan, jumlah penduduk 31 juta) saja kita masih kalah. Singapura 12.1 juta, tapi itu lebih dari 2 kali jumlah penduduknya!

Target jumlah wisatawan sampai tahun 2019 adalah sebesar 20 juta orang. Bahan dasar apa saja untuk industri ini? Dari yang sudah menjadi anugerah seperti alam dan flora/fauna sampai yang merupakan karya hebat manusia : bangunan heritage, bangunan ikonik, cultural, event, serta taman-taman hiburan. Aspek-aspek apa saja yang dapat dipelajari dari pengalaman negara-negara yang sudah maju industri pariwisatanya? Kreatifitas, promosi, infrastruktur pendukung dan servis prima adalah hal-hal yang sangat penting untuk mendukung industri pariwisata. Amerika Serikat adalah negara yang paling berhasil mengkapitalisasi industri pariwisatanya, US$ 204.5 milyar, lebih dari 4 kali dari Perancis, yang jumlah wisatawannya terbesar.

Gebrakan pertama signifikan yang dilakukan Indonesia adalah dikeluarkannya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 104 tahun 2015, yang diteken 18 September 2015, yang mengatur mengenai fasilitas bebas visa kunjungan bagi turis asing ke Indonesia, dari 30 negara menjadi 75 negara

“Melalui Perpres tersebut, pemerintah menambah jumlah negara yang diberikan pembebasan dari kewajiban memiliki visa kunjungan dalam rangka wisata, dan lebih memberikan keleluasaan bagi wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia,”  (Jokowi, 7 Oktober 2015)

Indonesia yang di anugerahi alam yang indah dan eksotis, serta budaya yang hebat dari jaman prasejarah sampai sekarang, memiliki bahan dasar yang luar biasa untuk industri pariwisata. Danau Toba, Danau Singkarak dan Danau 3 Warna tidak kalah indahnya dengan Danau-danau di Swiss. Komodo adalah fauna reptil prasejarah tertua di dunia yang masih hidup dan tidak ada duanya di dunia. Masih segar dalam ingatan kita pemerintah masa lalu justru ‘cuek’ dengan adanya usaha dari masyarakat untuk mengikutkan komodo sebagai salah satu New7 wonders of Nature. Keberhasilan usaha masyarakat ini akhirnya menaikkan secara signifikan wisatawan ke Labuan Bajo dan sekitarnya, yang akhirnya meningkatkan perekonomian daerah.

Beberapa destinasi wisata Indonesia malah ditemukan dan dipopulerkan terlebih dahulu oleh negara luar, seperti Gili Terawangan di Lombok dan Raja Ampat di Papua Barat. Gili Terawangan yang indah serta relatif mudah dan murah itu, dipopulerkan oleh turis-turis backpacker. Para turis-turis itu bahkan tak segan-segan ‘nude’ di pulau surga tropis itu. Baru 3 – 4 tahun terakhir ini turis lokal ikut meramaikan lokasi ini. Raja Ampat adalah surga alam kepulauan dan bawah laut terbaik di dunia, The Last Paradise in Earth (Sergey Brin, pendiri Google), dan persinggahan ikan dari seluruh dunia (Capital for Fish in the World). Para diver dari seluruh dunia mengenal tempat ini relatif dari mulut ke mulut, sampai akhirnya menjadi terkenal. Hal yang menarik adalah, pihak yang melihat peluang ini justru investor orang-orang Eropa. Para investor tersebut lalu bekerjasama dengan Pemerintah Daerah untuk membuat dan mengelola resor alam, dan bekerjasama dengan penduduk setempat (ranger) untuk mendampingi para turis. Para investor ini lalu membuat jaringan pemasaran ke Eropa, sehingga hampir seluruh turis yang datang ke Raja Ampat adalah Eropa.

Wisata di Raja Ampat jelas mahal karena biaya terbang ke Sorong, ada perjalanan laut yang lumayan jauh, dan tentu nya biaya diving yang tidak murah. Mahalnya biaya wisata ke Raja Ampat membuat turis lokal relatif jarang tertarik untuk berkunjung. “Dengan biaya sebegitu mending ke Singapura”. Jadi jika kita ke Raja Ampat, kita merasa minoritas di negeri sendiri.

“Semua orang tahu keindahan alam Raja Ampat di Papua, namun kalau mau kesana jalannya belum bagus, akan kesulitan para wisatawan mau kesana. Jadi iklan pariwisata harus didukung dengan infrastruktur yang memadai. Program infrastruktur yang telah disusun harus ada angka-angka konkrit yang lebih signifikan. Sebab infrastruktur berpengaruh langsung kepada perputaran ekonomi masyarakat dan langsung mendukung untuk mencapai  target 20 juta turis asing tahun 2019,” (Utut Adianto, Ketua Panja Pemasaran dan Destinasi Pariwisata Komisi X DPR RI, 2 Juni 2016)

Salah satu usaha untuk mencapai target jumlah wisatawan adalah menetapkan 10 destinasi wisata prioritas. Seluruh sumber daya negara dikonsentrasikan untuk meningkatkan infrastruktur, promosi dan servis di tempat-tempat tersebut. Infrastruktur menjadi penting mengingat 9 dari 10 lokasi tersebut adalah wisata alam (Danau Toba, Tanjung Kelayan, Kep Seribu, Tanjung Lesung, Bromo, Mandalika, Labuan Bajo,Wakatobi, Morotai). Peningkatan infrastruktur ini terutama menjadi tugas Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

“Sekarang PU mestinya bisa melihat apa yang bisa dimasuki. Marketing bagus, promosi bagus tapi produknya harus dilihat masih banyak yang kurang,” (Jokowi,6 Januari 2016)

“Beberapa dukungan infrastruktur terutama untuk tahun 2017 seperti Program preservasi dan pelebaran Tele-Pangururan-Nainggolan-Onan Runggu untuk kawasan Pariwisata Danau Toba, dan Preservasi rehab Minor Jalan Tj. Ru–Tj. Pandan–Tj. Tinggi sepanjang 73,58 km, untuk mendukung pariwisata di Tanjung Kelayang Provinsi Bangka Belitung. Selain itu pelebaran Jalan Urip Sumoharjo Magelang untuk mendukung Pariwisata Candi Borobudur dan penataan bangunan Strategis Nasional Sukarno Hatta untuk mendukung pariwisata di Gunung Bromo” (Hernanto Dardak, Kepala Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW) Kementerian PUPR, 2 Juni 2016)

Bagaimana dengan destinasi wisata lain, yang masih sangat banyak di Indonesia? Dalam hal inilah Arief Yahya melakukan blusukan marathon, baik ke luar negeri maupun di dalam negeri. Di luar negeri misalnya dengan membuat bus promosi wonderful Indonesia di Paris, serta mengajak Sergey Brin menginap 4 hari di Raja Ampat. Di dalam negeri, Arief berkeliling ke seluruh Indonesia untuk bertemu dengan para kepala daerah dan masyarakat untuk mengangkat potensi-potensi yang bisa dijadikan destinasi wisata. Keberhasilan usaha itu sangat tergantung pada kreativitas.

Lokasi alam yang indah bisa dikombinasikan secara kreatif dengan event cultural atau sport. Aceh yang indah dan relijius menyelenggarakan Aceh International Rapa’i Festival yang disemarakkan dengan seni dan budaya Aceh yang pernah mengikuti Festival Musik Marktoberdorf di German. Nias dengan surfing The Point danIndicator” yang tidak kalah dengan “Jaws” Hawaii, sekarang dilengkapi dengan Pesta Ya’ahowu. Danau Singkarak yang spektakuler dikombinasikan dengan Tour de Singkarak yang dihadiri 230 peserta dari 24 negara . Lembah Baliem yang eksotis dikombinasikan dengan festival budaya Lembah Baliem yang mendunia sampai dihadiri 7 duta besar (Swiss, Italia, Armenia, Hungaria, Bulgaria, Mexico dan India). Dieng Culture Festival di Negeri diatas awan disesaki 100.000 pengunjung.

Di puncak Pananjakan yang tiap subuh orang sudah berjejal-jejal menunggu sunrise, diselenggarakan Festival Jazz Gunung Bromo. Tidak usah jauh-jauh ke Pasadena, datang saja ke Tomohon International Flower Festival, yang diikuti Tiongkok, Australia, New Zealand, Hongkong, Rusia, Amerika, Perancis, Thailand dan Filipina. Harum dan keindahan bunganya tidak kalah dengan Keukenhoff, dinikmati oleh 100.000 pengunjung. Di tempat kerajaan tertua di Indonesia, ada Festival Internasional Erau 2016, pesta budaya akbar adat Kutai dengan mengulur naga, yang dihadiri peserta dari Amerika Serikat, Lithuania, Estonia, Bulgaria, Kanada, Polandia, Rumania, Rusia, dan Taiwan. Napak tilas Laksamana Cheng Ho, yang dikemas dalam Festival Budaya Cheng Ho di Semarang, merupakan tonggak akulturasi budaya Tiongkok di Indonesia.

pariwisata

Jika bangunan-bangunan heritage di Eropa dapat secara kreatif sehingga bisa difungsikan secara komersial, Indonesia pun seharusnya bisa kreatif membuat bangunan heritage seperti kota tua Jakarta, dikelola untuk wisata sekaligus komersial. Candi Prambanan yang secara reguler menyelenggarakan sendratari Ramayana tiap bulan purnama, sekarang sudah mengglobal dengan menyelenggarakan Indihome Prambanan Jazz, yang dihadiri artis kelas dunia seperti Boys II Men. Lukisan-lukisan para maestro kita yang tadinya tersimpan rapi di Istana Negara, sekarang dapat dinikmati oleh masyarakat di Gallery Nasional lengkap dengan teknik 3 D Augmented Reality. Tidak kalah dengan Monalisa dkk yang tersimpan di Louvre bukan? Monumen Nasional pun tidak kalah menarik dibanding Obelisk Mesir di Concorde Square Paris bukan ?

MUSEUM

Jika Disneyland, Universal Studio, Legoland adalah icon taman bermain internasional, maka Dunia Fantasy Ancol, Batu Night Spektakuler dan Jatim Park sudah merupakan taman bermain lokal yang berstandar internasional. Event-event olahraga seperti Formula I, Moto GP, Euro, Olimpiade merupakan daya tarik wisata yang sangat kuat, Indonesia pun bergegas menuju penyelenggaraan Asian Games. Dan jika seluruh pihak dapat bekerjasama dengan baik dan kreatif, ajang Moto GP akan dapat diselenggarakan di Indonesia.

park

Papua adalah mutiara timur yang mempunyai modal besar alam dan budayanya. Cartenz Pyramid yang mempunyai gletser abadi di khatulistiwa akan jauh lebih menarik dari summer gletser di Alpen. Kesulitan transportasi misalnya dapat diatasi dengan moda kereta gantung seperti Alpen (bahkan Malaysia pun sudah mempunyai moda ini ke Genting Highland dan juga Langkawi). Studio alam bisa dibuat di berbagai daerah, yang akan jauh lebih menarik dibanding yang ada di Holywood ataupun yang sudah ada di Malaysia bersama Twentieth Century Fox yang dibuat di Genting Highland. Warga Papua yang ramah akan dapat dengan bangga menjadi ranger bagi para wisatawan di Isinga (ibu Bumi Papua), atau bermain Pin ball perang-perangan.

sky train and sky gate, genting island and Langkawi - malaysia
sky train and sky gate, genting island and Langkawi – malaysia

Jika di Eropa wisata air terdapat pada kanal-kanal kota Amsterdam, Sungai Seine Paris, dan Sungai Thames London, maka Indonesia sudah juga mempunyai kapal pesiar yang menjelajahi tempat-tempat eksotik di kepulauan Indonesia, dengan pos persinggahan seperti Komodo, Nusa Tenggara Timur dan Raja Ampat.

Gambar-Wisata-Raja-Ampat

Sustainable Tourism Development,adalah suatu alternatif bagi daerah yang sudah mengalami banyak kerusakan akibat pertambangan massif seperti di Papua, Kalimantan dan Bangka

 “Semakin dilestarikan, semakin mensejahterakan. Karena itu, yang masih asri harus dijaga, yang setengah rusak mulai direvitalisasi, dan yang sudah rusak direstorasi,”

“Yang terus berkembang naik adalah Pariwisata. Ketiga-tiganya naik, size, spread dan sustainable!”

(Arief Yahya, 1 Agustus 2016)

Dengan banyaknya potensi pariwisata yang masih belum terjamah-yang pada pemerintahan sebelum-sebelumnya sangat kurang perhatiannya, bagaimana caranya agar kejadian seperti di Raja Ampat dan Gili Terawangan, tidak terulang lagi?

Perencanaan pengembangan kawasan pariwisata secara terpadu melalui pendekatan Wilayah Pengembangan Strategis (WPS) terbagi dalam lima langkah yang dilakukan. Pertama, membuat konsensus antar stakeholders di tingkat nasional, provinsi, dan kota/kabupaten (pemerintah, swasta, dan masyarakat),…… sampan langkah kelima pembuatan master plan (Hernanto Dardak, Ka BPIW Kementerian PUPR, 2 Juni 2016)

Jika master plan dan proposal investasi suatu daerah sudah jadi, maka akan sangat mudah untuk mengundang investor untuk mengembangkan daerah wisata, yang tentunya diutamakan pada investor dalam negeri terlebih dahulu.

Jika ternyata investasi pariwisata di daerah pertambangan Freeport lebih menguntungkan, barangkali cukup 1 gunung saja yang terlanjur habis. Pola pengelolaan wisata alam dan kultural yang berbasis kearifan lokal yang luar biasa dan patut dijadikan referensi adalah Grand Canyon di Amerika. Grand Canyon dikelola oleh Native American Hualapai, yang sudah menempati tempat tersebut ribuan tahun sebelum datangnya bangsa Spanyol, García López de Cárdenas pada tahun 1540, sebelum bergabung di negara bagian ke 48 Amerika modern, Arizona pada 14 Februari 1912. Pemerintah federal Amerika terus melakukan dukungan dengan sangat bijak dan baik, sehingga terjadi suatu produk wisata yang sangat menakjubkan di tengah gurun gersang Arizona. Pola semacam ini patut untuk dikembangkan di Papua, ‘The Ultimate Solution for Papua’ pengembangan industri pariwisata berbasis karakter Isinga dengan dukungan Pemerintah Pusat Indonesia.

grand-canyon

Atas perjuangan keras Arief Yahya dan jajaran kemenparnya, pertumbuhan wisatawan asing mencapai 10.3% pada tahun 2015, naik dari 7.2% di tahun 2014. Suatu awal yang baik untuk mencapai 20 juta wisatawan pada tahun 2019. Kreatifitas, promosi, infrastruktur pendukung dan servis prima adalah hal-hal yang sangat penting untuk menuju Indonesian World Class Tourism Industry sebagai salah satu andalan perekonomian nasional nantinya.

Tim Redaksi Kitanesia

 

 

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN