A Demolition Troops : Teknologi vs Manual, Siapa yang Dipilih Walikota Airin?

Kitanesia- Sudah lebih seminggu sejak terjadinya keruntuhan bangunan gedung yang spektakuler di Tangerang Selatan (Tangsel), 2 Juni 2016 lalu. Walikota Tangsel, Airin Rachmi Diany dan Tim Ahli Bangunan Gedung (TABG) mengambil kesimpulan bahwa setengah bangunan yang tersisa harus segera dirubuhkan total dengan alasan keamanan.

Bagaimana cara merubuhkan bangunan bertingkat tinggi dengan cepat dan aman ?   Cara yang paling populer adalah dengan menggunakan teknik ledakan terkontrol sehingga bangunan rubuh ke arah dalam (implosion demolition https://m.youtube.com/watch?v=sK5So-yYRU). Teknik ini merupakan gabungan antara kreatifitas, engineering judgement dan teknologi. Salah satu pelaku yang sangat terkenal adalah suatu keluarga di Amerika, yang sudah banyak melakukan pekerjaan tersebut dengan baik. Apa alasan perubuhan bangunan ? Bisa karena sudah melewati usia layan bangunan (50 tahun), perubahan fungsi, atau rusak akibat kebakaran, perang, bencana alam, dan teroris

Perubuhan bangunan dengan teknik ini memang hanya memerlukan beberapa detik saja, namun perencanaannya harus cermat, sehingga terkadang justru memerlukan waktu yang lama, tergantung dari kompleksitas bangunan. Perubuhan bangunan 2000 Commonwealth Avenue (1971) hanya memerlukan 3 hari perencanaan, sedangkan perubuhan Seattle Kingdome (2000, https://m.youtube.com/watch?v=oiftDBtCFt8) memerlukan waktu sampai 4.5 bulan !. Perencanaan dan pelaksanaan dengan teknik ini jelas harus dilakukan oleh tenaga ahli yang profesional serta teknologi yang canggih, sehingga pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Di Indonesia, jika bicara soal pembongkaran bangunan maka cara manual adalah yang paling populer. Sangat kontras dengan rekan mereka di Amerika, para pembongkar-pembongkar bangunan manual ini bekerja dengan insting alamiah serta teknologi yang sederhana, dan bahkan bisa dengan biaya yang sangat minim. Yang penting buat mereka, besinya bisa diambil untuk dijual….Apakah pasukan ini mempunyai sertifikat tenaga ahli, tenaga terampil dan K3 untuk pekerjaan pembongkaran bangunan gedung seperti yang disyaratkan dalam Undang-undang Rebublik Indonesia No.28/2002 tentang Bangunan Gedung (UUBG)?

Pembongkaran bangunan yang dilakukan tanpa mengikuti UUBG berpotensi membahayakan lingkungan, jiwa dan resiko gagal.  2000 Commonwealth Avenue (1971), misalnya, mengalami kerusakan di bagian atap akibat kebakaran pemanas atap yang tertiup angin. Sehari sesudah kejadian, pekerja langsung naik ke atas, dan terjadilah keruntuhan progresif pada setengah bangunan secara tiba-tiba, dan mengubur pekerja bangunan tersebut. Perubuhan Apartemen Ardler di Skotlandia (2004) dengan teknik peledakan mengalami kegagalan karena pelaksana tidak bersertifikat.

Apakah ada tenaga ahli Indonesia yang bisa merencanakan dan melakukan teknik implosion demolition ?, Teknik peledakan sepertinya sudah dikenal baik di pertambangan dan beberapa bangunan cerobong, namun sepertinya belum pernah dilakukan pada bangunan tinggi. Secara teoritis bisa dicobakan, tapi mungkin akan lebih baik dilakukan alih teknologi terlebih dahulu. Pada kasus perubuhan Cuneo Hospital di Chicago (2014), pemerintah setempat ‘memaksa’ keluarga ahli peruntuhan bangunan tersebut untuk bekerjasama dengan pihak lokal untuk dilakukan alih teknologi. Bangunan tinggi di Indonesia yang mulai dibangun pada awal 1970an, segera akan memasuki masa 50 tahun layannya pada tahun 2020. Dengan berlakunya UUBG, peraturan gempa baru dan diharuskannya ada penilaian sertifikat laik fungsi bangunan per 5 tahun, maka akan dimulai era pembongkaran bangunan tinggi di Indonesia, seperti di Amerika pada masa 1970-an.

Jadi apa pilihan yang akan dilakukan Walikota Tangsel Airin dan TABGnya dalam kasus Gedung Bintaro ? Apakah diserahkan pada pasukan pembongkar Amerika yang dapat merencanakan dalam 3 hari teknik implosion demolition, atau pada pasukan pembongkar manual yang diperkuat tenaga ahli lokal, atau dilakukan kerjasama alih teknologi ? Menarik untuk ditunggu….

Berikut adalah video pembongkaran gedung yang tidak berhasil

*(KitaHN)

 

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN