An Unbreakable Spirit of Muhammad Ali for Indonesian XYZ Gen

Kitanesia – Ali    …Ali …Ali  suatu teriakan khas yang sangat dikenal pendahulu generasi XYZ di era tahun 1970an tiap kali Muhammad Ali bertanding. Ya pertandingan Ali pada masanya tidak pernah dilewatkan oleh masyarakat Indonesia. Saat itu hanya ada satu TV pula, yaitu TVRI, dan masih hitam putih juga. Ali jauh lebih populer dari sepakbola Persib atau Piala Dunia, karena biasanya disajikan live pada hari Minggu prime time antara jam 10 – 14.

“The Greatest”, itulah julukannya. Julukan yang sangat tepat. Ali adalah petinju yang tidak hanya sangat lengkap skillnya, tapi juga mempunyai “Unbreakable Spirit” dalam memberikan hiburan bagi masyarakat. Tinju profesional tidak hanya soal sport, tapi juga entertainment bussiness. Ali adalah bintang panggung terbaik. Saat ini tidak ada petinju seperti Ali, akibatnya tinju profesional meredup pamornya, bahkan tersaingi dengan ‘martial art’.  Ali melakukan 61 pertarungan dari mulai tanggal 29 Oktober 1960 sampai 11 Desember 1981. Mana dari sekian pertarungan tersebut yang merupakan ‘The Greatest Fight of The Greatest’ ?

Ali Pant

Muhammad Ali’s Greatest Fight, itu suatu judul film produksi HBO yang dirilis tahun 2013. Bukan ‘Rumble in The Jungle’ dengan George Foreman atau “Thrilla in Manilla” dengan Joe ‘smokin’ Frazier, tetapi pertarungan Ali dalam mempertahankan keyakinannya untuk tidak mengikuti wajib militer di Vietnam, yang sampai mengorbankan karirnya di masa yang seharusnya menjadi ‘golden age’ 25 – 29 tahun, mulai Maret 1967 – Oktober 1970. Ali memeluk agama Islam segera setelah merebut gelar juara dunia dari Sonny Liston pada tahun 1964, dan secara pribadi menurut pemahaman agamanya, menolak wajib militer.  Publik Amerika langsung mencemooh, dan mencap Ali sebagai pengecut dan menggunakan dalih agama untuk menghindar dari tugas negara. Ijin tinjunya dicabut, dan Ali diseret ke pengadilan, dan dijatuhi hukuman 5 tahun penjara dan denda US$ 10.000. Salah satu pertimbangannya, kalau sampai seorang warga negara Amerika bisa menghindar dari wajib militer karena keyakinannya, bagaimana kalau nanti yang lain berbondong-bondong ikut menolak juga ? Ali memang tidak sampai di penjara karena membayar jaminan, namun Ali terus berjuang dengan ‘Unbreakable Spirit’ untuk mempertahankan keyakinannya dan melakukan banding.

Ali Book

Setelah perjuangan yang melelahkan di sistem peradilan Amerika,akhirnya banding Ali sampai ke Mahkamah Agung Amerika.  Salah satu pengacara magang dari hakim agung Amerika, Kevin Connoly menemukan suatu celah hukum yang dapat mendukung klaim Ali tersebut. Connoly lalu menyampaikan hal tersebut pada hakim agung Justice Harlan, dan lalu membawa opini tersebut pada perdebatan dengan 9 hakim agung Amerika. Ketua Mahkamah Agung Amerika saat itu Warren Burger yang sangat konservatif, menentang keras gagasan tersebut. Namun di Amerika menjelang tahun 1970an, terjadi pergeseran opini publik yang justru menentang perang Vietnam. Ali yang tadinya dicemooh, berbalik jadi ikon. Ijin bertinjunya diaktifkan kembali, walau tanpa menunggu keputusan MA Amerika.

ali

Ali kembali ke gelanggang tinju, namun dengan kehilangan banyak insting hebat di masa awalnya. Ali sempat menantang Joe Frazier tahun 1971, namun dihajar dengan pukulan telak sampai roboh di ronde ke 15. Suatu masa yang sangat berat….. Di MA Amerika pun, masalah Ali ini sampai menimbulkan baku pukul dari para pengacara magang hakim agung dalam mempertahankan pendapat. Namun akhirnya hakim agung Justice Harlan berhasil meyakinkan hakim agung lain untuk mendukung Ali, sehingga ketua MA Warren Burger tak berdaya. Harus ada ‘unanomous decision’ untuk membatalkan keputusan bersalah pengadilan yang lebih rendah. Skor 8 – 0 , Ali bebas !, tapi siapa hakim agung yang tidak ikut memutuskan ?. Tragisnya justru satu-satunya hakim agung yang Afro-Amerika !  Selanjutnya dengan penuh perjuangan berat, dengan ‘Unbreakable Spirit’, akhirnya Ali mencapai kejayaannya.

‘The next Greatest Fight of the Greatest’ jelas adalah perjuangan hidup matinya melawan penyakit Parkinson. Salah satu penyebab penyakit ini adalah seringnya mengalami trauma pukulan, seperti dalam olahraga tinju. Gaya bertinju Ali sangat berbeda dengan Mike Tyson, dimana yang terakhir ini prinsipnya habisi lawan secepat mungkin. Ali sadar betul tinju profesional adalah bussiness entertainment. Barangkali hanya sekali saja Ali menghabisi lawannya pada ronde pertama, yaitu di pertarungan ulang dengan Sonny Liston Mei 1965, dengan menggunakan teknik pukulan tak terlihat saking cepat dan kerasnya (phantom punch).

Selanjutnya Ali mengembangkan berbagai gaya yang sangat menghibur : ‘dancing with jab’, ‘rope a dope’, ‘fly like butterfly and sting like bee’. Keyakinan akan cara bertanding menghibur ini menyebabkan Ali menerima banyak pukulan dahsyat di kepalanya. Tahun 1977, dokternya Ferdie Pacheco sudah mengingatkan akan gejala penyakit ini, dan meminta kepada pelatih Ali, Angelo Dundee untuk menyuruhnya mengundurkan diri. Ali beberapa kali mengundurkan diri, namun maju lagi, maju lagi. Apakah ini karena uang ?. Ali sudah kaya dan cukup mahir menjaga investasinya.  ‘Unbreakable Spirit’ untuk menghiburlah jawabannya.

ali punch

 

Pertarungannya dengan juara tak terkalahkan pada masa itu, Larry Holmes pada Oktober 1980, adalah pertarungan yang tidak mungkin dimenangkannya, tapi Ali tetap menginginkannya untuk menghibur dan meramaikan tinju profesional yang dicintainya. Ali babak belur dihajar Holmes, Dundee lempar handuk putih di ronde 11, dan pertarungan inilah yang dianalisis sebagai penyebab utama parahnya penyakit Parkinson yang diderita Ali.

36 tahun Ali berjuang melawan Parkinson sebelum menghadap yang maha kuasa. ‘Unbreakable Spirit’ Ali sudah menjadi ikon Amerika dan dunia. Pada masa itu walau Ali sudah semakin tidak bisa berbuat apa-apa, namun seluruh dunia antri meminta Ali untuk sekedar hadir dalam acara-acara mereka. Lihatlah sosok Ali di acara-acara tersebut, paras muka dan sorot matanya menunjukkan bahwa “Parkinson tidak bisa mengalahkan Unbreakable Spirit Ali”

Pemakaman akan dilaksanakan di Louisville, yang rencananya akan dipimpin oleh cendekiawan dan Imam California  Zaid Shakir, seperti yang diutarakan di Ali Center. Imam Zaid Shakir juga mengatakan bahwa semua komunitas dan semua bangsa dapat ikut dalam episode terakhir dari  Muhammad Ali….

Selamat jalan The Greatest…….

‘Unbreakable Spirit’ mu akan selalu menjadi inspirasi bagi Indonesia XYZ gen.

ali 1942-2016

 

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN