Bung Karno Membuat Kita Menjadi Satu Bangsa

Untuk foto resolusi tinggi klik gambar ini

Kitanesia-Di peringatan Hari Kelahiran Pancasila setiap 1 Juni, anak muda harus belajar tentang Bung Karno, pendiri bangsa kita. Di masa lalu tokoh pemersatu seperti Bung Karno sudah mulai berpidato, menulis, dan meyakinkan bahwa kita, dalam satu bangsa besar ini, sejak mereka masih pemuda. Bung Karno bekerja keras membuat kita semua menjadi satu bangsa, yang merupakan saudara satu sama yang lain. Maka disusunlah perlakuan yang sama, karena semangat bahwa kita satu saudara tadi. Setiap warga negara memperoleh jaminan status yang sama di depan hukum. Semua berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Semua berhak memperoleh pelayanan pendidikan. Kelompok-kelompok miskin dan anak-anak telantar dijamin oleh negara. Setiap warga berarti semua rakyat Indonesia, termasuk warga desa-desa di seluruh nusantara.

Siapapun pasti memiliki keterkaitan dengan desa. Mungkin ayah-ibu, kakek-nenek atau para buyut kita dilahirkan nun jauh di sebuah desa di kaki gunung Sinabung atau Ciremai atau Semeru. Urbanisasi kemudian melahirkan generasi kota yang hanya mengenal desa di saat mudik lebaran atau natal. Namun kembali pada janji Bung Karno, tak peduli rakyat desa atau generasi kota, semua warganegara harus mendapatkan hak-hak dasar mereka dengan perlakuan yang sama. Dalam kebijakan Jokowi hal ini dirumuskan melalui kebijakan untuk membangun Indonesia dari pinggiran dan desa.

Bung Karno tahu akan janji ini. Beliau ikut memberi arah dan jiwa konstitusi meskipun konstitusi dirumus oleh para tokoh lain. Beliau selalu berada di garis depan. Kelompok tersingkir tak boleh ada. Kelompok terbuang harus diakomodasi di dalam sistem yang nyaman. Orang-orang telantar harus dibikin tak telantar, karena negara memiliki semangat mewadahi mereka. Semangat ini diteruskan dan dihidupkan kembali dengan gaya dan cara berbeda oleh Presiden Jokowi melalui Nawacita.

Seperti halnya our founding father, Presiden kita saat ini, Jokowi, melalui Nawacita mengajak seluruh elemen bangsa untuk bergandengan tangan. Bahu-membahu membangun Indonesia. Butir ke sembilan Nawacita jelas menegaskan hal ini, yaitu dengan ajakan untuk memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia. Memperteguh kebhinekaan adalah fondasi bagi seluruh elemen bangsa tanpa membedakan suku, agama, ras, pilihan politik, status sosial-ekonomi dan gender, untuk bisa hidup bergandengan-tangan.

Banyak kelompok anak muda di Jakarta membuktikan bahwa mereka adalah generasi muda yang menghargai kesetaraan dan keberagaman. Salah satunya bahkan ada yang mengajak kelompok penyandang disabilitas dan masyarakat umum untuk berinteraksi di ruang publik dalam acara sederhana yang mereka namakan Holding Hands Movement. Sebuah gerakan untuk mengajak bergandengan-tangan antara penyandang disabilitas dan non disabilitas. Tujuannya sederhana, yaitu agar saling mengenal lebih baik sehingga tidak terjadi salah persepsi dan bisa memahami dengan benar dan proporsional satu sama lain.

Itu hanyalah salah satu contoh di antara ribuan gerakan yang dilakukan anak-anak muda di berbagai bidang yang membanggakan bangsa Indonesia. Namun berbakti pada bangsa dan negara bukanlah tindakan sesaat dan sesekali. Inilah yang masih harus dicamkan oleh generasi muda. Tindakan dan perbuatan untuk memajukan bangsa, untuk berkontribusi membangun bangsa adalah cita-cita yang harus diperjuangkan setiap saat. Pesan ini yang selalu disampaikan Bung Karno dan harus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi melalui Pancasila.

(KitaR)

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN