Bali Menjadi Tuan Rumah Interhash 2016, Olahraga Cross Country Kelas Dunia

Kitanesia, Jakarta – Bali kembali menjadi tuan rumah penyelenggaraan Interhash 19-22 Mei 2016, kejuaraan olahraga lintas alam yang menggabungkan lari, menyusuri sungai serta naik gunung. Peserta akan disuguhi dengan karya alam yang ada di Bali, sedangkan daerah yang dilintasi adalah Tabanan, Badung, Gianyar, Bangli dan Denpasar.

“Awalnya target kami hanya 5.000 wisatawan. Saat update terakhir 3 Mei 2016, yang sudah mendaftar sampai 6.000. Kami akan sambut mereka dengan sebaik-baiknya,” ujar Deputi Pengembangan Pemasaran Nusantara Esthy Reko Astuty.

“Even ini rutin digelar setiap dua tahun sekali. Skalanya internasional. Lokasinya selalu berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain. Tuan rumahnya ditentukan lewat bidding tahun lalu di Tiongkok. Dan Bali memenangkan bidding tersebut,” ujarnya.

Interhash sendiri adalah even Internasional yang memiliki potensi mendatangkan wisatawan. Ukuranya adalah komunitas pencinta alam (hasher)yang sudah menyebar di 100 negara. Apalagi, even ini sudah rutin digelar sejak 1978.

Sebelumnya pada tanggal 10- 17 mei 2016, 200 peserta telah diajak berkeliling ke beberapa kota di Indonesia,Bandung, Surabaya,Banyuwangi serta Malang acara ini dinamakan The Great Java Train Rumble, berupa kegiatan perjalanan pariwisata menggunakan kereta api berkeliling pulau Jawa.

Sementara itu Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan “Bali paling cocok untuk kegiatan seperti ini, karena 3A (akses, amenitas dan atraksi) nya paling lengkap dibandingkan dengan daerah lain, karena pesertanya jumlahnya ribuan,” jelas Arief Yahya,  sifat kejuaraan dari event Interhash ini merupakan gabungan olahraga dan rekreasi, bukan sport tourism yang melombakan peserta untuk mencari juara atau prestasi tercepat.

Banyak tempat potensial di Indonesia yang cocok untuk olahraga cross country semacam ini tetapi tidak banyak yang lengkap 3A itu, sehingga bisa merepotkan peserta. “Jika sudah terkesan dengan aktivitas pertama ke Bali, tersentuh dengan budayanya, mereka berpotensi untuk datang kembali berwisata ke Indonesia,” paparnya.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN