Blusukan adalah Sebuah Kesederhanaan

Untuk foto resolusi tinggi klik gambar ini

Kitanesia – Spontanitas Jokowi bagi kebanyakan orang terasa mengejutkan. Sebuah sifat  genuine yang barangkali berakar jauh dari dalam keluarga dan pendidikan semasa sekolah.

Baru kali ini lihat Presiden belanja sendiri tanpa pengawalan ketat dan wahh… My Best President JOKOWI,” tulis Tjan Andry dalam keterangan foto yang diunggah di akun Facebook-nya.

Teman Tjan Andry di Facebook juga langsung memberikan beragam tanggapan terhadap foto tersebut.

Gile bnr2pemimpin yg patut diteladani, tdk sombong ap lg wahhhhh…..tdk pernah ad kek na presiden indo yg kek bgn, bgt sederhana&merakyat.i lope u poooooolllll pak jikowi,” kata pemilik akun Yenny Chandra.

Apa yang dilakukan oleh orang nomor satu di Indonesia ini, pada Minggu 29/5/2016 di Harco Mangga Dua, Jakarta, agaknya masih mengejutkan banyak orang. Meskipun dalam berbagai kesempatan, entah sedang melakukan kunjungan kerja atau bersepeda pagi, Jokowi kerap tiba-tiba berhenti untuk menyapa warga atau berbelanja.

Gaya Jokowi tersebut juga tidak muncul tiba-tiba. Boleh dikata, hal itu merupakan sifat nya semenjak menjabat sebagai Walikota Solo, Gubernur  DKI Jakarta, dan kini Presiden RI. Masih ingat ketika menjadi Gubernur DKI, ketika tanpa sungkan-sungkan, ia turun ke gorong-gorong memeriksa apakah ada sumbatan di sana. Atau tatkala ia berjalan diantara abu bekas kebakaran hutan seorang diri. Saat itu, sebagai seorang rimbawan, pasti paham betul bagaimana kebakaran hutan telah merusak ekosistem.

Ia juga tak kikuk menyambangi pedagang durian, memilihnya dengan mencium kulitnya dalam sebuah kunjungan kerja di Kalimantan. Atau saat di Mataram, Lombok, ia mendatangi pedagang jagung bakar, menanti dengan sabar, dan lantas menikmati sajian sambil duduk di kursi seadanya. Saat bersepeda pagi  di Bogor, ia mampir ke pasar Bogor membeli wortel untuk pakan rusa di Kebun Raya Bogor.

Melalui interaksi itu, rupanya Presiden ke-7 ini ingin mengetahui secara langsung kondisi masyarakat di berbagai daerah. Baginya, interaksi itu menggambarkan secara  situasi riil tanpa “pencemaran”.

Rasanya benar, apa yang selalu ia katakan, masalah ada di lapangan, bukan di belakang meja. Maka, baginya, blusukan, adalah cara yang tepat untuk menemukan masalah tanpa bias. Dan tak berhenti pada blusukan semata, Jokowi menggunakan temuan  blusukan untuk memecahkan masalah.

Gambaran kesederhanaan Jokowi memunculkan sebersit pertanyaan. Darimana benih-benih kesederhanaan itu berasal? Kita hanya bisa menduga, barangkali dari tengah keluarga, dimana Jokowi dibesarkan dari  lingkungan yang bersahaja yang menghargai nilai kerja keras. Mungkin saja hasil dididik UGM, khususnya Fakultas Kehutanan, dimana hutan tumbuh umumnya di dekat  pemukiman masyarakat jelata.

Bahasa tubuh, cara berpakaian, dan tindak-tanduk Jokowi ketika berkomunikasi masyarakat biasa menunjukkan kalau, ia benar-benar peduli dan ingin menyelesaikan persoalan yang membelit orang kebanyakan.

Di tengah perilaku kebanyakan pejabat yang masih suka  pamer kuasa, kesederhanan Jokowi bisa menjadi oase menyejukkan. “Sangat baik, pemimpin harus melayani rakyat,” tandasnya dalam sebuah kesempatan.

*(KitaIS)

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN