Bupati Abdul Fahmi Ingin Jadikan Raja Ampat Maldivesnya Indonesia

KITANESIA, RAJA AMPAT – Ada keinginan yang meledak-ledak dari Bupati Raja Ampat Abdul Faris Umlati SE untuk menjadikan destinasi wisata baharinya menjadi terhebat di dunia. Go Digital bersama Kemenpar dan ITX, di Kota Waisai, 2-3 Maret 2017 itu semakin mempertebal keyakinan dan semangat untuk mewujudkannya.

“Kami ingin bechmark dengan Maldives, kami ingin belajar dari sukses mereka. Sampai-sampai selalu menjadi langganan Raja Salman dan keluarganya berlibur. Wisatawan Eropa dan Amerika juga sangat mendominasi di sana,” kata Bupati Raja Ampat Abdul Faris Umlati, di Waisai, Sabtu, 4 Maret 2017.

Menurut dia, potensi alam dan bahari Raja Ampat tidak kalah. Destinasi underwater Raja Ampat hampir tidak pernah kalah dari negara manapun di dunia. CNN travel dan TripAdvisor selalu menempatian Raja Ampat sebagai the best dive site, the best snorkel site yang meyakinkan. Bahkan, mengalahkan Maldives, Galapagos, Okinawa, Cebu, Red Sea dan ikon-ikon wisata bawah laut lainnya.

Karena itu, ketika Kemenpar melaunching program Go Digital Be The Best, Kadispar Raja Ampat Yusdi Lamatenggo pun langsung mengajukan waktu. Sempat tertunda tiga kali, akhirnya terlaksana di 2-3 Maret itu.

Bupati Abdul Fahmi Ingin Jadikan Raja Amoat Maldivesnya Indonesia 1

“Kami sadar, digitalisasi industri pariwisata di Raja Ampat ini adalah step menuju global standar, agar destinasi kebanggaan Indonesia ini bisa terangkat di global market,” ujar Yusdi Lamatenggo.

Raja Ampat yang berjuluk Caribbean van Papua itu memiliki 610 pulau, termasuk Waigeo, di mana ibu kota Waisai berada. Ada 4 pulau besarnya, Waigeo, Misool, Salawati dan Batanta. Hanya 35 pulau yang berpenghuni, lainnya kecil-kecil, belum punya nama, dan rata-rata tidak ada sumber matanair tawar.

Rata-rata pulau-pulau itu adalah batu karang, tetapi di atasnya ditumbuhi banyak pepohonan hijau. Termasuk di Wayag, satu bukit tertinggi tempat mengambil gambar dari ketinggian melihat panorama pulau-pulau yang mirip ujung tumpeng, dikelilingi lautan hijau tosca, perpaduan antara jernihnya air laut, birunya refleksi langit, dan putihnya pasir yang berasal dari kikisan batu karang.

“Naik ke atas bukit Wayag itu perjuangan banget, adventure sekali, tidak ada jalan khusus, seperti di Piaynemo yang sudah dibuat tangga kayu sampai ke puncak. Wayag ini harus climbing hingga 70 derajad, karena itu kalau sukses sampai di puncak, panoramanya wow, sulit dicari bandinganya di seluruh dunia,” aku Rizki Handayani, Asdep Pengembangan Pemasaran Mancanegara Wilayah ASEAN yang sukses sampai di atas.

Pergerakan kapal menyusuri bukit-bukit diantara laut sempit yang airnya tenang, juga sensasi tersendiri. Sedikit salah navigasi, bisa tertabrak batu karang, seperti yang menimpa Cruise Caledonia Sky dari UK, Sabtu 4 Maret 2017.

“Tim crisis center langsung bergerak, dan tengah malam sudah berhasil di evakuasi, menunggu air pasang. Cruise itu berisi 100 wisman dari Jayapura, Raja Ampat, Bitung, penumpang aman semua, tinggal melihat kerusakan alamnya,” kata Yusdi.

Menpar Arief Yahya menyebut jika ingin sukses 50% kuncinya ada di CEO Commitment, atau komitmen kepala daerahnya. Keseriusan dari Bupati, Walikota, atau Gubernurnya untuk membangun pariwisatanya. Dia mencontohkan, Banyuwangi dengan Bupati Abdullah Azwar Anas, sekarang maju pesat dan pariwisata menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat.

Arief Yahya juga mencontohkan Gubernur Sulut Olly Dondokambey, yang membuat Manado hebat. Juga Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, yang membangun taman Sri Baduga, air mancur menari terbesar se Asia Tenggara.

“Raja Ampat potensinya luar biasa, juara dunia, atraksinya oke. Tinggal memikirkan akses dan amenitas, agar standar dunia,” jelas Arief Yahya.

Yang pasti, Menpar Arief Yahya yang sudah pernah di Waisei bersama Presiden Joko Widodo, 31 Desember 2015 lalu itu pasti akan mensupport daerah yang sungguh-sungguh akan membangun destinasinya. Ini pula yang membuat Tim Kemenpar diterjunkan untuk Go Digital di Papua. Yakni Samsriyono Nugroho, Stafsus Menpar Bidang IT, Don Kardono Stafsus Menpar Bidang Media dan Komunikasi, dan Rizki Handayani Asdep Pengembangan Pemasaran Mancanegara Wilayah ASEAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN