Cahaya dan Asam Pembunuh Sel Kanker

Sel Kanker Payudara dalam 3 dimensi (Credit: Tom Misteli, Ph.D., and Karen Meaburn, Ph.D./NIH IRP)

Kanker adalah penyakit yang sangat sulit diobati, pengobatannya pun tetap memiliki risiko, antara lain kerusakan dan jaringan sehat disekitar sel kanker.

Riset selalu menjadi harapan bagi Ilmu Medis, Teknologi danIlmu lainnya, berkat riset-riset yang dilakukan tanpa mengenal lelah, biaya dan waktu banyak sekali tercipta harapan-harapan baru. Diluar negeri riset selalu diutamakan baik dari segi fasilitas dan biaya, sehingga tidak aneh kalau kemudian ilmuwan kita (Indonesia) memilih bekerja diluar negeri. Yang berakhir dengan dimilikinya hak paten ciptaan orang “Indonesia” di luar negeri.

Sekarang ini sedang diupayakan untuk menghancurkan sel-sel kanker tanpa merusak jaringan sekitarnya, yaitu dengan menggunakan sorotan cahaya untuk mengaktifkan zat atau partikel kimiawi pada tumor. Menurut para ahli ini adalah prospek yang sangat menjanjikan. Proses ini disebut terapi photodynamic, sebagian besar metode penggunaanya melibatkan pembentukan “oksigen mati” atau memanaskan partikel atau struktur kimia lain pada tumor.

Saat ini para ahli telah menemukan cara untuk membunuh tumor dengan mengubah pH tumor, sehingga tumor tersebut melakukan “bunuh diri” dan hal baik lainnya adalah bahwa tumor tersebut mati tanpa merusak jaringan tubuh sehat disekitarnya.

Pada saat tumor tumbuh di dalam tubuh. Tumor tersebut menciptakan lingkungan asam di sekitar sel tumor, hal Ini menyebabkan pembuluh darah yang terkena mencoba untuk membuang asam tersebut. Ini adalah siasat dari tumor untuk memaksa pembuluh tersebut untuk memproduksi bahan untuk menolak asam tersebut, yang mana bahan tersebut kemudian menjadi nutrisi bagi tumor tersebut hingga dapat berkembang terus dengan subur.

Dalam sebuah percobaan di Universitas Texas di San Antonio (UTSA), seorang Professor Biology Matthew Gdovin membuat sebuah percobaan asam dengan menggunakan metodenya sendiri. Ia menyuntikkan sebuah senyawa kimia yang bernama nitrobenzaldehyde ke dalam tumor serta menyorot tumor tersebut dengan sinar lampu ultraviolet. Hal ini kemudian menyebabkan reaksi kimia bahan tersebut membuat sang tumor menjadi begitu asamnya sehingga tumor tersebut kemudian tidak tahan dan membunuh dirinya sendiri.

Profesor Gdovin juga menggunakan tikus sebagai bahan percobaan, ia mencoba menghentikan tumor agresif yang dikenal sebagai  “triple negative breast cancer”. Percobaan ini memperbesar harapan untuk selamat dari kanker sebesar 2 kali lipat dari sebelumnya.

Walaupun sifat pengobatan tersebut relatif tidak membunuh sel kanker secara langsung, namun teknik ini mempunyai keunggulan tersendiri, yaitu bekerja cepat.

Menurut UTSA Profesor Gdovin mengestimasikan bahwa 95% dari sel kanker dapat dimusnahkan dengan pengobatan selama 2 jam.

Ia juga mengatakan bahwa pengobatan ini sangat menjanjikan bagi penderita yang sudah menjalani terapi radiasi berkepanjangan, atau bagi mereka yang sulit dioperasi karena letak tumornya di area yang sulit, seperti di batang otak, tulang belakang atau pembulu darah.

Profesor Gdovin sekarang sedang bereksperimen dengan kanker yang tidak bereaksi terhadap obat (kebal obat) untuk menyempurnakan metodenya. Karyanya sudah diterbitkan di Journal of Clinical Oncology.

Source: UTSA

*(Kitanesia DN)

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN