Cerber- Gawang Merah Putih (11)

(Episode sebelumnya menceritakan hysteria fans Timnas U-19 setelah memenangkan pertandingan melawan PSS di Maguwoharjo. Mereka histeris melihat Evan, Ilham, Maldini, Muchlis atau Putu dan pemain lain yang mereka kenal berada di sisi lapangan dekat tribun.)

Buah Latihan Keras Tiada Henti

Wajah para penggemar remaja perempuan itu sumringah ketika Ilham menyempatkan diri melambaikan tangan ke arah mereka. Beberapa sampai terlihat berteriak histeris. Begitu juga ketika Evan Dimas atau Muchlis melakukan hal yang sama. Nampak begitu kuat rasa bangga pada diri mereka sebagai penggemar timnas U-19, nampak begitu luar biasa kebanggaan mereka pada para pemain timnas U-19.

Mereka yang di dalam stadion menonton proses latihan timnas mulai dari awal. Mulai dari para pemain berganti sepatu dan memasuki lapangan untuk pengarahan dari coach Indra, coach Nur dan coach lainnya lalu disambung dengan doa. Seusai doa yang biasanya dipimpin oleh Yama, Putu atau Ravi, coach Jarot akan memisahkan diri ke bagian lapangan dimana gawang berada, bersama tiga kiper timnas, Ravi, Awan dan Dicky.

Pada momen itu, para penggemar Ravi pun, terutama para remaja perempuan akan berteriak-teriak dari podium, memanggil-manggilnya: “Ravi, Ravi…, Raviiii!!” Biasanya Ravi membalas dengan senyum dan lambaian tangan sebelum mulai berlatih dengan serius yang membuatnya semakin mendapat dukungan dan applaus dari para penggemar. Latihan kiper di bawah coach Jarot Supriadi selalu membuat Ravi, Awan dan Dicky tak henti-hentinya melompat, menjatuhkan diri, berguling dan terus bergerak menahan bola-bola yang mencoba membobol pertahanan mereka dengan berbagai cara dan strategi.

“Kalian harus selalu siap mengantisipasi berbagai serangan dengan kecepatan dan ketepatan. Insting kiper harus kuat. Kalian tak boleh lengah meskipun gawang dalam keadaan tidak berbahaya,” begitu coach Jarot selalu menekankan pada Ravi, Awan dan Diky.

Lalu coach Jarot memperlihatkan dengan latihan penjaga gawang berlapis. Bergantian Awang, Dicky dan Ravi menjadi penjaga gawang pertama dan kedua. Coach Jarot jadi penyerang yang mencoba membobol gawang. Dan terbukti, ketika penjaga gawang pertama kebobolan, penjaga gawang kedua kerap lengah dan tidak siap mengantisipasi bola yang nyelonong masuk.

Cerber 11-2

Para penggemar Ravi memperhatikan dan menyemangati setiap gerak-gerik idola mereka. Tubuh tinggi tegap Ravi dan wajahnya yang tampan meski basah oleh keringat bercampur belepotan tanah di pipi dan juga rumput di rambutnya, mungkin justru semakin memukau para remaja putri yang menjadi fans beratnya.

“Ini kalau ada pasir di seputar gawang paling gak enak, suka masuk ke kuping dan susah dibersihkan. Mendingan tanah becek sebenarnya, tapi karena becek pas di gawang ya lalu dikasih pasir,” ujar Ravi pada Awan sambil membersihkan rambutnya.

“Bener banget, Vi. Aku juga udah banyak nih kemasukan pasir di kuping kiri,” jawab Awan.

Proses latihan para pemain di tengah lapangan biasanya dibagi menjadi dua atau tiga kelompok, tergantung pada konsep latihan yang ditentukan para coach. Pemain yang memiliki fans berat seperti Ilham, Evan Dimas, Maldini, Hagi, Muchlis, Putu atau Sahrul Kurniawan dan yang lainnya, selalu mendapat sorotan untuk setiap gerak-gerik mereka.

Para fans berat seakan tak mau melepaskan mata mereka dari sosok-sosok idola itu meski sebagian besar tetap mengidolakan Timnas secara keseluruhan. Anak-anak kecil adalah fans berat Timnas secara keseluruhan. Mereka mengagumi semua pemain tanpa kecuali karena dasarnya mereka adalah anak-anak pecinta sepak bola.

“Mereka adalah bibit-bibit pemain yang suatu hari nanti mungkin akan menjadi timnas kebanggaan bangsa. Mereka adalah calon-calon asset bangsa di dunia sepak bola seperti semua pemain Timnas U 19,” ujar Indra Sjafri setiap kali berkisah tentang perjalanan blusukan yang dilakukannya.

Cerber 11-3

Pada masa kecil, para pemain Timnas tak ada bedanya dengan anak-anak itu. Sebagian besar dari keluarga sangat sederhana yang bahkan tak mampu membeli sebuah bola sepak. Hanya kecintaan besar pada sepak bola yang terus menggumpal di dada anak-anak itu.

“Terus mencari bibit-bibit usia dini, mulai 11 tahun ke atas adalah suatu keharusan untuk mengantisipasi tantangan meraih prestasi sepak bola nasional. Jika tidak dilakukan secara berkesinambungan maka kembali kita akan mengalami kesulitan melahirkan timnas usia muda yang bagus,” tambah coach Indra pada beberapa orang wartawan dalam sebuah wawancara sesudah latihan.

(bersambung…)

^^^

 

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN