Cerber- Gawang Merah Putih (12)

(Coach Indra Sjafri menekankan betapa banyak dan tersebar potensi hebat anak muda Indonesia di dunia sepak bola, salah satu bukti nyata yang berhasil ditemukan adalah anak-anak Timnas U19 yang berasal dari berbagai pelosok nusantara…)

Acara Malam Mingguan

Setiap hari, makan malam dimulai tepat pada pukul 19.00. Semua pemain, pelatih dan official harus sudah berada di ruang makan hotel selambatnya 5 menit sebelum waktu makan malam. Pada akhir pekan, makan malam terkadang bisa dimulai lebih awal agar para pemain bisa punya waktu lebih longgar untuk bersantai. Kadang lebih awal 30 menit seperti yang terjadi pada akhir pekan dua minggu sebelum pertandingan  tur nusantara pertama dilangsungkan.

Masih dengan rambut basah, Evan dan Muchlis memasuki memasuki ruang makan. Disusul Ravi, Putu Gede dan Hargianto. Wajah mereka tak tampak letih meski baru selesai latihan yang menguras energi. Mereka duduk di satu meja. Zulfiandi dan Ilham bergabung di meja mereka tak lama kemudian.

Cerber 12-1

“Zul, kamu kapan mau punya pacar?” tanya Hargiyanto iseng.

“Ya, Zul. Banyak cewek tuh sekarang gila-gilain kamu!” sambar Ilham.

“Gila, gila, gila! Zul gilaa! Hahaa!” Ravi ikut menyambar.

“Alaa, kalian ini!” Zul menyergah dengan wajah sebal.

“Hahaha!” Evan tertawa melihat ekspresi wajah Zul.

“Sssttt! Mulai tuh!” Ravi menyergah.

Muhni berdiri dan menyapa para pemain.

“Selamat malam. Semangat, semangat, semangat!” teriaknya lantang.

“Semangat, semangat, semangat!” serentak para pemain menyahut dengan kompak.

“Sebelum makan malam, mari kita berdoa bersama terlebih dulu,” ujar Muhni setelah sapaan semangat.

Selesai berdoa, para pemain langsung berdiri dan mengambil makanan yang tersedia. Beberapa tampak tak berselera meski tetap mengambil makanan yang disajikan di meja prasmanan. Menu makan menjadi persoalan sehari-hari yang bergantian dirasakan hampir semua pemain. Terutama mereka yang biasanya tengah dilanda kerinduan pada rumah.

Di saat kerinduan pada rumah membuat hati jadi galau, kenangan pada masakan rumah atau menu warung dekat rumah menghancurkan selera makan para pemain pada menu yang disajikan. Nikmatnya sambal yang diuleg tangan ibunda, gurihnya santan parutan sendiri atau sedapnya sayur asem ibunda jelas tak bisa tergantikan oleh masakan koki hotel manapun. Tapi kesadaran bahwa harus makan, bahwa tubuh butuh asupan gizi yang memadai agar bisa mengikuti latihan akhirnya memaksa siapapun yang tengah rindu rumah untuk tetap makan.  Saat-saat seperti itu makan bisa menjadi penderitaan serius.

Selesai menyantap makan malam, para pemain menanti pengarahan dan pengumuman dari para pelatih. Malam itu, coach Jarot yang angkat bicara.

“Kalian bebas sampai jam 21.00. Tapi kalau ada yang punya keperluan khusus atau acara khusus, silakan sampaikan sekarang. Kalau tidak ada berarti kalian harus sudah kembali ke hotel jam sembilan. Ada yang mau ijin khusus?”

Hargiyanto mengacungkan tangan.

“Ya, kamu ada acara apa, Hagi?”

“Keluarga saya sedang mengunjungi saya di sini, coach. Saya ijin untuk pergi bersama mereka sampai jam…, emm, kira-kira jam 10an. Bisa, coach?”

“Keluargamu nginap dimana? Mau pergi kemana sama mereka malam ini?” tanya coach Jarot.

“Nginap di rumah pakdhe saya yang ada di sini. Emm, malam ini kami mau nonton adik saya yang sedang bertanding sepak bola di Sleman…,” jelas Hagi.

“Baik, kamu boleh pulang ke hotel jam 11 malam atau bisa juga kamu ikut nginap di rumah pakdhe-mu. Nah, enak kan kalau jelas ijin mau kemana dan mau ngapain? Minta sampai jam 10 saya kasih jam 11. Coba, kurang apa?”

“Makasih, coach,” jawab Hargi.

Para pemain lain pun tertawa mendengar apa yang dikatakan coach Jarot Supriadi. Meski coach Jarot dikenal tegas dan bahkan tak jarang juga galak, namun dalam situasi seperti itu, ia lebih santai dan senang bercanda.

Cerber 12-2

“Siapa lagi?”

Sebelumnya, saat makan siang seusai latihan pagi, Awan, sang penjaga gawang, juga mengacungkan tangan ketika ditanya pertanyaan serupa.

“Saya ijin pulang ke Semarang sampai hari minggu malam, coach,” ujar Awan.

“Kamu tidak usah pulang minggu malam, saya kasih ijin kembali ke sini jam berapa saja yang penting hari senin pagi sudah di sini dan siap latihan. Oke?”

“Makasih, coach,” jawab Awan.

“Baik. Kalau tidak ada lagi yang punya acara khusus atau mau minta ijin untuk keperluan khusus, kalian bisa bubar sekarang. Untuk yang tidak punya acara sebaiknya manfaatkan waktu untuk istirahat malam ini. Selamat malam!” coach Jarot menutup acara makan malam.

Evan, Muchlis, Ilham, Hansamu Yama dan Ravi Murdianto sebenarnya tidak punya acara khusus malam itu dan mereka berencana santai-santai saja di hotel, namun rencana untuk bersantai itu tidak bisa terlaksana. Maldini Pali juga tadinya tidak punya rencana atau acara apapun malam itu, namun ia juga tak bisa mewujudkan rencananya.

 

 

1 KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN