Cerber – Gawang Merah Putih (3)

(Cerita sebelumnya tentang hari-hari Putu Gede Juni Antara kecil yang muncul di benaknya saat menjelang pertandingan di lapangan Maguwoharjo. Di depan Putu, sosok tinggi-tegap Ravi Murdianto, sang penjaga gawang Timnas U 19. Bagian berikut berkisah tentang Ravi kecil)

Di depan Putu, Ravi Murdianto, sang penjaga gawang U 19, melangkah tegap dan gagah. Tubuhnya menjulang tinggi seperti tugu yang kokoh dan tak tergoyahkan oleh badai puting beliung. Langkahnya tanpa keraguan. Tatapannya tajam dan fokus. Selalu siap menyergap, menahan, menangkis dan menangkap setiap bola yang meluncur deras menyerang gawang merah putih yang dijaganya dengan sepenuh hati. Ravi juga selalu menebar senyum dan membuat para remaja perempuan penggemarnya langsung meneriakkan namanya dengan histeris.

“Raviii…, Raviii…..”

cerber image 1

Tujuh tahun silam Ravi tak pernah membayangkan hidupnya seperti ini. Tujuh tahun silam, juga di suatu malam selepas maghrib, saat Ravi berusia 12 tahun, ia memang telah menjejakan kaki tanpa menyerah sepanjang pinggiran jalan raya antara Semarang – Grobogan. Ia lelah tapi tak menyerah dan terus melangkahkan kakinya. Tak ada uang di sakunya. Tak ada handphone di tangannya. Ia ingin memberi tahu ibunya tapi tak tahu harus bagaimana. Ia hanya ingin memberi tahu bahwa ia baik-baik saja dan sedang berjalan pulang. Ravi tahu pasti ibunda tersayang mencemaskan dirinya saat itu.

Sore itu, seusai sebuah pertandingan, Ravi terpaksa pulang jalan kaki dari Terminal Penggaron, Semarang menuju rumahnya di Tegowanu. Ia seharusnya pulang bersama beberapa temannya, tapi keramaian dan keriuhan seusai pertandingan membuat Ravi terpencar dari teman-temannya. Uang ongkos dari ibunya yang sangat sedikit sudah habis untuk jajan. Tak ada lagi uang sepeserpun di tangannya. Bapak-ibunya memang tak pernah punya uang lebih untuk uang saku dan ongkos Ravi. Saat berangkat ia bilang pada ayahnya tak usah dijemput karena berpikir akan pulang bersama temannya naik bis.

Meski beberapa lama bingung dan panik, namun Ravi berusaha segera menenangkan diri dan fokus. Ia hanya tahu, ia harus tetap tenang agar bisa mengatasi keadaan. Ia masih berpikir dan berharap ayahnya akan datang menjemput di saat-saat kepanikan itu menyergapnya. Ia berharap ayahnya tetap menjemput walau ia tak minta dijemput. Bis terakhir dari terminal Penggaron ke desanya, Tegowanu, berangkat dari terminal Penggaron pukul tujuh malam. Itu sudah bis paling akhir. Dan saat Ravi bingung dan panik, waktu sudah hampir pukul tujuh malam. Selain tak ada uang, kini bis pun sudah tak ada. Terminal sudah mulai sepi.

Sesaat kemudian, Ravi akhirnya mulai bisa menenangkan diri dan berpikir keras mencari jalan keluar dari keadaan yang tak diduganya. Sama halnya ketika menghadapi setiap serangan ke gawang, Ravi tahu betul ketenangan sangat penting untuk menjaga gawangnya dari serangan-serangan hebat. Tanpa ketenangan, gawangnya akan mudah dijebol tendangan-tendangan keras, tajam dan bahkan seringkali sama sekali tak terduga. Saat itu ia hanya seorang bocah cilik kelas enam SD yang belum pernah berhadapan dengan keadaan buntu seperti itu.

Ravi tidak menyerah. Pikirannya yang masih bocah boleh jadi kacau, tapi Ravi bisa mengambil satu keputusan dan membulatkan tekad untuk menjalankannya. Tekadnya membaja untuk selalu berjuang. Langit di atas terminal Penggaron yang semakin gelap tak boleh membuat nyalinya jadi ciut.
cerber image 2

“Ravi memang anak bungsu, tapi ia tidak seperti anak bungsu umumnya yang biasanya manja. Ravi tidak manja dan selalu berusaha mandiri dari kecil,” tutur Murminah, sang bunda.

Ravi memutuskan untuk pulang berjalan kaki. Apapun caranya, ia harus bisa pulang. Harus bisa sampai rumah. Seperti saat menangkap bola yang menyerang gawangnya, apapun cara, ia harus bisa menangkap bola itu atau menghalaunya jauh-jauh dari gawang. Tak peduli ia harus melompat setinggi apapun dan terjatuh sekeras apapun, ia harus bisa menangkis serangan bola dari tendangan-tendangan pemain lawan. Tak peduli ia harus berguling-guling dan bertabrakan keras dengan kaki-kaki kokoh para pemain lawan, ia harus bisa menghalau bola jauh-jauh dari gawang.

Tekad yang membaja. Itu sesuatu yang mengakar di hati Ravi sejak ia masih bocah kecil. Ia dikarunia tekad kuat di hati dan jiwanya oleh Sang Pencipta seperti ia dikarunia tubuh tinggi besar dan wajah menawan meski lahir sebagai anak desa di Grobokan, Jawa Tengah. Itu modal awalnya menuju kiprahnya menjaga gawang merah-putih… (bersambung)

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN