Cerber – Gawang Merah Putih ( 4 )

  1. Cerber Gawang Merah Putih 4

(Cerita sebelumnya Ravi kecil tertinggal seusai sebuah pertandingan sepak bola dan tak tahu arah jalan pulang. Tapi ia bertekad dan yakin bisa pulang jalan kaki dan sampai ke rumahnya dengan selamat. Berikut kelanjutan kisahnya).

Jarak antara terminal Penggaron ke rumah Ravi Murdianto sekitar 20 kilometer. Selain di daerah sekitar pasar Mranggan, jalanan menuju Purwodadi dan Solo itu, sepi sejauh mata memandang. Pusat keramaian hanya di pasar Mranggan, tapi itupun tidak lagi ramai ketika hari sudah menjelang malam. Seperti pasar lainnya, pasar Mranggan hanya ramai dari pagi sampai siang hari. Sekitar pukul tiga sore, pasar sudah mulai sepi. Satu-satunya angkutan hanya bis kecil yang juga tak ada lagi setelah pukul tujuh malam.

Di rumahnya, Yanto, sang ayah didesak Mur, ibunda Ravi, untuk segera mencari lagi anaknya dari Stadion Sidodadi yang menjadi markas SSB Tugumuda. Yanto diminta terus mencari lagi Ravi di sepanjang jalan.

“Cari lagi, Pak. Ini sudah malam sekali! Kenapa Bapak nggak jemput sih tadii? Aduuhh, aku takut Ravi nyasar…!”

“Tenang, Bu. Aku cari lagi sekarang. Tenang ya, pasti nanti ketemu,” ujar ayah Ravi sambil bergegas pergi.

Akhirnya ketika malam semakin beranjak larut, sang ayah dan Galih, kakak Ravi, samar-samar melihat sosok yang mereka kenal. Dari kejauhan mereka melihat seorang bocah tengah berjalan sendirian. Ya, akhirnya mereka menemukan Ravi tengah berjalan memasuki Masjid Mranggen.

“Ayah, itu seperti Ravi!” seru Galih.

“Ya, sepertinya memang Ravi, Lih!”

Betapa lega dan terharu sang ayah, ia melihat Ravi berjalan perlahan lalu duduk dengan wajah begitu lelah di halaman masjid.cerber4
Ravi mulai mengukir jejak langkahnya setapak demi setapak dengan tekad bulat dan semangat tak tergoyahkan sejak ia masih bocah cilik di kampungnya, Tegowanu di daerah Grobogan. Ibunya seorang penjual nasi di sebuah warung kecil tempat mangkal ojek di desanya. Nama Ravi sendiri diberikan pada anak bungsu dari empat bersaudara ini karena ayahnya penggemar film India dan Ravi Shankar adalah bintang favorit sang ayah. Sedangkan Murdianto adalah gabungan nama ibu dan ayahnya.

“Penghasilan dari jualan nasi hanya cukup untuk makan saja. Tapi Ravi mengerti dan bisa menerima keadaan. Saya justru sedih kalau tidak bisa mendukung bakat Ravi bermain sepakbola,” tutur Murminah, sang Ibu.

Hati seorang ibu sejati kerap justru dimiliki orang-orang sederhana yang hidup dalam kesulitan. Murminah hanya seorang perempuan desa yang sederhana, namun hatinya dipenuhi kasih sayang tulus yang siap mengorbankan apapun untuk mendukung anak-anaknya. Ia tak paham sepakbola, ia hanya tahu Ravi sangat menyukai sepak bola dan ingin menjadi seorang pemain sepak bola. Ia tak memikirkan apakah Ravi akan menjadi penjaga gawang atau gelandang atau beck. Ia tak mengerti. Ia hanya tahu ia harus bisa mendukung cita-cita anaknya.

Ravi Murdianto sejak kecil suka sepak bola. Saat kelas dua Sekolah Dasar, ia sudah belajar sepak bola di SSB Putra Bersemi di Kecamatan Tegowano. Saat itu, Ravi belum menjadi seorang kiper melainkan gelandang dan striker. Sejak kelas IV, Ravi kemudian pindah posisi menjadi kiper karena postur tubuhnya yang tinggi. Dibawah arahan pelatih Erwin, Ravi kecil mulai belajar menangkap bola.

Melihat kemampuan Ravi yang terus berkembang, Murminah kemudian memindahkan Ravi ke SSB Tugumuda Semarang saat Ravi kelas IV untuk mendapatkan pelatihan yang lebih baik.

Keputusan ini cukup sukses, saat kelas 2 SMP, Ravi berhasil lolos seleksi Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pelajar (PPLP) Jateng atau sering disebut diklat Salatiga. Di Salatiga, kemampuannya terus diasah, refleknya semakin baik. Dua tahun kemudian atau tepatnya ketika kelas dua SMA Ravi ditarik untuk masuk ke Diklat Ragunan.

”Waktu itu ada senior saya namanya Yosep. Ia memberi informasi kepada pelatih Diklat Ragunan kalau di Diklat Salatiga ada kiper. Dari situ saya diminta mengirim identitas, dan akhirnya bisa masuk ke diklat Ragunan,” kenang Ravi.

Dari Diklat Ragunan nama Ravi Murdianto semakin moncer. Ia lolos seleksi masuk timnas U-17, U-18 dan U-19. Di bawah bendera Timnas U-17, Ravi turut mengantarkan Indonesia menjuarai turnamen pelajar di Hongkong sebagai penjaga gawang merah putih. Di diklat Ragunan itulah, Ravi bertemu dan kemudian bersahabat dengan Putu Gede Juni Antara.

cerber4 b

Itulah jejak sepatu pertama Ravi di lapangan hijau tingkat nasional. Sebuah jejak sepatu yang akan membawa hidupnya untuk menjaga gawang merah-putih… (bersambung)

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN