Cerber Gawang Merah Putih (5)

Cerber Gawang Merah Putih 5

(Cerita sebelumnya berkisah tentang sekilas latar masa kecil sang kiper Timnas U 19, Ravi Murdianto sampai ia berhasil masuk ke Pelatnas Ragunan dan menggembleng dirinya sebagai kiper yang hebat. Bagian berikut akan berkisah tentang sang Kapten Timnas U 19)

Evan, Sang Kapten

Di lapangan hijau, ia berperan sebagai gelandang yang membuat lawan-lawannya kerap tak berdaya. Meski posturnya mungil, daya jelajahnya sangat tinggi. Tubuh kecil itu menyimpan kekuatan rakyat kecil dan orang pinggiran yang besar. Tak hanya itu, kaki kiri dan kanannya juga ‘hidup’. Itulah Evan Dimas. Ia juga dikenal sebagai gelandang yang memiliki tenaga ekstra. Semangatnya seperti tak pernah habis untuk mengejar kemenangan tim yang dibelanya.

Mata Evan memejam. Pikirannya kembali pada laga melawan Korea Selatan. Masih terbayang tiga gol yang ia sarangkan ke gawang Negeri Ginseng itu. Semua gol itu bermula dari serangan sektor sayap.

Gol pertama adalah umpan jitu dari Ilham Udin Armayn. Ilham seakan tahu ada dirinya datang dari belakang berusaha menyongsong bola. Umpan tarik yang luar biasa akurat dan shooting jitu yang indah pun ia lesatkan. Gol kedua juga datang dari pergerakan cantik Maldini Pali di sektor sayap kanan lini serang timnas.

Umpan ditarik ke arah dirinya yang berdiri tanpa kawalan di tengah dan ia pun langsung menyelesaikan dengan shooting yang indah. Bola melewati kolong kiper Korea Selatan. Gol ketiga juga datang dari sektor sayap. Ilham Udin berpindah ke kanan dan dengan aksi individu menyodorkan bola ke Mukhlis Hadi Ning yang dengan tumitnya mengumpan kembali ke dirinya. Sebuah eksekusi cantik kembali membobol gawang Korea Selatan.

merahputih2

Sorak sorai menggemuruh di lapangan, dan di dada Evan. Jerih payah selama ini, kerja kerasnya dan teman-teman serta para pelatih, terbayar sudah. Matanya menyapu tribun penonton. Merah putih berkibar di mana-mana, Indonesia Raya terdengar lantang di telinganya.

Dari sudut lain lapangan, para pemain Timnas melaju ke arahnya dan bertubi-tubi memberikan pelukan. Indonesia menang!

Evan Dimas Darmono berjalan mendekati pintu masuk stadion Maguwoharjo di barisan paling depan para pemain. Deretan para penggemar yang memenuhi pintu masuk stadion berusaha menggapai dan menyentuh Evan dengan berbagai cara sambil meneriakkan nama Evan. Di akhir tahun 2013, Evan dan semua pemain pun diserbu para penggemar di kota Batu, tempat ia menjalani training center selama dua bulan sejak bulan November.

Awal tahun mereka lewatkan di kota Batu tanpa perayaan khusus. Bahkan ketika semua orang ramai-ramai merayakan perpindahan tahun 2013 menuju 2014 dengan pesta kembang api dan kemeriahan sepanjang malam, Timnas U19 hanya merayakan ala kadarnya. Tak ada pesta khusus. Seluruh pemain dan pelatih hanya makan malam seperti biasa di resto Hortensia dan bergabung dengan acara yang digelar Hotel Kusuma Agrowisata.

Sebuah panggung didirikan di samping kolam renang, menghadap ke arah Hortensia dan sejumlah artis penyanyi kota Batu mengisi acara dengan lagu-lagu nostalgia ’80-an sampai lagu-lagu Rihanna dan Adelle. Timnas U19 menikmati suguhan lagu-lagu sambil melayani para tamu lain yang tak henti-henti menyalami, meminta tanda tangan, atau foto bersama.

Di antara kerumuman penggemar itu, seorang gadis tampak hilir mudik di depan deretan kamar pemain Timnas. Tubuh mungilnya dibalut T-shirt Timnas U19 warna merah. Sudah dari tadi siang dia kelihatan mondar-mandir di sana. Menjelang sore hari, seusai para pemain latihan dan menjalani terapi es, ia memberanikan diri menyapa dan meminta tanda tangan Evan Dimas dan Ravi. Wajahnya langsung cerah ceria begitu ketiga pemain menggoreskan tanda tangan di punggungnya. Sore itu, tanggal 31 Desember 2013 pun menjadi sore yang indah dalam cerita kehidupan gadis kecil itu. Baginya, Batu sore ini adalah yang paling cerah yang pernah ada.

merahputih

Hari itu, suasana hotel memang jauh lebih ramai sejak pagi hari. Semua kamar terisi penuh.

Coach Indra mendapat kunjungan anak-istrinya untuk bersama merayakan tahun baru 2014. Sebelumnya, coach Jarot Supriadi dan coach Nur Saelan bersamaan mendapat kunjungan anak-istri mereka juga. Dr. Alfan sempat pulang untuk merayakan seremoni tujuh bulan atau dalam tradisi Jawa disebut mitoni kehamilan anak pertama istrinya.

“Lucunya, meskipun saya seorang dokter dan tahu persis bagaimana melakukan persalinan, tapi istri saya tidak mau kalau saya ikut menangani persalinannya nanti. Haha, mungkin takut saya jadi grogi barangkali, ya…,” tutur Dr. Alfan pada Evan.

Hari pertama tahun 2014, Evan dan kawan-kawan sudah kembali berlatih. Tak ada kata bermalas-malas atau libur. Perjuangan masih panjang. Dedikasi dan komitmen harus dibuktikan mulai dari hal-hal kecil. Sepak bola adalah hidup mereka. Sepak bola adalah hati dan jiwa para pelatih dan pemain Timnas U 19. Itulah yang ditanamkan setiap hari oleh para coach pada semua pemain… (bersambung)

 

 

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN