Cerber Gawang Merah Putih (6)

(Cerita sebelumnya bertutur tentang suasana pelatihan Timnas U 19 di Batu, Malang yang menjadi kehidupan sehari-hari Evan Dimas dan semua anggota Timnas U 19 serta tim pelatihnya. Bagian berikut melanjutkan cerita tentang Evan Dimas di pusat pelatihan)

Kado Mungil Untuk Evan

“Perjuangan kita masih panjang. Dedikasi dan komitmen harus dibuktikan mulai dari hal-hal kecil,” pesan Coach Indra. “Sepak bola adalah hidup mereka. Sepak bola adalah hati dan jiwa para pelatih dan pemain Timnas U19,” sambungnya.

Syafri

Para pemain timnas hanya mengangguk dan menyerap pesan itu agar menyatu dalam darah mereka, menjadi pegangan dalam berjuan. Evan sendiri tak mengalami kesulitan untuk menanamkan keyakinan itu jauh di dasar hati dan jiwanya. Itulah memang dirinya. Di lapangan hijau, ia berperan sebagai gelandang yang membuat lawan-lawannya kerap tak berdaya. Meski posturnya mungil, daya jelajahnya sangat tinggi. Tubuh kecil itu menyimpan kekuatan rakyat kecil dan orang pinggiran yang besar. Tak hanya itu, kaki kiri dan kanannya juga ‘hidup’. Ia juga dikenal sebagai gelandang yang memiliki tenaga ekstra. Semangatnya seperti tak pernah habis untuk mengejar kemenangan tim yang dibelanya.

Evan lahir sebagai arek Soroboyo pinggiran, persisnya di daerah Sambi Kerep, sebuah lingkungan orang-orang kecil. Kehidupan keras yang dijalani orang-orang kecil di daerah pinggiran tak jauh dari sebuah pemakaman menjadi lingkungan yang membentuk pribadi Evan. Di kampung yang dijejali rakyat jelata dengan kehidupan serba kekurangan itu, Evan menjadi sebuah nama yang unik.

Di kampung, nama wajib yang lumrah ada biasanya Paijo, Wagimin, Tukiman atau Slamet. Makanya, ketika ada nama Evan muncul, banyak orang bertanya-tanya. Ada yang mencibir, ada yang pingin ikutan. Yah, maklum, nama-nama yang jadi tren sekarang kan, yang sering muncul di sinetron, macam Salsabila, Nabila, Maureen, Ferdinand, atau Kevin.

“Kok namanya bagus banget? Evan? Itu, kan, nama orang-orang kaya …,” kata tetangga Evan.

Yo opo ceritane kok iso ngasih nama Evan?” kata tetangga yang lain, bertanya pada orangtua Evan.

Ibu Evan, Ana, sebenarnya tidak ikut tren apapun saat menamai anaknya Evan. Boro-boro mikir nama, ia sendiri sudah terlalu sibuk dan capek menjadi pembantu rumah tangga lepas untuk menopang hidup mereka.

“Nama Evan itu dari adik saya yang ngasih. Adik saya bilang bahwa bos di tempat dia bekerja juga baru punya anak dan menamai anaknya Evan,” jawab ibu Evan.

Kebo

Karena dirasa bagus dan enak diucapkan, jadilah usulan spontan dari adik ibunya Evan itu diterima. “Kalau nama Dimas, itu baru dari saya sendiri,” tambahnya.

Di rumah mereka yang kecil dan sederhana, tinggal dua keluarga sejak Evan masih bayi. Saking kecilnya rumah mereka, Evan tak pernah punya kamar sampai ia beranjak jadi remaja. Ia tidur bersama ibunya sampai ia SMA. Mau tak mau memang harus begitu, sebab tak ada kamar lain tersisa.

Seorang remaja perempuan nekat menerobos barikade satuan keamanan yang menjaga pintu gerbang masuk stadion Maguwoharjo. Ia memegang erat sebuah kado yang dibungkus rapi dengan kertas warna merah muda penuh dengan gambar hati.

“Mas Evann …!” teriaknya kencang. Ia menerjang barisan keamanan dengan wajah pantang menyerah sekaligus memohon agar diijinkan memberikan kadonya.

“Tolong, Pak …. Saya cuma mau kasih kado ini, pliss …!!” gadis itu menangkupkan kedua tangannya di depan wajah. Petugas aparat keamanan berkumis tebal seperti Indra Sjafri itupun luluh hatinya. Mungkin teringat wajah anaknya sendiri yang memelas ketika merajuk meminta dibelikan handphone baru. Ia lalu membiarkan remaja perempuan itu menerobos dengan gaya pura-pura tidak tahu.

Kado

Gadis itu berjingkrak kegirangan lalu secepat kilat menghampiri Evan. “Ini kado buatmu, Mas Evan,” serunya dengan ekspresi senang sambil ngos-ngosan.

“Makasih,” jawab Evan ramah sambil tersenyum dan menerima kado itu.

Petugas keamanan itu bernama Jumali itu tersenyum simpul. “Ayo, sekarang minggir! Minggir, minggir!” Jumali kembali memasang wajah garang sambil menghalau si remaja perempuan itu kembali ke balik barikade. Sebagai aparat keamanan berpengalaman, ia mampu menahan senyum harunya melihat tekad dan perjuangan remaja perempuan fans berat Evan itu. Wajahnya langsung garang begitu ia mengembalikan remaja itu ke balik barikade. Yang dihalau hanya bisa manyun karena belum puas bertemu idolanya.

Dalam hati Jumali, sebenarnya ia senang karena anak-anak muda Indonesia menjadi penggemar Evan Dimas dan para pemain lain. Buatnya, itu jauh lebih baik daripada anak-anak muda hanya menjadi fans K-Pop atau Justin Bleber. Di balik kumisnya, ia kembali tersenyum. Jika Galuh, anaknya, mendengar dia salah menyebutkan nama penyanyi muda asal Kanada yang lagi naik daun itu, sudah pastilah ia kena semprot…. (bersambung)

 

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN