Cerber- Gawang Merah Putih (7)

 

(Cerita sebelumnya mengisahkan seorang Satpam stadion Maguwoharjo bernama Jumali yang bangga pada Evan Dimas dan semua anggota Timnas U 19. Ia ingin anak semata wayangnya, Galuh ,tidak hanya nge-fans Justin Bieber tapi juga Evan dan kawan-kawan).

Antara Evan dan Justin

Haduh, Jumali selalu salah menyebut Justin Bieber! Selalu saja dipanggilnya penyanyi itu Justin Bleber sampai anak perempuannya, Galuh, marah-marah dan protes keras sebagai salah satu fans Bleber. Eh, Bieber.

Unknown-14

“Ayah ngawur! Nyebelin! Bukan Bleber tauu…! Bieber! Justin Bieber, ayahhh! Be-i-e-be-e-er! Bieber!”

Dan ia tak dapat lagi menahan tawanya setiap kali Galuh protes keras dengan sangat bersungguh-sungguh. Tawanya yang benar-benar karena amat sangat geli membuat sang anak semakin memuncak kejengkelannya.

“Ayaahhhh…!!!”

“Kenapa, nak? Koq marah-marah sama ayah?”

“Grrgghhh…, ayaahhh….!”

Pak Jumali, aparat keamanan itu tanpa sadar tersenyum-senyum sendiri di tengah teriakan-teriakan para penggemar Evan Dimas.

“Jum, ngopo mesam-mesem dhewe?”

Agus, rekan Jumali yang melihat Jumali senyum-senyum sendiri, berbisik agak keras di telinga Jumali.

“Rahasia tho yoo…,” jawab Jumali juga dengan berbisik agak keras.

“Dasar wong gendheng!” sembur Agus jengkel dengan bisikan yang sudah tidak seperti sebuah bisikan lagi.

Jumali hanya cengar-cengir, sama sekali tak peduli pada umpatan rekan kerjanya. Ia makin asyik dengan pikirannya sendiri yang selalu dikatakannya sendiri sebagai pikiran sederhana. Evan Dimas dalam pikirannya yang sederhana adalah sebuah kehebatan yang sederhana.

Tak perlu kehebatan yang luar biasa untuk membuat Jumali mengagumi sesuatu. Dalam pikirannya yang sederhana, justru salah ketika orang mengira kehebatan itu harus luar biasa.

“Hal-hal sederhana justru banyak yang hebat-hebat, Galuh,” ujarnya suatu kali saat asyik ngobrol berdua dengan anaknya.

“Gak ngerti ahh. Ayah ngomongnya bikin bingung ajahh!”

Galuh mengernyitkan keningnya sambil menatap dengan mata membelalak wajah ayahnya.

“Haduhh! Itu lho contohnya si Evan Dimas kapten Timnas U19 yang hebat itu! Dia kan anak muda sederhana saja. Miskin sekali malah. Hidupmu jauh lebih enak dibandingkan Evan. Tapi dalam kesederhaaannya, ia mampu menjadi hebat dengan cara yang sederhana, yaitu fokus pada sepak bola, latihan keras setiap waktu, menolak menyerah dalam keadaan apapun. Jelas, kan? Ngerti, Galuh?”

“Ngerti siihh, tapi… gak juga sihh!!”

“Galuhh!!”

Jumali melotot jengkel dikerjai anak gadisnya yang sudah kelas satu SMA itu. Galuh pun tertawa ngikik seraya kabur ke kamarnya.

“Aku mau belajar dulu, ayaahh. Banyak pe-er nihh!!”

“Belajar yang fokus kayak Evan Dimas main sepak bola!” balas Jumali sebelum pintu kamar anaknya tertutup.

Muchlis Hadining memantapkan langkahnya memasuki lapangan hijau Maguwoharjo yang terang-benderang di bawah lampu sorot stadion ribuan watt. Malam ini ia akan mempersembahkan kemampuannya yang terbaik untuk ayah-ibu dan seluruh keluarga serta seluruh masyarakat Indonesia yang mendukung Timnas U19. Bersama Evan Dimas, Putu Gede Juni Antara, Ravi Mardianto, Sahrul Kurniawan, Zulfiandi dan semua pemain lain, ia yakin akan mampu memberikan yang terbaik.

Semasa kecilnya, Muchlis dilatih oleh orang tua sendiri lantaran tidak mampu membayar biaya masuk mengikuti Sekolah Sepak Bola (SSB). Muchlis kecil pun sehari-hari hanya berlatih di bawah pengawasan sang ayah, Samsul Hadi. Samsul bisa melatih anaknya sendiri karena ia mantan pemain sepakbola di Jawa Timur. Ia adalah mantan stopper tim Assyabab Surabaya, satu angkatan dengan Mustaqim dan Putut Wijanarko. Berbekal pengalaman sebagai pemain bola itulah, Samsul lantas menempa Muchlis cara menggocek, menendang, menyundul, serta mengontrol bola.

Unknown-15

Setelah gantung sepatu, Samsul sempat merintis usaha sebagai pengrajin sepatu di kampung mertuanya, desa Blimbingsari, Kecamatan Sooko, Mojokerto. Usaha Samsul sempat berjaya selama sekitar dua-tiga tahun. Ia bahkan bisa membeli dua buah mobil waktu usahanya berjaya. Muchlis masih bocah balita saat itu. Tapi seperti semua usaha lain yang bisa tiba-tiba saja bangkrut, usaha pengrajin sepatu Samsul pun mengalami nasib itu. Bangkrut.

Samsul yang hati dan jiwanya tak bisa lepas dari sepak bola, akhirnya kembali terpuruk dalam kesulitan ekonomi sementara Muchlis mulai memperlihatkan bakatnya di dunia sepak bola. Beruntung ia dikarunia anak yang bisa mengerti dan menerima keadaan sulit orang tuanya. Beruntung sang anak mewarisi darah sepak bola dari dirinya dan berkembang jauh lebih maju dibandingkan karirnya sendiri.

“Jangan pernah merasa sudah hebat, apalagi merasa paling hebat. Terus belajar dan berlatih dengan disiplin, Chlis!” pesannya kepada putranya.

Nasihat itu sudah membuahkan hasil kini. Muchlis tetap menjadi anak yang terus belajar dan berlatih keras meski sudah menjadi tim kebanggaan bangsa…. (bersambung)

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN