Cerber – Gawang Merah Putih ( 8)

(Dalam cerita sebelumnya dikisahkan sosok Muchlis Hadining dan kilasan-kilasan peristiwa bersama ayahnya yang juga seorang mantan pemain sepak bola Nasional di era tahun 90-an. Bagian ini bercerita tentang keseharian Muhlis, Evan, Putu dan pemain U 19 lain.)

Realitas Pahit-Manis Kehidupan

Muchlis Hadining membaca berita di sebuah koran daerah beberapa waktu setelah berada di Jogjakarta.

Demi menjaga sikap kesederhanaan, pemain timnas U-19, tinggalkan Kota Batu, dengan cara naik Kereta Api (KA) Maliboro Express, dari Stasiun Kota Baru Malang, Jawa Timur.
Para pemain timnas U-19 itu, di Kota Batu mengikuti program pemusatan latihan selama dua bulan. Setelah dari Batu, pemusatan latihan akan dilanjutkan tahap kedua di Yogyakarta. 

illustrasi by kitanesia.co
illustrasi by kitanesia.co

“Naik KA kita ingin mendidik kesederhanaan pada anak-anak,” kata Pelatih Timnas U-19, Indra Sjafri, ditemui di stasiun Kota Baru Malang, Selasa (7/1/2013). Rombongan skuad Garuda Jaya itu, berangkat dari Stasiun Kotabaru Malang, Selasa (7/01/2014), sekira pukul 08.00 WIB.

Evan Dimas dkk naik gerbong eksekutif III. “Saat ini ada 29 pemain yang akan dibawa ke Yogyakarta untuk mengikuti TC tahap kedua. TC tahap pertama di Batu diikuti 40 pemain,” jelas Indra Sjafri. TC di Yogyakarta, kata Indra, akan dimulai pada 8 Januari 2014. “Kita fokus latihan pada pembentukan tim dan skill pemain,” ungkapnya. Saat di Yogyakarta, pemain akan menjalani sebanyak 27 kali ujicoba menjelang keberangkatan ke Myanmar.

“Uji coba yang akan dijalani tim ada empat format, yakni uji coba keliling nusantara, Eropa, Timur Tengah, dan ujicoba kompetisi mini,” katanya. Indra mengaku tetap meminta dukungan semangat dan doa dari rakyat Indonesia. “Semoga Indonesia bisa bermain di piala dunia,” ungkapnya.

Berita itu sudah beberapa kali dibaca Muchlis. Entah kenapa ia menyukai berita itu. Ia tak bosan membacanya sampai beberapa kali. Barangkali karena berita itu bercerita tentang kesederhaan yang sangat mengena dengan kehidupan sederhana yang dijalani keluarganya.

Ayahnya, seorang pemain sepak bola di tahun 1990an yang memiliki totalitas penuh. Namun kehidupan seorang pemain sepak bola pada masa itu sangat tidak menjamin asap dapur mengepul. Hidup untuk sepak bola menjadi sebuah kenyataan hidup yang melingkupi dunia Muchlis sejak ia dilahirkan. Lengkap dengan segala tawa dan tangis yang mengiringi nasib seorang pemain sepak bola di negeri Indonesia nan subur dan gemah ripah loh jinawi ini.

Hidup dalam kesederhanaan karena sang ayah hanya menggantungkan hidup sebagai pemain sepak bola juga menjadi realitas hidup Muchlis sejak tangis pertamanya memecah sunyi di dusun Kangkungan, desa Blimbing sari, Mojokerto. Muchlis lahir di rumah kakek dan neneknya, tempat ayah dan ibunya bernaung dari terik matahari dan derasnya hujan di musim penghujan. Saat itu, tak mungkin bagi ayahnya untuk membeli rumah sendiri sebagai pemain sepak bola.

Mungkin juga karena berita itu meminta dukungan semangat dan doa dari rakyat Indonesia agar Indonesia, yaitu Timnas U19 bisa lolos Piala Dunia usia 20 tahun di Selandia Baru tahun 2015. Muchlis tak tahu persis mengapa ia suka membaca berita itu sampai berkali-kali. Dari ratusan atau bahkan ribuan berita tentang Timnas U19, berita itulah yang dibacanya berulang kali. Berita-berita tentang profil dirinya juga memang dibacanya beberapa kali, tapi tidak sesering berita yang satu itu.

Memang ayahnya sejak ia masih sekolah dasar sampai masuk SMA Taman Siswa di Mojokerto, kerap mengingatkan dirinya untuk selalu belajar. Salah satu caranya adalah dengan membaca. Olahraga sepak bola yang mengalir deras dalam darah Muchlis alangkah lebih baiknya jika dilengkapi dengan kecerdasan dan pengetahuan luas. Selalu mencatat apa yang diajarkan para pelatih juga satu hal yang kerap disampaikan oleh ayahnya.

“Chlis, ngapain kamu baca terus berita itu?” tanya Putu Gede saat melihat Muchlis membaca lagi berita itu.

illustrasi by kitanesia.co
illustrasi by kitanesia.co

“Gak tau aku, Put. Rasane koq berita ini minta aku baca terus!”

“Hahaha!”

“Arek gendheng!”

Evan yang mengenal Muchlis cukup lama sebelum mereka bertemu dan berkumpul sebagai pemain Timnas, menyambar dengan gaya khas arek Suroboyo.

“Hehehe,” Muchlis hanya tertawa kecil.

“Makanya cari pacar biar gak ngulang-ngulang baca berita itu terus, Chlis!” Evan terus meledek Muchlis yang masih jomblo.

“Tanya Ravi tuh cara-cara nembak dan pedekate, biar kamu gak terkencing-kencing sebelum nembak! Jangan-jangan malah sampai terberak-berak Muchlis kalau mau nembak cewek!”

“Hahaha!”

Ravi yang baru nimbrung seusai terapi es, langsung tertawa ngakak mendengar kawan-kawannya mengejek Muchlis soal nembak. Tak lama setelah Ravi nimbrung, Aditya, Muhni dan Ade Ali pun bergabung ngobrol di teras depan kamar-kamar mereka yang berderet. Obrolan makin asyik.

Evan tiba-tiba memamerkan foto semasa ia masih SMP.

“Ini fotoku waktu SMP,” Evan memperlihatkan sosoknya yang kurus kering dan dekil sewaktu masih SMP dari handphone-nya.

Adit, Ali dan Muhni tertawa geli melihat sosok Evan di masa SMP-nya.

“Kamu benar-benar kurus dan jelek, Van, hahaha,” komentar Adit sambil tertawa keras melihat foto itu.

“Ya, Mas Evan berubah banget sekarang. Beda banget dengan waktu kecil, ya. Sekarang lebih keren, haha…,” Ali menimpali…. (bersambung)

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN