Cerber – Gawang Merah Putih (9)

Cerber Gawang Merah Putih 9 (Dalam cerita episode 8, dikisahkan pahit-manisnya kehidupan Muhlis Hadining, arek Mojokerto, Jawa Timur itu meski banyak pahitnya tapi justru memicu dan memperkuat motivasi dan tekad Muhlis untuk mencapai dan mengukir prestasi di dunia sepak bola. Berikut kisah selanjutnya.)

Foto Masa Kenangan Evan

Evan menyimpan foto masa SMP di handphone-nya. Ini sebuah tindakan yang benar dan tepat karena foto itu bisa dilihatnya setiap saat. Dan setiap saat ia melihat foto itu akan selalu mengingatkannya pada masa-masa penuh penderitaan yang dialaminya. Masa-masa ketika untuk latihan bola, ia tak punya uang untuk naik kendaraan dan harus bisa menahan malu karena sering pinjam motor tetangganya. Beruntunglah, meski harus selalu menebalkan muka, meskipun sang tetangga sampai bosan dipinjam motornya, mereka tetap mau meminjamkan motor. cerber-9-a Itu adalah bagian-bagian masa lalu yang tak boleh dilupakan seorang Evan Dimas. Saat asyik bercanda tentang foto masa SMP Evan Dimas, handphone Aditya, berdering. Adit pun langsung memencet tombol ‘yes’. “Halo…,” sahut Adit sambil berjalan keluar kamar untuk menerima telepon itu. Biasanya di saat-saat setelah makan malam dan Adit tidak harus melakukan fisioterapi pada beberapa pemain, memang menjadi saat-saat personal bagi Adit dan semua coach lain untuk telepon keluarga atau kekasih. Namun jika dalam latihan banyak pemain yang mengalami keseleo atau terkilir atau terjatuh, maka Adit harus terlebih dulu melakukan tugasnya sebelum ia bisa menelepon atau ditelepon orang-orang dekatnya. Itulah tugas penting seorang fisioterapis Timnas U19. Ia tidak hanya bertugas di saat latihan, tapi justru lebih banyak bertugas seusai latihan untuk mengatasi berbagai keluhan fisik para pemain. Lapangan Maguwoharjo membludak oleh gemuruh lagu-lagu yang dinyanyikan Slemania begitu tim PSS memasuki lapangan bersama dengan Timnas U19. Cahaya lampu stadion yang menerangi seluruh sudut lapangan memantulkan siluet para pemain dari empat sudut. Bendera FIFA fair play yang diusung enam bocah cilik ke tengah lapangan sudah dibawa kembali ke pinggir lapangan. Fair play. My game is fair play. Slogan itu harus menjadi prinsip yang membatu dalam diri setiap pemain bola. Tak ada kekecualian. Saat di tengah lapangan para pemain berpose untuk para wartawan, sejumlah oknum suporter melemparkan gulungan tisu ke tengah lapangan. Tindakan yang mengganggu. Para petugas pengambil bola di pinggir lapangan pun kerepotan oleh begitu banyak gulungan tisu yang dilemparkan. Ravi Murdianto segera mengambil insiatif membantu para petugas itu mengambil dan menyingkirkan gulungan tisu yang terjatuh di dekat gawangnya. Inisiatif Ravi segera diikuti oleh semua pemain Timnas U 19 begitu usai berfoto. Para penonton pun sontak bertepuk-tangan memberikan penghargaan pada mereka. Sungguh awal yang mengesankan dari Ravi dan kawan-kawan pada pertandingan tur nusantara pertama. Muchlis pun tersenyum di tengah sorotan lampu-lampu stadion Maguwoharjo. Ia tahu ayahnya menaruh harapan begitu besar di atas pundaknya yang tegap. Tapi ia tak terbebani oleh harapan besar itu. Ia justru termotivasi. Selain itu, cita-cita Muchlis juga senada dengan harapan sang ayah. Tak ada yang lebih diinginkannya selain menjadi pemain sepak bola. Tak ada yang lebih diimpikannya selain memenuhi harapan ayahnya sekaligus keinginan dan cita-citanya sendiri. cerber-9-b Nasihat itu sudah membuahkan hasil kini. Muchlis tetap menjadi anak yang terus belajar dan berlatih keras meski sudah menjadi tim kebanggaan bangsa. Di desanya kini, semua orang ikut merasa bangga. Ya, meski Blimbingsari hanya sebuah desa kecil tapi itulah desanya tercinta. Dan ketika ia bisa memberi kebanggaan pada desanya, Muchlis senang luar biasa. Ravi teringat pesan coach Indra Sjafri di hari pertama tahun 2014 ketika semua orang libur dan mereka tetap berlatih. “Perjuangan kita masih panjang. Dedikasi dan komitmen harus dibuktikan mulai dari hal-hal kecil,” pesan Coach Indra. “Sepak bola adalah hidup kalian. Sepak bola adalah hati dan jiwa para pelatih dan pemain Timnas U19,” sambung Coach Indra. Pesan itu terngiang-ngiang di benak Ravi. Terdengar begitu jelas meski lapangan dipenuhi suara gemuruh para penonton sepak bola dari berbagai pelosok kota Yogyakarta… (bersambung)

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN