Dampak Tax Amnesty Untuk Singapore, Globalisasi dan atau Nasionalisme ?

“Singapore has not cut tax rates, nor changed our policies in response to Indonesia’s Tax Amnesty Programme,Singapore banks support this tax amnesty programme from Indonesia,”

suatu statement dari Singapore’s Ministry of Finance (MOF) and the Monetary Authority of Singapore (MAS).

Mengapa sampai keluar statement defensif dari Singapura ?, suatu negara yang biasanya high profile terhadap Indonesia. Masih segar ingatan kita akan beberapa ungkapan yang mengusik nasionalisme kita dalam kasus reklamasi dan kebakaran hutan, namun sepertinya pemerintah kita merespon selalu dengan berhati-hati :

Program reklamasi Singapura yang dicanangkan sejak tahun 1976 oleh Lee Kuan Yew, saat ini talah menambah 14% luas negara tersebut, dan bahkan rencananya sampai lebih dari 40% di tahun 2030. Dari mana bahan bakunya, ya ‘mengimpor’ pasir dari Riau sampai 80% !, sisanya baru dari Malaysia, Kamboja, Vietnam, Bahasa resminya selalu….

singapore-overview-landing

“Import of Cambodian sand to Singapore is done on a commercial basis, the Singapore government is not involved in these commercial transactions”. (Oliver Ching, a diplomat in Singapore’s embassy in Phnom Penh January 2016)

Laporan Jakarta Post 18 Oktober 2002 :

“Uncontrolled sand mining in Riau has caused severe environmental damage and led to the disappearance of a number of small islets in the province. Riau has been exporting both sand both legally and illegally to Singapore for many years to support the city state’s construction sector and coastal reclamation projects,”

Menperindag saat itu Rini Soewandi mengeluarkan keputusan No.598/2002 untuk ‘membatasi’ 26 juta m3 saja selama 4 bulan.

Indonesia sejak 2007 sudah melarang penjualan pasir secara legal, tapi bagaimana yang illegal? Diperkirakan volumenya mencapai 300 juta m3/tahun !

“Three years ago valuable sand sale was prohibited in Indonesia,” “Of course it (sand smuggling) is a big concern for us. Absolutely our military army is working to protect our environment. We are very concerned about large scale illegal sand mining causing environmental damage to our islands.” (Syahrul Sampurnajaya, Director General of Foreign Trade, Indonesia, 12 February 2010)

“The situation has reached critical levels and the tropical islands of Nipah, the Karimun islands and many small islands off the coast of Riau are shrinking dramatically and on the brink of disappearing into the sea. “The smugglers have no problem getting it into Singapore and these boats are rarely intercepted by customs boats or the navy. The supply is constant.” (Nur Hidayati, Greenpeace Indonesia, 12 February 2010). Saat ini TNI sudah punya basis tetap di Pulau Nipah.

40% saham di Singapura dikuasai orang Indonesia, 79% properti diatas S$1 juta dimiliki orang Indonesia, 50% pasien rumah sakit Singapura orang Indonesia (di Mount Elizabeth malah 80% !), 30% segmen untuk orang asing di Marina Bay Sands dikuasai oleh orang Indonesia sekaligus termasuk tiga besar penjudinya…., 2.7 juta/tahun orang Indonesia berbelanja di Singapura (2015) dan diperkirakan pada tahun 2010 saja menghabiskan Rp 30 trillion/tahun, 24.000 orang Indonesia belajar di Singapura (2013), bukankah sepertinya Singapura sudah jadi Propinsi Indonesia ke 36 ?

“Tidak apa sebetulnya, dalam bisnis hal seperti itu tidak apa-apa”

“Ini adalah uang kita semuanya, baik dari sumber daya alam Indonesia, baik dari kemudahan-kemudahan usaha yang dilakukan Pemerintah”

Ya mestinya kita tu kan mengekspor komoditas, mengeksepor dulu…. kayu jaman apa jaman  booming kayu dulu…. minerba……ini mestinya kan akan bisa memperkuat cadangan devisa kita. La kalau saya kan itung-itungan kaya gitu apal. Kenapa ga masuk ?, Ya karena disitu ada transfer pricing. Saya kan ekspor impor ya  ngerti. Jadi ga usah, ya udahlah….. Kita buka-bukaanlah saja sekaranglah , ga usah ada yang ditutup tutupi (Jokowi, 16 Juli 2016)

Jadi banyak alasan obyektif orang Indonesia menyimpan dana dan investasi di luar. Salah satu sifat Globalisasi adalah tidak mengenal batas negara, kapital secara obyektif akan cenderung bergerak ke tempat yang lebih ‘menarik’. Wibisana meninggalkan Rahwana Alengka yang “jahat” dan mendukung Rama yang “benar”.  Bagaimana dengan nasionalisme ? Nasionalisme cenderung bersifat subyektif, Right or wrong is my country. Kumbakarna memilih tewas membela Rahwana Alengka di tangan Rama dan Laksmana.

Bagaimana dengan tanggapan para pemilik modal Indonesia atas ajakan tax amnesty Presiden Jokowi, yang berlatar belakang pengusaha ‘tanpa fasilitas’ , yang sangat bernafas nasionalis subyektif , namun menjanjikan hal obyektif  mengenai masa depan Indonesia yang diyakini akan sangat menarik bagi pemilik kapital?

“Dari survei yang kami lakukan, ada sekitar Rp 1.000 triliun yang bisa repatriasi (kembali) ke Indonesia,”  (Hariyadi B. Sukamdani Ketua Umum Apindo Senin, 9 Mei 2016)

Ya, pada masa penyusunan UU Tax Amnesty, Asosiasi  Pengusaha Indonesia (Apindo) melakukan survey ke sekitar 10000 pengusaha Indonesia di luar negeri, dan direspon oleh sekitar 2000 pengusaha yang menyatakan siap membawa uang kembali ke Indonesia, bahkan akan ditanamkan ke sektor ril, asalkan pemerintah memberi kemudahan investasi

“Rata-rata mereka sudah menerima dari tebusan itu, cukup cukup cukup baiklah cukup fair. Dan tentunya mereka juga kadang-kadang memastikan apakah nanti ke depan tidak akan dikorek-korek lagi, kan biasa,” (Rosan Perkasa Roeslani Ketua Umum Kadin Indonesia, 21 Juli 2016)

Jadi para pengusaha Indonesia pun menyetujui visi Indonesia yang ‘akan’ secara obyektif menjadi tempat yang menarik bagi investasi secara global, sekalipun menyadari banyak hal yang harus dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh bangsa Indonesia (nasionalisme).

Jakarta, 27 Juli 2016, seorang ‘world class player’  diperkenalkan di pasukan birokrasi kabinet kerja ketiga.

“Beliau sudah sangat teruji dan berpengalaman di berbagai penugasan, tentu saja di bidang ekonomi dan keuangan, dan memiliki jaringan serta dipercaya di tingkat internasional. Beliau mempunyai kapasitas untuk ikut memberikan kontribusi dalam memperkuat ekonomi Indonesia dalam menghadapi persaingan global” (Pratikno, Mensesneg)

“Komitmen Sri Mulyani dalam pelayanan publik yang sangat teladan, dan reputasinya sebagai pegiat reformasi yang menyerukan perlawanan terhadap korupsi di Indonesia, membuatnya menjadi sosok yang dicintai di kalangan masyarakat Indonesia” (Jim Yong Kim, Presiden Bank Dunia)

Ya, Sri Mulyani Indrawati, yang biasa dipanggil ibu Ani, kembali ke Indonesia, meninggalkan pekerjaan global bergengsinya sebagai Managing Director dan Chief Executive Officer (CEO) Bank Dunia. Sri Mulyani adalah  putri terbaik Indonesia di bidang ekonomi. Pendidikannya luar biasa : dari sarjana ekonomi UI (1981-1986) sampai master dan doktor di University of Illinois Urbana-Champaigne, USA (1988 – 1992). Sekembalinya ke Indonesia aktif sebagai peneliti di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM FEUI). Tulisan dan opini-opininya mulai menarik atensi masyarakat Indonesia, yang pada masa itu mengalami transformasi yang luar biasa, dari kejayaan Orde Baru, kejatuhan krismon, dan lahirnya orde reformasi.

Pada masa pemerintahan pertama orde reformasi, Sri Mulyani mulai melangkah ke karir global. Sebagai konsultan di USAID sampai menjadi salah satu Direktur Eksekutif International Monetary Fund (IMF) kawasan Asia Tenggara, suatu jabatan ekslusif yang hanya bisa dipegang oleh seorang yang kapasitasnya brillian. Pada pemerintahan ketiga orde reformasi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)  meminta Sri Mulyani bergabung di kabinet indonesia bersatu (KIB 2004-2009). Jabatan pertamanya adalah Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala BAPPENAS.

Pada satu tahun pertama KIB, terjadi keguncangan makroekonomi Indonesia, yang disebabkan pelaksanaan anggaran yang “tidak kredibel”, karena kuatnya pengaruh pengusaha di kabinet yang cenderung “spender”. Pertumbuhan ekonomi yang tadinya terus menanjak sejak tahun 2002, anjlok dari 5.7% ke 5.48%. Presiden SBY lalu melakukan reshuffle kabinet, dan menempatkan Sri Mulyani pada pos yang menjadi spesialiasi dan sesuai ‘passion’ nya, Menteri Keuangan. Pada kurun waktu inilah Sri Mulyani secara luar biasa berhasil mengendalikan kredibilitas anggaran sehingga dunia internasional menaruh kepercayaan kembali kepada Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia menembus 6% secara dua tahun berturut 2007 – 2008, tertinggi sejak krismon 1997. Sri Mulyani juga mengurangi rasio hutang dari 60% ke 30% PDB, menambah jumlah wajib pajak dari 4.35 juta ke 16 juta orang (terutama dengan kebijakan pajak Sunset Policy), dengan pertumbuhan penerimaan pajak 20% tahun. Sri Mulyani juga berhasil merestrukrisasi Kementerian Keuangan, dengan memperkenalkan konsep “insentif”, sehingga para pegawai  Kementerian Keuangan menjadi bisa mengembangkan kinerja yang optimal. Kendali kuat Sri Mulyani juga mampu membuat Indonesia bertahan dalam krisis global 2009, tidak salah Sri Mulyani terpilih sebagai menteri keuangan terbaik oleh beberapa majalah ekonomi berpengaruh dunia, dan bahkan wanita paling berpengaruh di Indonesia tahun 2008   versi Majalah Forbes !

Atas prestasi yang kinclong ini, SBY dengan mudah terpilih kembali dalam satu putaran pada Pilpres 2009, dan tetap menjadikan Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan. Semakin meroketkah Indonesia ? Sayangnya justru sebaliknya. Skandal demi skandal terjadi yang akhirnya merembet ke pertarungan ekonomi – politik, yang menjadikan Sri Mulyani, sang nasionalis sejati, benteng ekonomi Indonesia yang diakui jenius oleh sejagat global, mengalami pengalaman baru, yaitu menjadi ‘kambing hitam’ karena tidak mempunyai basis politik.

“Apakah proses politik yang ditunggangi oleh suatu kepentingan membolehkan seseorang untuk dihakimi, bahkan divonis terhadap dirinya tanpa melalui pengadilan? Sedemikian pandainya proses politik itu sehingga dibebankan pada satu orang,”

“Banyak yang menyesalkan saya mundur sebagai kekalahan. Tapi, di forum ini, saya ingin menegaskan bahwa saya menang, karena tidak berhasil didikte oleh siapa pun yang tidak menginginkan saya di sini,” (Sri Mulyani 18 Mei 2010)

Sri Mulyani mengajukan pengunduran diri 5 Mei 2010, dan langsung disambar oleh Bank Dunia menjadi Managing Director pada tanggal yang sama. Globalisasi sangat menghargai orang-orang berkompetensi  luar biasa ! Bagaimana Indonesia sepeninggal putri terbaiknya sampai tahun 2014 ? Pertumbuhan ekonomi terus merosot dari kisaran 6.4 % ke 5%, nilai tukar rupiah yang sempat berkisar Rp 9.000 terus melorot ke Rp 12.700, merebaknya berbagai skandal korupsi, serta habisnya bonus wind fall juga menguak kerentanan ekonomi Indonesia, yang belum sempat untuk mengembangkan kemandiriannya.

Terpilihnya Jokowi sebagai Presiden pilihan rakyat pada tahun 2014, membawa harapan baru. Pembangunan infrastruktur besar-besaran menjadi target utama, bahkan dengan pengalihan biaya subsidi BBM. Akankah orang-orang terbaik akan memimpin di sektor vital perekonomian kabinet kerja ? Sang putri terbaik tetap berkarir global di Bank Dunia. Apakah Presiden Jokowi pernah mengundang sang putri terbaik ? Apakah sang putri terbaik pernah dilamar tapi menolak ?  Yang pasti ekonomi dan politik Indonesia terus gonjang ganjing. Pertumbuhan ekonomi turun dibawah 5%, nilai tukar rupiah merosot sampai Rp 14.165 pada 3 September 2015, terendah sejak krismon 1998, indeks harga saham gabungan merosot sampai 4163 pada 24 Agustus 2015.

Pada reshuffle pertama kabinet kerja 12 Agustus 2015, beberapa menteri sektor perekomonian diganti, tapi Sang Putri terbaik tetap berkarir global. Kenapa Presiden Jokowi tidak memilih putri terbaik? Kalau ya, apakah sang Putri terbaik sudah tidak merasa nasionalisme lebih penting?

“Sebagai mantan menteri keuangan, saya dapat memberitahu Anda bahwa membuat anggaran lebih transparan mungkin hal yang benar untuk dilakukan, tetapi ia datang dengan tantangan, termasuk pushback dari elite dan kelompok-kelompok lain yang tidak memiliki kepentingan dalam akuntabilitas atau membuka diri untuk pengawasan dari warga dan badan pengawasan,” (Sri Mulyani, 11 September 2015)

Suatu pesan penting dari sang putri terbaik kepada Indonesia, bahwa tidak cukup nasionalisme dan kompetensi teknis untuk membenahi perekonomian Indonesia. Ingat pengalaman 2010 !!!

Denpasar, 16 Mei 2016,

“Mencabut dan menyatakan tidak berlaku lagi keputusan Munas Partai Golkar Nomor 5/Munas 9/ 2014 tentang posisi Partai Golkar dalam Koalisi Merah Putih,” 

“Keputusan Golkar untuk mendukung pemerintahan Jokowi-JK harus ditindaklanjuti dengan upaya nyata Partai Golkar, demi menyukseskan penyelenggaran pemerintahan dan pembangunan,” (Siti Aisyah  Sekretaris Steering Committe Munaslub Golkar).

Presiden Jokowi yang pada awalnya yakin dapat bekerja dengan koalisi indonesia hebat yang  “kurus” di parlemen, akhirnya menyadari pentingnya dukungan mayoritas parlemen. Namun, belajar dari koalisi gemuk kabinet Indonesia Bersatu II yang juga tidak kompak, Presiden Jokowi melakukan strategi yang unik, sampai akhirnya meraih dukungan mayoritas (75.63%) yang loyal. Ujian keloyalan ini adalah….

“Kemarin itu saya ikuti apakah Golkar konkrit atau tidak. Saya ikuti ternyata konkrit. Saya contohkan Undang-Undang Tax Amnesty, kemudian saat pemilihan Kapolri. Saat APBN-P, saya ikuti terus. Kalau meleset saya telepon Ketua Umum, (Jokowi 28 Juli 2016, dalam Rapimnas Partai Golkar).

Bersatunya berbagai kekuatan bangsa menimbulkan kepercayaan diri….

“Karena negara lain itu juga memperbaharui undang-undangnya, membuat kebijakan-kebijakan untuk mengantisipasi agar uang itu tidak mengalir keluar dari negaranya….(Jokowi, 16 Juli 2016)

  “WNI dirayu untuk tidak repatriasi dengan tarif tebusan dua persen,”  Sebagai imbalannya, nasabah cukup melakukan deklarasi aset dengan tarif tebusan empat persen dan uang mereka tetap berada di bank Singapura. Sementara itu, bank-bank di sana bersedia membayar selisih dua persen tersebut. (Yustinus Prastowo, 17 Juli 2016)

”Menurut saya memang menarik programnya (Tax Amnesty). Hanya orang kurang cerdas yang bilang tidak menarik. Kalau tidak manfaatkan ya salahnya sendiri,” (Haryadi Sukamdani Ketua Umum Apindo),

“Biarkan saja, saya tidak takut sama Singapura. Apa sih negara kecil begitu,” (Bambang Brojonegoro, Menkeu 18 Juli 2017)

LUAR BIASA belum pernah terjadi keluar statement seperti itu dari mulut pejabat.

singapore-166544

Dan akhirnya Sang Putri terbaik pun kembali ke Indonesia

“I am very pleased to announce that I have accepted President Joko Widodo’s offer to join the Indonesian government in the  position of Minister of Finance”

“It is an honor to serve the President and my fellow Indonesians by continuing the on going reform program. I will dedicate all my efforts to accelerating Indonesia; development agenda with the goal of providing more and better service, particularly to the poor, and ensuring that all citizen will be able to participate in the benefits of thriving economy” (Sri Mulyani, 27 Juli 2016)

“Berkaitan dengan ‘tax amnesty’, saya ingin memberikan peringatan saja pada Dirjen Pajak, Menkeu, masih banyak komplain mengenai pelayanan di desk-desk yang ada,”

“Momentumnya sekarang. Tidak ada lagi momentum selanjutnya. ‘Setting’ (atur) lapangannya lebih tepat lagi ke Bu Menteri Keuangan,” (Jokowi, 27 Juli 2016)

Segera setelah melihat ‘keseriusan dan kebersamaan’ seluruh pihak Indonesia, nasionalisme, pelaksana yang berpengalaman global dan dihormati di dalam dan di luar negeri, rupiah melesat disekitaran Rp 13.000,-, dan IHSG kembali menembus 5000. Pertumbuhan ekonomi kembali melebihi 5%, dan cadangan devisa meningkat US$ 7.8 milyar menjadi US$ 111.4 milyar dalam waktu hanya sebulan……..Suatu awal yang baik….

dan….. “Saya akan datangi Singapura……..”(Jokowi 28 Juli 2016)

Singapore River Landscape

Singapore is good friends with Indonesia in the last 50 years. Both countries have cooperated on many matters, and both countries benefit from these good relations. “But every now and then, someone in Indonesia will tell us that we should know our place, a little red dot,.

“Yes, we are a little red dot. We may be small. But we are respected and successful. And our people lead meaningful lives. And we don’t live in fear of anyone else,” (K Shanmugam, Singapore’s Law and Home Affairs Minister, 23 July 2016).

“‎Di sana ada strategi, di sini juga ada strategi. Asal petugas pajak, DJP bisa antisipasi, Kementerian Keuangan bisa siapkan PMK yang baik sesuai dengan kehendak lapangan, saya kira tidak akan ada masalah,” (Jokowi 1 Agustus 2016)

sg-singapore-skyline-lantern-nc-rf-noexp-allsites-940x300

Selamat berjuang untuk mencapai tujuan negara kita bangsa Indonesia !

Tim Redaksi Kitanesia.co

 

 

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN