Cerber, Gawang Merah Putih – Jejak Sepatu (1)

Untuk foto resolusi tinggi klik gambar ini

Jejak Sepatu

Lapangan Maguwoharjo Sleman dipenuhi ribuan pendukung Persatuan Sepakbola Sleman (PSS) saat mobil bis Timnas U 19 memasuki gerbang lapangan. Gambar kepala Garuda di bagian sisi kiri dan kanan bis itu berwarna merah. Tulisan besar One Nation One Team yang menghiasi badan bis juga berwarna merah dengan kombinasi putih. Hari itu, Senin, 3 Februari 2014, adalah hari pertama dimulainya laga tur Nusantara Timnas U 19.  Mereka akan melawan team PSSI senior.
maguwohardjo
Putu Gede Juni Antara melangkah keluar dari bis dengan senyum ramah mengembang di bibir. Wajahnya selalu memancarkan keramahan Bali. Dewa-dewa seperti melimpahi Putu dengan kebaikan dan keramahan. Anak tunggal yang lahir di daerah Batu Bulan ini nyaris tak pernah terlihat murung. Ia juga jarang sekali terlihat kusut. Rambutnya selalu tersisir rapi, matanya selalu berbinar cerah tanpa sebersit kegalauan yang biasa muncul dalam sorot mata remaja. Di kusen pintu rumahnya yang sederhana, Putu saat masih bocah Sekolah Menengah Pertama, sudah menorehkan namanya memakai tip-ex: Putu Gede Juni Antara. Tulisannya dari atas ke bawah itu terbaca jelas di sebelah kiri dan kanan kusen pintu rumah.

U 19

Goresan tip ex yang menorehkan namanya di kusen pintu rumah bercat coklat itu menjadi sebuah penanda tersendiri. Saat Putu masih berumur sekitar 5 atau 6 tahun, Nyoman, perempuan sederhana yang melahirkan Putu, menanyakan satu pertanyaan umum para ibu kepada anaknya.

“Putu, besok kalau sudah besar maunya jadi apa?”

Saat itu mereka tengah menonton televisi di ruang tamu rumah mereka yang kecil dan Putu menjawab spontan: “Putu ingin masuk tivi.”

Kini keinginan masa kecil itu sudah terwujud dan Putu terus melangkah. Masa depan membentang luas di hadapannya seperti lapangan hijau dalam sorotan lampu stadion yang terang benderang. Bola-bola plastik seharga tiga ribu Rupiah yang memenuhi masa kecilnya pun terbayang jelas di benak Putu.

“Ibu, beli bola ituu…,” pintanya setiap kali melihat bola-bola plastik dijajakan para pedagang mainan keliling atau di pasar dekat rumahnya.

Nyoman pun merogoh dompetnya dan membelikan Putu bola plastik seharga dua atau tiga ribu Rupiah. Lalu kegembiraan pun memenuhi wajah Putu kecil. Ia segera bermain menendang bola plastik di pekarangan rumah, tak peduli sendiri atau bersama teman-temannya.

Tak pernah Putu merasa bosan minta dibelikan bola plastik sampai ruang tamu rumah mereka yang kecil kerap dipenuhi bola plastik. Tak pernah bosan pula Putu menendang bola-bola plastiknya di setiap kesempatan. Tak ada yang mengajari Putu bermain bola di masa kanak-kanaknya. Tak ada pula yang menyuruhnya menyukai dan tergila-gila pada bola. Ayahnya seorang pemahat patung batu. Ia ingin mengajari dan mewariskan ilmunya sebagai pemahat patung pada anak tunggalnya itu tapi Putu tak sedikitpun tertarik.

Bola Plastik

 

Bola pun melambung jauh di antara patung-patung para Dewa di Batu Bulan…. (bersambung)

 

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN