Cerber Gawang Merah Putih – Gawang Merah putih (2)

Cerita bersambung 2

Gawang Merah Putih

(Cerita sebelumnya: kilasan masa kanak-kanak Putu Gede Juni Antara di desanya Batu Bulan, yang selalu ingin bermain bola plastik. Ayahnya seorang pematung batu dan sebagaimana umumnya para pematung di Bali, ingin mewariskan keahliannya pada anaknya)

cerber 2 patung

 “Putu, ayo lihat Bapak bikin patung,” ajak ayahnya setiap kali Putu kecil sedang tidak bermain bola.

Putu kecil yang mungkin juga ingin menyenangkan ayahnya lalu menemani sang ayah memahat patung. Namun wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan. Wajah Putu kecil biasanya malah menunjukkan kebosanan dan hanya dalam beberapa saat ia sudah gelisah. Sang ayah, Made, akhirnya tak lagi berusaha membujuk Putu untuk suka memahat patung batu. Ia tak mau memaksa anaknya. Ia tahu tak ada kebaikan dalam sebuah pemaksaan.

“Putu bosan? Tidak mau belajar memahat?”

Putu kecil menggelengkan kepalanya dengan wajah polos. Matanya menatap wajah sang ayah seperti meminta maaf.

“Ya sudah kalau Putu tidak suka tidak apa-apa.”

Putu tersenyum senang.

“Sekarang Putu mau main bola?”

Dan meledaklah kegembiraan di wajah Putu seraya berlari ke pekarangan rumahnya dengan bola plastik di tangannya. Putu langsung menendang bola plastiknya bersama saudara sepupu yang seusia dengannya dan tinggal dalam satu kelompok rumah yang dibangun di atas tanah adat. Kadang beberapa temannya bergabung dan membuat pekarangan rumah mereka dipenuhi teriakan senang dan tawa bocah-bocah kecil saat menendang bola plastik Putu.

Tak ada yang memakai sepatu. Mereka semua anak-anak sederhana yang tak peduli kaki-kaki mungil mereka memerah karena menendang bola plastik yang keras. Mereka tak merasa kesakitan karena menendang bola memberi mereka kegembiraan yang tak terkira.

bola plastik

“Oper sini, Putu!”

“Ayo Putu, tendang…!!”

“Horeee…, goll….!!”

Suara ceria anak-anak itu terus hidup di pekarangan rumah Putu karena Putu terus bermain bola seolah hidupnya hanya untuk bermain bola. Para dewa sudah memberi Putu satu garis kehidupan yang dipenuhi bola-bola plastik di masa kanak-kanaknya. Para Dewa sudah mengajarkan pada ayah dan ibu Putu bahwa hidup tak ubahnya permainan sepak bola.

Dalam kesederhaan, Putu menjalani masa kanak-kanaknya penuh kegembiraan dan semangat. Ia tak pernah meminta banyak hal. Ia hanya meminta bola dan hanya bola. Putu tumbuh bersama bola-bola plastiknya yang menggelinding dibawa kaki-kaki kecil itu, digiring dan dioper sampai bola-bola itu penyok dan sobek lalu diganti lagi dengan bola plastik baru.

Ditendang terkadang sampai hilang di halaman rumah lain. Bola-bola plastik berseliweran dan akhirnya melekat di kaki Putu, sepasang kaki mungil yang mampu meliuk-liuk mengikuti gerak bola plastik itu. Kemanapun bola bergerak, kaki mungin Putu mengejarnya, memainkannya dengan gerakan lucu, tangkas dan lincah.

Dari teras rumah sederhana, sepasang mata ibunda Putu terus mengikuti gerakan lincah kaki-kaki mungil yang kuat itu… (bersambung).

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN