Globalisasi dan atau Nasionalisme ? – Part 1

image : rioharyanto.com dan asroma.com

Kitanesia.co – Allianz Riviera, Nice, Prancis 23 Juni 2016, pertarungan hidup mati Belgia – Swedia di Euro 2016 memasuki menit 84, bola dikuasai oleh pemain berambut mohawk, dari luar kotak penalti melepaskan tembakan geledek, melengkung. Issakson melompat, namun tidak bisa mencegah goal of the day…

Radja Nainggolan, putra Indonesia dari Tapanuli yang mengharumkan nama Indonesia di Euro 2016. Radja memang lahir di Belgia 4 Mei 1988, tapi dengan ayah yang berwarganegara Indonesia, bisakah membela Indonesia ?

“Tidak ada alasan khusus. Waktu itu usia saya 19 tahun dan sudah bergabung dengan di Timnas Belgia. Saya bergabung tanpa pikir panjang. Dan mereka (Timnas Belgia) juga memanggil saya. Saya bermain bersama Timnas Belgia selama 6 tahun. Kemudian saya berpikir bisa bermain di Indonesia. Namun saya berpikir ulang. Sekarang sudah tidak bisa, mungkin itu sedikit mengecewakan”

Jakarta, 24 Juli 2015

Mengecewakan ?. Radja sudah ditinggalkan ayahnya sejak umur 6 tahun. Pada usia itulah bakat sepakbolanya mulai terlihat. Berlatih di klub Germinal Beerschot, tahun 2005 bergabung di Akademi Piacenza Italia, lalu direkrut klub serie A, Cagliari tahun 2010, dan akhirnya ditarik Rudi Garcia, pelatih klub papan atas serie A, Il Giallorossi sejak tahun 2014 dengan transfer 9 juta euro….. Dengan gol nya di Euro….sekarang jadi rebutan Mou dan Conte………..

Apalah arti Indonesia bagi Radja…? Adakah nasionalisme tertanam di hatinya ?

“Saya tidak akan pernah lupa bahwa saya orang Indonesia.Tak akan pernah.”
“Yang jelas saat ini saya konsentrasi menjalani kehidupan di Eropa. Saya berusaha untuk membuat rakyat Indonesia bangga”
 “Meski ayah saya pergi ketika saya masih kecil, tapi dia tetap ayah saya. Itu sesuatu hal yang tidak bisa saya ubah. Saya senang bisa mencantumkan nama Nainggolan miliknya di Jersey. Saya bangga dengan hal itu”

Jakarta, 26 Juni 2013

Luar biasa Radja….jika anda ikut program naturalisasi tahun 2010an di Indonesia…barangkali nasib anda akan sama dengan pemain naturalisasi lain yang tidak terdengar lagi namanya sekarang….dan bahkan mungkin akan kehilangan nama Nainggolan di KTP dan jersey anda….

Baku City Circuit, Azerbaijan 18 Juni 2016, kualifikasi GP F1 seri ke 8, Rio Haryanto hampir menembus Q2, hanya terpaut 0.12 detik dari Felipe Nasr. Rio, adalah putra Indonesia asal Solo, 22 Januari 1993, yang sejak umur 6 tahun mengikuti jejak ayahnya. Mulai dari gokart, di tingkat nasional (2005), formula Asia (2008), GP 3 (2010), dan GP 2 (2012). Sudah tidak terhitung Rio mengibarkan bendera merah putih dan mengumandangkan Indonesia Raya…..

Puncak dari otomatif event adalah GP F1. GP F1 tidak melulu pada aspek sport, tapi juga bussiness entertainment dan technology. Perlu usaha keras dan biaya yang sangat besar untuk masuk ke puncak ekslusif ini. Tapi lihatlah gengsinya, Vladimir Putin, Prince Albert, Emir UEA tidak pernah absen dalam memberi piala pada para tukang kebut eksklusif ini. Negara-negara yang terlibat baik sebagai penyelenggara maupun warganegaranya menjadi tukang kebut F1, adalah negara yang sudah punya kelas tersendiri.

Presiden Jokowi sangat mengapresiasi warga seperti Rio yang atas usahanya sendiri sudah merangkak dari bawah, dan berkali-kali mengharumkan nama bangsa. Jokowi langsung mengendors Rio, dan memberi perintah tegas ke Kemenpora dan Kemen BUMN untuk mengkoordinasikan sponsor untuk mendukung Rio masuk ke F1, yang memerlukan dana 15 – 20 juta Euro.

“Saya sangat berterimakasih diberikan waktu (untuk bertemu) Presiden. Pertemuannya berlangsung sangat positif. Bapak Jokowi melihat ada prospek ke F1 dan mendukung saya bisa naik ke F1. Ini akan jadi sejarah tidak hanya untuk saya, tetapi juga Indonesia”

Jakarta, 13 Agustus 2015

“Presiden mengarahkan Bu Menteri BUMN, Bu Rini yang mempunyai networking cukup banyak (dengan) pengusaha yang lain, industri yang lain, untuk mendapat dukungan, untuk support, karena Pertamina sudah cukup besar selama ini memberi support. Mudah-mudahan untuk F1 tidak hanya Pertamina (yang) memiliki aspek promosi internasional kita dorong,”

Dwi Soetjipto (Pertamina), 13 Agustus 2015

Pertamina berkomitmen mendukung 5 juta euro, masih sangat kurang. Rio akhirnya mencetak sejarah sebagai pembalap F1 pertama dari Indonesia, namun dengan deadline pelunasan di bulan Mei 2016.

“Pak Menteri telah mengirimkan surat sedikitnya pada 16 BUMN dan sejauh ini baru beberapa yang merespons”

“Seminggu yang lalu saya tanya ke ATSI (Asosiasi Telepon Seluler Indonesia), memang jumlahnya sangat jauh dari harapan”

Gatot S Dewabroto (Kemenpora), 2 Mei 2016

Bagaimana dengan dukungan APBN ? Kemenpora menjanjikan 100 M, bagaimana tanggapan DPR ?

“Komisi X sudah memberikan warning pada kami. Karena menurut mereka, itu (pemberian bantuan) kewenangan dari Kemenpar”

Imam Nahrawi (Menpora), 13 April 2016

“Kami sudah mempersiapkan anggaran sekitar Rp 5 – 6 milliar untuk membantu Rio” kata I Gde Pitana, Deputi Menteri Pariwisata Bidang Pemasaran Luar Negeri. Maka muncullah logo “wonderful Indonesia” di Fox Sport.

Saking bingungnya ?

“Pak Menteri sudah siap potong gaji, bukan hanya potong gaji, bahkan gajinya secara penuh pun siap dikontribusikan untuk Rio. Hal ini sudah dilaporkan kepada Bapak Presiden. Presiden meminta hal ini tidak menimbulkan kegaduhan”

Gatot S Dewabroto (Kemenpora), 1 Maret 2016

Rio memang profesional sejati, satu per satu race di 3 benua dijalani sambil jungkir balik main iklan dan melayani serangkaian jumpa fans. Dengan kemampuan tim yang pas-pasan, prestasi belum optimal, namun kemampuan dan penampilannya membuatnya dipilih sebagai “rookie terbaik” oleh Fox Sport. Apakah Rio hanya berkesempatan untuk membalap di F1 hanya sampai race ke 11 di Budapest ? Sangat disayangkan memang jika kita Indonesia tidak mampu mendukung Rio. Rio adalah nasionalis sejati, tawaran yang lebih baik dari Petronas ditolak, padahal dijamin untuk seluruh race, dan kesempatan untuk masuk ke tim dominan Mercedes-AMG Petronas, yang dua tukang kebutnya sekarang tidak akur.

Pertamina sebagai sponsor utama dan manajemen Rio harus jeli melihat perkembangan ke depan. Toto Wolf, pimpinan Mercedes-AMG Petronas yang menitipkan Pascal Wehrlein ke tim Manor mengatakan. “Dengan angka yang disebutkan di media untuk membeli satu kursi, rasanya itu seperti hendak menghancurkan F1”. Wolf hanya mengganggarkan 4 juta Euro,dan nyatanya Wehrlein akhirnya menjadi “team mate” Rio.

“Kami menjajaki komunikasi dengan Tim Manor agar Rio menyelesaikan 21 laga. Jangan ada kendala.”. “Mempunyai pembalap potensial. Manor perlu berusaha maksimum agar Rio menyelesaikan 21 Race. Itu tanggungjawab Manor”

Wianda Pusponegoro (Pertamina) 19 April 2016

Pertamina memang jangan tanggung-tanggung lagi jika ingin masuk ke Pasar Global. Kalau tim Manor tidak perform, pertimbangkan saja pindah ke tim lain. Lihat saja Petronas, masuk ke F1 sejak tahun 1995 mendukung tim Sauber. Audit menunjukkan sponsorship ke F1 menghemat biaya marketing 5%, dan selama 10 tahun mampu meningkatkan market share dari 10% ke 18%, disamping mendapatkan teknologi otomotif yang dipakai untuk mengembangkan mobil Proton, dan promosi wisata Malaysia. Tahun 2009, Petronas pindah tim mendukung Mercedes-AMG, dan lihatlah sekarang iklan gagah mereka dengan Lewis Hamilton dan Nico Rosberg yang mendominasi balapan F1 selama 3 tahun terakhir

Belajar dari Multiple Brand yang digabung menjadi satu akan menjadi sangat kuat, walaupun berasal dari berbagai negara dan akan mendapatkan hasil maksimal daripada berjuang sendirian….

“Winning championship seems impossible…until we won it…twice in a row….”

Rio dan Pertamina, Selamat berjuang untuk mengharumkan nama Indonesia dan sukses di Pasar Global !

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN