Globalisasi dan atau Nasionalisme ? Part 3

image.beritaterbaru.net

Kitanesia.co – Piala Eropa telah usai perhelatannya, dan masih terngiang- ngiang betapa pemain -pemain sepakbola profesional yang membela negaranya sangat piawai mengolah kulit bundar dan menjadikan tontonan yang sangat luar biasa ditengah bulan Ramadhan sampai Idul Fitri. Ingat ..mereka tidak terlahir begitu saja, sejak kecil mereka tentunya telah terasah dan terlatih dengan teknik sepakbola yang baik dan berstandart profesional, kapankah Indonesia memiliki pesepakbola yang luar biasa seperti pemain – pemain profesional di Piala Eropa ?

Adalah seorang bocah  8 tahun yang memberi harapan untuk Indonesia, mempertontonkan kemampuannyan mengolah si kulit bundar… jugling 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9…. dan 10….Studio RCTI, 30 Juni 2012

Bola mendarat erat-erat di punuknya…Joseph Guardiola sangat terpesona melihatnya…”Barcelona harus mengajukan tawaran padanya,”…

Itulah Tristan Alif Naufal, putra Indonesia kelahiran Jakarta, 12 Desember 2004. “Lionel Messi dari Indonesia” itulah julukannya setelah video youtubenya beredar tanggal 20 Maret 2012.

“Saya baru lihat videonya Tristan Alif Naufal. UNBELIEVABLE!! INDONESIAS BIGGEST TALENT I HAVE EVER SEEN!” “Saya pikir untuk masa depan Tristan Alif Naufal dia harus main di Europa!! The future of Indonesia!! TRISTAN IM YOUR BIGGEST FAN!!”

Irfan Bachdim, 4 November 2013

Bakat Alif yang luar biasa sampai membuat Edwin van Der Saar kesengsem…dan berlatihlah Alif di Ajax Amsterdam yang legendaris mulai Desember 2013…… sampai mendapat the most valuable player 2014 dan Coerver Netherlands Master Skillz 2014…sampai Ajax kena setrap FIFA Non-EU Youth Player Regulation. Bagaimana kesan Alif ?.

“Latihannya lebih banyak teknik karena masih usia dini tidak terlalu diajarkan taktik, bermain bebas. Saya juga belajar sikap yang baik untuk menjadi pesepakbola,”

“Di sana saya juga dituntut untuk selalu memberikan 100 persen kemampuan saya di atas lapangan. Saya diajarkan sikap menghormati rekan setim dan lawan,”

Jakarta, 25 Juli 2015 

Bagaimana cara mengatasinya? Tidak usahlah sampai naturalisasi atau bayar, cukup salah satu orang tuanya dapat izin tinggal dan bekerja di Belanda.

“Kita sudah berkirim surat ke Kepala Perwakilan RI di Belanda mengenai permohonan bantuan proses ijin tinggal Tristan Alif. Sejauh ini kita juga sedang mengusahakan beberapa alternatif pekerjaan di Belanda bagi orang tuanya”

Iman Nahrawi(Menpora), 10 Maret 2015

“Yang saya tahu, izin tinggal yang mengeluarkan pemerintah Belanda. Saya belum tahu kalau Kemenpora meminta Kemenlu untuk membantu merekomendasi izin tinggal Alif di Belanda. Karena Kemenlu tidak dalam posisi itu,”

Armanatha Natsir (jubir Kemenlu, 17 Maret 2015)

Sedihnya masalah ini tidak teratasi….

“Di tanah airnya, Tristan Alif tidak benar-benar dianggap Messi Indonesia.”, sindir Ajax showtime (27 April 2015) pada pemerintah Indonesia yang dinilai kurang menyambut bakat bocah kelahiran Jakarta itu.

“Mereka (imigrasi Belanda) bilang bisa pekerjaan apapun di KBRI tidak masalah, sekalipun sebagai sopir. Tapi Kemenlu sepertinya enggan membantu kami. Bahkan ibu Retno tidak menganggap Tristan, padahal anak kami dapat mengharumkan nama Indonesia,”

Ivan Trianto (ayahhanda Alif, 11 Mei 2016)

Kini Alif sudah diterima masuk di akademi lain yakni, Akademi Getafe, salah satu peserta La Liga Spanyol. Alif juga berpeluang besar untuk berpartisipasi dalam liga untuk tim U-13, namun….diperlukan 175 ribu euro atau sekitar 2,5 miliar untuk program izin tinggal.

“Pada dasarnya kami ingin membantu masalah yang dihadapi Tristan, di Spanyol. Namun sejauh ini kami belum mengetahui konkritnya seperti apa,”

“Kami akan membantu Tristan, seperti halnya Rio. Pak Menteri tidak memandang bulu untuk atlet yang berpotensi,”

 Gatot Dewabroto (Kemenpora, 10 Mei 2016)

Maka dimulailah gotong royong masyarakat Indonesia untuk mendukung Alif, yang dipimpin beberapa tokoh masyarakat

“Perkenalkan saya Andrinof Chaniago, saya membuat fundraising campaign ini karena terinspirasi dengan semangat seorang bocah,” (6 Mei 2016)

“Sejujurnya, kami pernah dua kali mendapat tawaran pindah kewarganegaraan. Ada dua negara di Asia menjanjikan kami sekeluarga banyak hal, seperti pekerjaan bagus untuk kami, dan semua biaya kehidupan kami ditanggung mereka,”

”Hati dan jiwa kami tetap Merah Putih. Kami lahir dan besar di sini (Indonesia),”

Irma Lansano (ibunda Alif, 6 November2013)

Kita Indonesia harus mendukung Alif, sang “Indonesian Messi”, dan keluarganya……..

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN