Gotong Royong Energy Terbesar Bangsa Ini

GOTONG ROYONG ENERGY TERBESAR BANGSA INI

Oleh : KITANESIA

Siapa kita….?

Perhelatan Asian Games XVIII baru saja berakhir, semua terkejut…o… ternyata bisa ya bangsa Indonesia sehebat itu ? Sejak keputusan ‘nekat’ Gubernur DKI tahun 2014 mengambil bola muntah dari Vietnam, sepertinya sampai menjelang mulainya event ini pun banyak pihak tidak terlalu ‘ngeh’. Pada proses awalnya memang sepertinya sangat tertatih-tatih, sekalipun Gubernur DKI sudah naik menjadi Presiden RI. Kondisi Indonesia sepertinya tidak siap untuk mengkoordinasikan diri, sampai Olympic Council of Asia (OCA) memberikan lampu kuning untuk Indonesia pada tahun 2015.

Rupanya memang perlu kondisi ‘terjepit’ untuk mengeluarkan potensi yang sebenarnya pada bangsa Indonesia. Gotong -royong ! Itulah inti Pancasila yang asli Indonesia. Orang yang malang melintang di sport event internasional, terpanggil untuk menangani event yang taruhannya nama bangsa ini, kementerian dan lembaga negara saling bahu membahu, dan masyarakat yang punya kemampuan ‘lebih’ mengambil inisiatif terlebih dahulu, dan salah satu yang kunci penting : regulasi potong kompas pembiayaan ke cabang olahraga.  Hasilnya ?. Pembukaan yang menggegerkan, atlit-atlit berjuang dengan semangat 45, masyarakat mendukung secara heroik, 31 medali emas dan hanya kalah oleh trio Kuning…

Siapa Mereka ?

Nun jauh disana, suara menggelegar menggema ‘Make America Great Again !’. Donald Trump membawa revolusi. Sejak 38 tahun lalu Ronald Reagan memulai deregulasi ‘Reaganomics’, sejak itulah kaum kapitalis Amerika menjadi dominan. Tidak masalah untuk membuat produksi di Tiongkok, lalu membawa barang kembali ke Amerika. Tidak masalah modal bergerak bebas dan cepat ke negara-negara lain yang lebih menarik ‘return’ nya. Banyak industri sektor real Amerika mati, indeks gini meningkat sampai pernah mencapai 0,41, 36.5% kekayaan Amerika dikuasai hanya 1 % kapitalis. Para kapitalis juga tega membuat skandal yang membuat banyak orang Amerika mendadak jatuh miskin pada tahun 2007-2008, dan ekonomi Amerika pun mengalami resesi yang berkepanjangan.  Masyarakat tahun 2012 mengepung Wall Street, namun cengkraman kapitalis terhadap sistem politik luar biasa, tidak ada politisi yang ‘berani’ melepaskan diri, termasuk Presiden Obama.

Donald Trump menggunakan facebook untuk mengetahui preferensi psikologis rakyat Amerika, dan menjanjikan program-program yang sesuai dengan hati rakyat Amerika yang paling dalam, yang sudah muak dengan para kapitalis ‘tanpa hati’ dan politisi ‘impoten’. Secara ‘mengejutkan’ semua pihak, Donald Trump memenangi Pilpres Amerika, dan segera melaksanakan program agresifnya. Kebijakan paling signifikan adalah reformasi pajak dengan menurunkan pajak penghasilan  perusahaan dan pendapatan tidak kena pajak rakyat. Dana US$ 1.5 triliun disiapkan untuk mengupdate ‘Crumble Infrastructure’, Tiongkok dikenai bea tinggi untuk material baja dan alumunium, sehingga industri konstruksi Amerika kembali berjaya. Kepada semua mitra dagang yang defisitnya besar, Trump memaksa untuk ‘menyeimbangkan’ dengan membeli produk-produk Amerika yang ’kompetitif’. Revolusi ini membuat ekonomi dan sektor real Amerika meningkat drastis, angka pengangguran menjadi terendah dalam 45 tahun, dan pendapatan rakyat meningkat. Bagaimana dengan para kapitalis ? Indeks saham meningkat drastis !

Amerika adalah negara dengan PDB perkapita hampir US$ 60.000, jauh lebih tinggi dari Uni Eropa  yang sekitar US$ 32.000, apalagi dari Tiongkok yang masih sekitar US$ 9.000. Dengan PDB perkapita sebesar itu,  jumlah penduduk yang banyak, maka pasar sangat kuat, dan dengan kondisi pertumbuhan seperti itu,  jelas akan menarik para pemilik modal ‘kembali’ ke Amerika. Negara-negara berkembang yang tadinya menikmati modal-modal ‘panas’ tersebut, dan neraca perdagangannya defisit, langsung mata uangnya berguguran. Apakah kondisi terburuk sudah berlalu ? Belum !. Bank Sentral Amerika The Fed sudah mewaspadai pertumbuhan yang cepat bisa menimbulkan inflasi, sehingga sudah menjadwalkan kenaikan suku bunga secara bertahap. Tiap kenaikan suku bunga Fed artinya…?

Siapa kita ….?

Kondisi ini jelas merupakan ‘kondisi terjepit’ yang seperti  Indonesia waktu ketiban pulung melaksanakan Asian Games, hanya ini dalam skala nasib bangsa secara nasional !. Potensi besar Indonesia sudah lama tidak digali optimal karena terlena dengan pendapatan mudah dari komoditas alam dan aliran dana asing ‘panas’. Tidak akan ada lagi booming komoditas !, Tidak akan ada lagi ‘hot money’!. Jumat  31 Agustus US$ sudah Rp 14.800,- . Apakah Indonesia mampu keluar dari situasi ini ?

“Karena dengan Asian Games ini, dengan keberhasilan besar ini, Indonesia telah menunjukkan bahwa mereka memiliki semua bahan untuk menyelenggarakan Olimpiade dengan sukses.”

“Bagian yang paling mengesankan dari kesuksesan Asian Games 2018 adalah orang-orang Indonesia itu sendiri. Indonesia telah menunjukkan kombinasi hebat dari keramahan dan efisiensi pada saat yang bersamaan”

Thomas Bach, Presiden IOC,1 September 2018

“Asian Games sangat sukses dan tidak mudah membuat acara seperti ini”

Jack Ma, 2 September 2018

KITANESIA

 

 

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN