Gotong Royong , Indonesian Force, from Dark Side to Awakens

Kitanesia – Tanggal 20 Mei lalu kita Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pendirian Boedi Oetomo 20 Mei 1908 dianggap sebagai langkah pertama pembentukan negara Indonesia modern, yang kita peringati tiap tahun sampai saat ini. Mari kita renungkan esensi kebangkitan nasional di masa yang sering dinamakan orde reformasi ini.

Soekarno, sang founding father menyatakan ‘gotong royong’  adalah nafas dasar Indonesia, lima sila dasar negara Pancasila itu kalau diperas, ya jadinya ‘gotong royong’. Apa ciri visi semangat gotong royong? Tidak mementingkan diri sendiri, mencintai sesama, saling menopang antara yang kuat dan lemah, memperjuangkan keadilan dan kebenaran dengan cara elegan: demokratis dengan mengedepankan dialog musyawarah dan mufakat, tapi juga juga bersikap tegas terhadap ketidakadilan dan ketidakbenaran; Kita cinta perdamaian, tapi lebih cinta kemerdekaan. Indonesia kemudian bisa merdeka menjadi Republik berdasarkan semangat gotong royong ini, dibawah bimbingan para founding fathers.

Hal ini mengingatkan kita pada ‘force’ dan para ksatria Jedi pada serial populer Star Wars karya George Lucas. Master Jedi Yoda menerangkan force adalah pembentuk alam semesta, ada disetiap benda, dan membentuk visi masa depan. Para ksatria Jedi menggunakan force untuk ‘mengawal Republik Galaksi’, yang sangat mirip dengan Republik kita dan para founding fathers kita. Anakin Skywalker, sang Jedi terpilih, juga menerangkan sifat-sifat ‘force’ yang sangat analog dengan gotong-royong. Senjata ksatria Jedi, ‘light sabre’ melambangkan penggunaan kekerasan adalah dalam rangka mempertahan diri dan jalan terakhir dalam menyelesaikan konflik.

Hanya saja Master Yoda selalu mengingatkan Dark Side of the Force, yang digunakan ksatria hitam “Sith Lord”. Pusat para Sith ini adalah diri sendiri, dan menggunakan segala cara dan jalan pintas untuk itu: fitnah, tipuan, adu domba, agresif, namun juga seperti serigala berbulu domba. Darth Sidious, tokoh sentral antagonis Sith selalu mengatakan Dark Side of the Force adalah satu-satunya cara untuk membuat kedamaian dan ketentraman di Republik Galaksi.

Senjata para ksatria hitam ini tidak hanya ‘light sabre’ tapi juga kilatan yang bisa dipancarkan dari tangan untuk menyerang musuh, yang menggambarkan sifat agresif. Dalam trilogi pertama digambarkan Darth Sidious menggunakan Dark Side of the Force untuk mengambil alih Republik Galaksi tanpa disadari oleh para ksatria Jedi, berhasil membujuk Anakin Skywalker ‘sang Jedi terpilih’ beralih ke Dark Side mejadi Darth Vader, dan akhirnya menghancurkan Orde Jedi dan membentuk ‘Galactic Empire’. Master Yoda dan Obi Wan Kenobi yang terlambat menyadari, gagal mengkudeta Darth Sidious dan Darth Vader, walau Obi Wan Kenobi berhasil membuat Darth Vader menjadi sosok semi robotik mengerikan yang menjadi ikon utama Star Wars.

Selanjutnya Sith mengelola Galactic Empire dengan represif untuk menjaga ketertiban dan ketenteraman. Suatu senjata teror ‘Death Star’ yang mampu menghancurkan planet digunakan untuk mengancam siapapun yang melawan penguasa. Bukankah situasi ini juga mirip dengan kita Indonesia? Pemberontakan, adu domba, tipuan dan pengkhianatan terjadi pada masa revolusi melahirkan suatu masa yang sangat mirip dengan kondisi ‘Galactic Empire‘.

Pancasila dan gotong royong yang ‘sama’ berlaku pada masa tersebut, namun pementingan diri sendiri dan kekuasaan mutlak, membuat pengelolaan kekayaan negara menjadi tidak kreatif, serta munculnya praktik korupsi, membuat yang berlaku pada masa tersebut adalah ‘Dark Side of Gotong Royong’. Mengapa banyak komponen bangsa yang tergoda dan jatuh? Master Yoda mengatakan karena godaan dan tipuannya dapat sangat menyentuh hal yang paling dalam.

Harta dan tahta adalah godaan umum, namun seorang ksatria Jedi terpilih seperti Anakin Skywalker pun dapat jatuh karena Darth Sidious menggunakan visi tipuan yang canggih. Betapa banyak diantara orang-orang terpilih bangsa kita yang ‘tertipu’ dan akhirnya ikut mengambil jalan sisi gelap gotong royong? Master Yoda juga mengatakan “Once you choose the dark path, forever it will dominate your destiny”.

Betapa kuatnya ‘Dark Side of the Force’ pada masa ‘Galactic Empire’. Pada trilogi kedua, Luke Skywalker, putra Anakin Skywalker yang dilatih Master Yoda pernah bertanya apakah Dark Side itu lebih kuat? Master Yoda mengatakan: Tidak!, sesuatu kekuasaan seperti itu sebenarnya halusinasi,  dan tidak akan bertahan terhadap sesuatu yang murni dan terlatih baik. Luke dapat tergoda oleh visi yang diciptakan Darth Vader dan berangkat untuk menyelamatkan teman-temannya, walau pelatihannya belum selesai dan mengabaikan nasehat Master Yoda dan Master Kenobi. Namun di saat genting, waktu Luke sudah sangat terdesak dan harus memilih jalan kematian atau bujukan bergabung dengan sang Ayah untuk ‘together we rule the galaxy as father and son’, Luke memilih jalan kematian.

Seberapa banyak dari komponen bangsa kita yang memilih seperti Luke di masa ‘Galactic Empire’? Singkat kata akhirnya kekuasaan Darth Sidious yang terlalu percaya diri akan kekuasaan sisi gelapnya, ditumbangkan kekuasaannya oleh sekelompok kecil pemberontak yang dianggapnya ‘insignifikan’ dan ‘pertobatan’ oleh orang kepercayaannya sendiri, Darth Vader. Bukankah ini analog juga dengan Indonesia. Pada saat seluruh komponen bangsa sepertinya tak berdaya, ‘force’ atau gotong royong dilakukan oleh para mahasiswa yang lemah secara kekuatan namun idealismenya kuat dan militan.

Pada masa akhir 1970-an, pergerakan diberangus seperti tembakan Death Star yang menghancurkan planet Alderaan. Namun pada masa 1990-an, karena dianggap ‘insignifikan’, sama seperti sikap sang Emperor yang memandang enteng, sejarah  mencatat, kekuasaaan runtuh karena gotong royong massal dan cerdas dari mahasiswa yang ‘lemah’. Senjata Death Star yang mengerikan itu pun tak berdaya, dan kekuasaaan berakhir dengan ‘pertobatan’ oleh orang-orang kepercayaan sang penguasa sendiri.

Sudah selesai ceritanya? Oh belum, setelah trilogi kedua, rupanya berlanjut ke trilogi ketiga. Keponakan Luke Skywalker yang dilatih untuk menjadi ksatria Jedi, Kylo Ren justru beralih ke sisi gelap atas bujukan Supreme Leader Snoke yang selalu tampil dalam bentuk hologram. Luke yang sangat kecewa menghilang. Muncul kelompok first order yang merupakan bayangan dari “Galactic Empire” yang tumbuh menjadi kekuatan jauh lebih menakutkan.

Suatu senjata ala Death Star dikembangkan untuk mampu menghancurkan beberapa planet sekaligus. Kelompok yang melawan, dinamakan Resistance, dipimpin oleh Leia Organa dan Han Solo, pimpinan kelompok yang dulu menumbangkan Darth Sidous, yang notabene adalah orang tua Kylo Ren. Kylo Ren bahkan tega membunuh ayahnya sendiri, yang mencoba membujuknya kembali dari sisi gelap. “The Force Awakens”, itu judul pertama dari trilogi ketiga, dimana ‘force’ menghampiri sang terpilih yang sama sekali bukan siapa-siapa, dan sang terpilih lalu mengenal ‘force’ dan menggunakannya untuk melawan dan mengalahkan ksatria hitam Kylo Ren.

Bukankah ini juga analog dengan kita Indonesia masa kini yang sering disebut dalam orde reformasi? Para penguasa yang lahir dari darah gotong-royong murni mahasiwa segera terbujuk beralih ke sisi gelap yang jauh lebih gelap dan jauh lebih canggih dari masa sebelumnya, dan bahkan boleh dikatakan sampai membunuh ayah kandungnya. Kalau dulu korupsi terpusat di lingkaran eksekutif saja, sekarang sudah lebih jauh menyebar ke komponen bangsa.

Namun kembali analog dengan Star Wars, ada muncul kebangkitan gotong royong dari masyarakat secara lebih masif dan lebih terorganisir seperti kelompok resistance, dan luar biasanya juga menghampiri seseorang yang ‘bukan siapa-siapa’, namun kemudian sang ‘bukan siapa-siapa itu’ belajar mengenal dengan cepat kekuatan gotong-royong pembentuk bangsa Indonesia dan walaupun kekuatannya belum sempurna, dalam suatu pertarungan yang seru, mampu menjadi keluar sebagai pemenang.

Bagaimana episode berikutnya, tentunya hanya J.J Abrams yang tahu, apakah bakal analog lagi dengan kita Indonesia? namun tentunya sudah saatnya kita menjadi sutradara atas negara kita sendiri. Awalnya memang seperti akhir episode The Force Awakens, sang bukan siapa-siapa terus belajar tentang kekuatan gotong royong dari para founding fathers, dan berusaha menerapkannya sekuat tenaga dalam memimpin transformasi bangsa. Masyarakat kita juga semakin belajar dari masa lalu, dimana tidak bisa hanya pasif dan tidak kreatif dalam menghadari sisi gelap gotong royong.

Harus disadari masih banyak masyarakat kita sudah terjebak dalam sisi gelap, dan seperti yang dikatakan Master Yoda, sulit untuk keluar. Tapi seperti yang Luke mampu mengenali bahwa dalam jauh dalam lubuk hati ayahnya ada sisi baik yang terpendam, begitulah seharusnya sikap kita terhadap sesama bangsa yang terjebak dalam sisi gelap.

Jika mempunyai prinsip gotong royong yang murni,kuat, kreatif, dan berserah pada yang Maha Kuasa, maka seperti Luke Skywalker yang dapat membawa ayahnya kembali dari “Dark Side”, kita Indonesia juga akan mampu membawa bangsa ini beralih dari sisi gelap untuk menuju kegemilangan bangsa Indonesia seperti yang divisikan Jayabaya. Komunisme sudah gagal, kapitalisme terengah-engah, namun Pancasila/gotong royonglah yang akan menjadi panutan seluruh dunia.

Selamat memperingati hari kebangkitan nasional kita Indonesia!

Force always be with you!

Gotong royong selalu beserta bangsa Indonesi!

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN