Hadir Sebagai Bandara Alternatif Banyuwangi Semakin Menggeliat

KITANESIA– Kebijakan Presiden Jokowi mengembangkan bandara seperti yang baru dilakukan di Banyuwangi (12 Agustus 2017) adalah wujud Nawacita ke-7 yang kini mulai dirasakan dampaknya oleh masyarakat. Nawacita ke-3, membangun dari pinggiran berjalan seiring dengan Nawacita ke-7, merealisasikan kemandirian ekonomi dengan mengembangkan pusat-pusat strategis ekonomi daerah. Dalam membangun dari daerah pinggiran muncul prospek tumbuhnya pengembangan ekonomi, sekaligus pinggiran harus dibangun sebagai batas demarkasi NKRI. Kehidupan dan perkembangan wilayah diwujudkan dengan kehadiran negara antara lain melalui pembangunan bandara.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Agus Santoso, memahami pengembangan ekonomi nasional memerlukan pengembangan wilayah di tempat-tempat strategis yang dapat memacu pertumbuhan ekonomi. “Itulah sebabnya untuk tahun-tahun ke depan, Presiden Jokowi mengembangkan bandara di daerah yang akan terpacu pertumbuhan ekonominya ketika infrastruktur bandar udara dikembangkan, misalnya Bandar udara Tasikmalaya, Banyuwangi, Jember, serta bandar udara Purwokerto,” jelas Agus. Pengembangan bandara Banyuwangi adalah tindak lanjut dari instruksi Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi atas perintah Presiden Jokowi.

Daerah-daerah tersebut sudah memiliki potensi ekonomi dan merupakan tempat strategis ekonomi daerah. “Banyuwangi tempatnya strategis karena berdekatan dengan pulau Bali yang sudah jadi tujuan wisata dunia. Banyuwangi sebagai bandar udara alternatif mendapatkan manfaat multi flight player effect dari wisatawan yang semula wisatawan Bali,” ujar Agus. Selain itu Banyuwangi memiliki potensi alam yang alami (natural tourism) ke tiga wilayah, Kawah Ijen, Alas Purwo dan Taman Nasional Baluran.

Selain Banyuwangi, Jember juga berpotensi besar. Kota pelajar yang berada di persimpangan Lumajang, Bondowoso dan Banyuwangi ini terdiri dari melting etnis antara suku Madura dan Jawa. Potensi pertumbuhan ekonomi Jember antara lain perkebunan, pertanian, pertambangan. Demikian juga dengan Purwokerto sebagai titik simpul pusat pertemuan pertumbuhan ekonomi yaitu, Cilacap, Yogyakarta, Bandung, Cirebon dengan home industri dan perdagangan yang mendunia. “Kota Tasikmalaya juga memiliki potensi ekonomi yang turun-temurun mulai dari sektor pertanian seperti padi, palawija, sayuran dan sektor industri serta perdagangan seperti kerajinan anyaman, batik dan bordir,” tambah Agus.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN