Istimewa, Lion Air Kalahkan Maskapai Terbesar di Dunia

KITANESIA, JAKARTA – Lion Air makin menancapkan tajinya sebagai pemain utama industri penerbangan tanah air dan dunia. Maskapai milik Rusdi Kirana yang kini menjabat Dubes Indonesia untuk Malaysia itu terus melebarkan kepak sayap bisnisnya dengan menambah rute penerbangan maupun jumlah armada. Pada 2011 lalu, Lion Air memecahkan rekor pemesanan dengan Boeing senilai USD 22 miliar. Nominal itu mengalahkan rekor yang sebelumnya dipegang Emirates. Padahal, Lion Air sempat mengalami tragedi pada Juli 2007.

Bersama beberapa maskapai dalam negeri, Lion Air dilarang melintas di Eropa. Hal itu berkaitan dengan rendahnya regulasi dari otoritas penerbangan tanah air. Larangan itu baru dicabut pada Juni 2016. “Yang paling menarik adalah di luar Indonesia hanya ada sedikit kesadaran tentang betapa besarnya Lion Air dan pertumbuhan impresif yang mereka bukukan dalam tujuh tahun terakhir,” ujar analis senior dari OAG John Grant.

Belum lama ini, Harian Telegraph mengulas sepak terjang maskapai berlogo singa merah itu saat memesan 443 pesawat. Langkah itu membuat Lion Air menjadi maskapai yang memesan pesawat terbanyak.

Akhir Mei 2017, Boeing mengirim pesawat jenis 737 Max edisi perdana kepada Lion Air. Lion Air mengalahkan maskapai terbesar di dunia America Airlines yang hanya memesan 285 unit. Telegraph juga menulis daftar maskapai lain yang memesan pesawat terbanyak. Di belakang Lion Air ada United Airlines yang memesan 264 pesawat, Southwest Airlines (262), Delta Airlines (239), Emirates (223), dan Ryanair (192). Selain itu, ada pula Turkish Airlines yang memesan 168 pesawat, China Southern (168), Lufthansa (158), dan American Airlines (145). Jumlah pemesanan itu menambah panjang daftar gebrakan yang dilakukan manajemen Lion Air.

Dalam tujuh tahun terakhir, Lion Air memang memperlihatkan pertumbuhan yang istimewa. Lion Air melipatgandakan jumlah kursi penerbangan dari 25,1 juta menjadi 48,7 juta. Selain itu, rata-rata waktu terbang hanya 1,5 jam.

“Bagi Lion Air, pemesanan itu mencerminkan bahwa Indonesia adalah salah satu pasar yang bertumbuh paling cepat dalam perjalanan udara,” imbuh Grant. Meski sudah menjadi maskapai raksasa, Lion Air masih memiliki ambisi superbesar.

Dalam wawancara dengan FT pada 2015 lalu, Rusdi Kirana mengaku sudah mengakuisisi lahan seluas 5.500 hektare di luar Jakarta. Manajemen akan membangun bandara pribadi di atas lahan itu. Sebab, Bandara Soekarno-Hatta dianggap sudah tak memungkinkan.

“Pasar di Indonesia sangat besar, tetapi kami tak memiliki kapasitas bandara yang mencukupi. Kami akan menghadapi kendala di birokrasi, tetapi saya optimistis presiden akan turun tangan jika kami menemui kendala mendapatkan lisensi. Itulah mengapa saya membeli lahan tersebut,” kata Rusdi.

Terkait ekspansi yang dilakukan Lion Air, Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso menjelaskan bahwa seluruh airline yang mengadakan pembelian pesawat harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Antara lain kecukupan modal, kesiapan bandara serta ketersediaan slot penerbangan yang dituju.

Agus berpendapat bahwa ekspansi pengadaan pesawat terbang Lion sangat progresive namun lebih baik lagi jika dibarengi kesiapan Lion dalam SDM, fasilitas maintenance serta kedisiplinan aircrew terhadap SOP. Lion juga telah menjadikan Solo sebagai Hub sehingga dalam kurun 6 bulan kenaikan penumpang di Hub Solo meningkat tajam lebih dari 50%.

Kiprah Lion Air mengembangkan bisnis juga berdampak langsung terhadap sektor pariwisata. Sebab, selain terus menambah rute dalam negeri, Lion Air juga berekspansi ke mancanegara. Lion Air sudah membuka rute penerbangan dari Manado ke beberapa kota di Tiongkok. Di antaranya, Macau, Shenzen, Chongqing, Wuhan, Shanghai, dan Changsa. Hal itu dilakukan karena potensi wisatawan asal Tiongkok memang sangat besar. Setiap tahun, ratusan juta warga Tiongkok pelesiran ke luar negeri. Pada 2015 lalu, inbound Tiongkok mencapai 120 juta. Lion Group juga akan membuka rute dari Jakarta ke Cenai, India. Sama seperti Tiongkok, India juga merupakan ceruk pasar nan besar di industri pariwisata.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), kunjungan wisman India ke Indonesia melalui 19 pintu utama pada April 2017 naik 21,17 persen dibandingkan periode 2016 silam.

“Jumlah wisatawan India yang datang ke Indonesia tumbuh sangat pesat. Ini yang ingin kami jaring untuk menggunakan maskapai kami,” kata Direktur Utama Lion Air Group Edward Sirait (19 Juni 2017). Dia menambahkan, pembukaan rute itu merupakan bagian dari upaya mendukung program Kementerian Pariwisata (Kemenpar).

“Dengan adanya penerbangan ini diharapkan wisatawan India makin mudah datang ke Indonesia yang pada akhirnya bisa menyukseskan program pemerintah dalam menjaring wisatawan mancanegara sebanyak mungkin,” kata Edward.

Hal ini juga ditegaskan Rusdi Kirana saat ditemui di Kuala Lumpur beberapa waktu lalu. Rusdi mengatakan pihaknya akan mensupport air connectivity untuk pariwisata. Rusdi juga sudah beberapa kali bertemu Menpar Arief Yahya untuk membuka lebih banyak direct flight melalui hub Sam Ratulangi Airport, Manado.

“Kami juga akan support penerbangan domestik, untuk membuka connectivity ke destinasi wisata yang dipromosikan Pak Arief Yahya. Seperti Solo, Belitung, Silangit, Labuan Bajo, Wakatobi, Raja Ampat, dan lainnya,” jelas Rusdi Kirana. Menteri Pariwisata Arief Yahya pun menyambut gembira spirit Indonesia Incorporated itu. Karena 75% wisman masuk ke Indonesia via air bridge, melalu udara.

“Lion Group cukup cerdas melihat arah pengembangan pariwisata ke depan,” sambut Arief Yahya memuji keberanian Lion Group.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN