Jokowi menjadi Pembicara Utama di KTT G-7 Outreach

Kitanesia-Presiden Joko Widodo ‎menghadiri KTT G-7 Outreach yang dimulai hari ini, Jumat 27 Mei 2016 di Ise-Shima, Jepang. Tiba di Shima Kanko Hotel the Classic tempat berlangsungnya pelaksanaan KTT G-7 Outreach, Presiden Jokowi disambut langsung oleh Perdana Menteri Shinzo Abe.

Acara pertama yang diikuti Presiden Jokowi adalah Sesi I G7 Outreach Meeting. Di Sesi ini, Presiden Jokowi duduk di sisi kanan PM Abe dan di samping kiri Kanselir Jerman Angela Merkel. Di sesi ini, Presiden ‎Jokowi menjadi pembicara utama dalam pembahasan mengenai stabilitas dan kesejahteraan Asia.

Setelah sesi ini selesai, Presiden Jokowi akan bertemu dengan PM Abe dalam sesi Short Conversation. Dalam pertemuan ini, Presiden Jokowi didampingi Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Sofyan Djalil, Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman Hadad dan Dubes Indonesia untuk Jepang Yusron Ihza Mahendra.

Sementara itu, PM Abe didampingi antara lain oleh Wakil Menteri Sekretaris Negara Seto dan Penasihat Khusus PM Hasegawa, Wakil Menteri Luar Negeri Sugiyama.

Usai bertemu dengan PM Abe dalam sesi Short Conversation, ‎Presiden Jokowi mengikuti sesi Foto Bersama dan berdiri di antara Presiden Perancis François Hollande dan PM Inggris David Cameron.

Setelah mengikuti Sesi Foto bersama, Presiden Jokowi mengikuti Sesi II G7 Outreach Meeting. Pada sesi ini, Presiden Jokowi duduk di antara PM Abe dan PM Inggris David Cameron.

Di sini Menteri PPN Sofyan Djalil akan menjelaskan pentingnya global partnership serta peningkatan global health coverage di Indonesia.

Di penghujung kehadirannya di KTT G-7 Outreach, Presiden Jokowi mengadakan pertemuan dengan Presiden Perancis François Hollande.

Pada kesempatan lainya Indonesia mengatakan Siap Menjadi Motor Terciptanya Asia dan Dunia yang Damai dan Sejahtera, kawasan Asia Pasifik adalah kawasan yang tergolong paling aman dibandingkan kawasan lainnya. Oleh karenanya, tidaklah heran jika kawasan Asia pada tahun 2016-2017 diperkirakan memiliki pertumbuhan ekonomi relatif lebih baik, yakni sekitar 5,3% dibanding rata-rata dunia sebesar 3,2%. “Di tahun 2015, ekonomi Indonesia di kuartal terakhir tumbuh 5,04 persen,” ucap Presiden Joko Widodo saat menjadi lead speaker pada KTT G-7 Outreach Sesi I dengan topik bahasan ‘Stabilitas dan Kesejahteraan di Asia’.

Presiden Jokowi lebih lanjut mengingatkan bahwa kekerasan memberikan dampak kerugian yang sangat besar. “Tahun 2014, kerugian global akibat kekerasan bersenjata mencapai USD 14,3 triliun atau 13,4 persen dari PDB Dunia,” ucap Presiden.

Asian Century 2050

Menurut Presiden, dunia juga memahami bahwa potensi Asia untuk berkembang masih besar. Berdasarkan proyeksi Asian Century 2050, Asia akan menghasilkan PDB USD 174 triliun atau 52 persen PDB dunia. Sebagai bagian dari Asia, Indonesia, kata Presiden yakin dapat mengambil bagian dari Asian Century. “Saat ini lebih dari 50 persen penduduk Indonesia berusia dibawah 29 tahun. Indonesia juga dikaruniai kekayaan dan sumber energi yang cukup”, kata Presiden.

Perdamaian dan stabilitas menurut Presiden adalah hal yang harus diciptakan dan dijaga. Oleh karenanya, negara-negara Asia harus dengan penuh kesadaran menciptakan perdamaian dan stabilitas ini. Presiden menilai bahwa segala potensi konflik yang tinggi di Asia, seperti Laut Tiongkok Selatan dan Semenanjung Korea, harus dapat dikelola dengan baik.

Dalam konteks ini, Presiden Jokowi menekankan agar penyelesaian secara damai harus selalu menjadi pilihan utama.

Presiden Jokowi berpendapat bahwa sudah waktunya dunia paham mengenai pentingnya penyelesaian masalah tanpa menciptakan masalah yang lebih besar. “Sudah waktunya penyelesaian militer atau penggunaan kekerasan justru akan menumbuhkan kekerasan lainnya, seperti ekstremis dan bahkan krisis kemanusiaan”, ucap Presiden.

Pada kesempatan ini, Presiden Jokowi menekankan bahwa Indonesia tidak menginginkan Asia menjadi kawasan yang penuh konflik dan menjadi ajang power projection negara-negara besar. “Indonesia juga ingin menekankan bahwa semua negara, saya ulangi, semua negara tanpa terkecuali, harus menghormati hukum internasional”, tegas Presiden Jokowi. Tanpa penghormatan terhadap hukum internasional, Presiden berpendapat, perdamaian dan stabilitas tidak akan dapat tercipta.

Menurut Presiden, dunia sudah tidak berjalan secara bipolar dan sudah muncul banyak negara (emerging countries) yang memiliki potensi dan telah terbukti mampu berkontribusi banyak terhadap dunia. Oleh karena itu, Presiden mengusulkan agar dunia harus ditata dengan melibatkan emerging countries. “Indonesia siap menjadi motor terciptanya Asia dan dunia yang damai dan sejahtera”, ucap Presiden.

Pertemuan ini berlangsung di Shima Kanko Hotel the Classic, Shima Jepang, pada Jumat pagi, 27 Mei 2016, waktu setempat. Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, bertindak sebagai moderator dalam acara ini dan Presiden Jokowi didampingi oleh Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi.

Pada saat berita ini dimuat, pesawat Kepresidenan Indonesia-1 yang membawa Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo beserta rombongan mendarat di Bandara Internasional Halim Perdanakusuma Jakarta, Jumat 27 Mei 2016 pukul 22.25 WIB setelah menempuh perjalanan selama hampir 7 jam menit dari Bandara Internasional Chubu Centrair, Jepang.

halim

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN