Katarak Paling Banyak Sebabkan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan

KITANESIA,Bandung, 5 Februari 2017– Katarak ditengarai menjadi penyebab sebagian besar gangguan penglihatan dan kebutaan di dunia, termasuk di Indonesia. Mengutip hasil survei kebutaan di Indonesia yang dikembangkan oleh International Center of Eye Health (ICEH) dan direkomendasikan oleh WHO melalui metode Rapid Assasment of Avoidable Cataract (RAAB), yang memberikan gambaran situasi aktual dan data akurat prevalensi kebutaan serta gangguan penglihatan.

Survei yang dilakukan di 15 Propinsi Indonesia pada populasi usia ≥ 50 tahun, mendapatkan angka prevalensi kebutaan tertinggi sebesar 4,4,% (Jawa Timur) dan terendah sebesar 1,4% (Sumatera Barat), yang mana sebanyak 64-95% disebabkan oleh katarak.

“Hal ini dikarenakan Indonesia merupakan negara tropis yang mendapatkan pancaran sinar ultraviolet (UV) lebih banyak, sehingga memengaruhi daya tangkap mata,” kata Menkes pada acara Kampanye Pupil Putih atau White Pupil Campaign di RS Pusat Mata Nasional Cicendo di Bandung, Minggu pagi (5/2). Kampanye ini dilakukan bertepatan dengan momen peringatan Hari Ulang Tahun ke-108 RS Pusat Mata Nasional Cicendo yang jatuh setiap tanggal 3 Januari. Hadir pula dalam acara ini, Gubernur Provinsi Jawa Barat, Achmad Heryawan dan Walikota Bandung Ridwan Kamil.

Diperkirakan setiap tahun kasus baru buta katarak akan selalu bertambah sebesar 0,1% dari jumlah penduduk atau kira-kira 250.000 orang/tahun. Oleh sebab itu, operasi adalah tindakan yang paling tepat dan cepat untuk menanggulangi buta akibat katarak. Caranya yaitu dengan mengangkat lensa yang keruh dan menggantinya dengan lensa buatan sehingga penglihatan dapat kembali normal. Operasi ini tidak memakan biaya yang terlalu mahal dan telah masuk ke dalam skema jaminan kesehatan nasional (JKN) yang dijalankan oleh BPJS Kesehatan.

Kebutuhan operasi katarak di Indonesia lebih kurang 240.000 orang setiap tahunnya. Sementara itu, kemampuan untuk melakukan operasi katarak diperkirakan baru mencapai 180.000/tahun sehingga setiap tahun selalu bertambah backlog. Besarnya backlog katarak disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah karena akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan mata masih terbatas terutama di daerah-daerah tertinggal, perbatasan dan kepulauan yang belum memiliki fasilitas pelayanan kesehatan dan SDM kesehatan yang memadai, salah satunya keberadaan dokter spesialis mata. Jika kita tidak segera mengatasi backlog katarak ini maka angka kebutaan di Indonesia semakin lama akan semakin tinggi.

Salah satu upaya yang dilakukan oleh PMN RS Mata Cicendo Bandung untuk mengurangi backlog katarak adalah dengan menambah kamar bedah yang pada hari ini diresmikan. Dengan bertambahnya kamar bedah, PMN RS Mata Cicendo Bandung dapat melakukan lebih banyak operasi katarak sehingga dapat mengurangi jumlah penderita katarak.

108 Tahun RS PMN Cicendo: Kita Bersama untuk Masyarakat

Gubernur Jawa Barat, Dr. Achmad Heryawan, LC, menyatakan kebanggaannya dengan keberadaan RS PMN Cicendo yang telah berusia jauh lebih tua dibandingkan Republik Indonesia. Ia mendukung Jawa Barat siap dalam upaya pencegahan dan penanggulangan kebutaan Kami tidak ragu, bila ada program percontohan untuk mempercepat penyelesaian masalah gangguan penglihatan dan kebutaan serta peningkatan kesehatan mata, kami siap”, tandas Achmad Heryawan.

Pada peringatan ulang tahun RS PMN Cicendo, dijelaskan oleh Direktur Utama RS PMN Cicendo, dr. Irawati, SpM(K), MARS, diselenggarakan bakti sosial operasi katarak bagi 108 orang, skrining Diabetik Retinopati dan pemilihan Duta Mata Sehat Masyarakat.

“Dengan bertambahnya usia, RS PMN Cicendo tetap ingin terus meningkatkan layanan kesehatan mata bagi masyarakat”, tuturnya.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, dan email kontak@depkes.go.id.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN