Lagi – lagi , Gempabumi “OUTER RISE” Tidak Berpotensi Tsunami

Kitanesia.co – Sabtu, tanggal 23 Juli 2016, pukul 14.41.48 WIB, sebagian besar wilayah pesisir barat Bengkulu hingga Lampung diguncang gempabumi tektonik dengan kekuatan M=5,4. Pusat gempabumi ini terletak pada koordinat 6,44 lintang selatan dan 101,32 bujur timur, tepatnya di Samudera Hindia pada jarak sekitar 334 kilometer arah baratdaya Bengkulu Selatan pada kedalaman hiposenter 10 kilometer.

Unknown-3

Berdasarkan hasil analisis peta tingkat guncangan (shake map) BMKG, tampak bahwa gempabumi ini menimbulkan guncangan pada I Skala Intensitas Gempabumi BMKG (SIG-BMKG) atau II skala intensitas Modified Mercally Intensity (MMI) di Bengkulu, Seluma, Tanjungkemuning, Pandanganget, Manna, Tanjung Raya, Bintuhan, Krui, Liwa, dan Kotajawa. Gempabumi ini tercatat dengan baik oleh seluruh peralatan BMKG, dan di berbagai daerah tersebut dampak guncangan gempabumi dirasakan oleh orang banyak tetapi tidak menimbulkan kerusakan, sementara benda-benda ringan yang digantung berayun dan jendela kaca bergetar.

Jika ditinjau kedalaman hiposenterya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal di kerak samudera, dan jika ditinjau dari lokasi episenternya maka gempabumi ini merupakan gempabumi outer rise karena berpusat di luar zona subduksi.

” Gempabumi di zona outer rise ini menarik untuk dicermati, karena jika kekuatannya besar dapat berpotensi memicu tsunami. Hal disebabkan karena mekanisme sumbernya yang cederung turun (normal fault) sehingga dapat mengganggu kolom air laut. Peristiwa gempabumi outer rise dengan kekuatan signifikan di Indonesia tidak banyak, tetapi catatan tsunami menunjukkan bahwa hampir semua gempabumi kuat di zona ini memicu tsunami.” kata Daryono – Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG

” Contohnya adalah: (1) gempabumi Jawa 11 September 1921 M=7,5 yang memicu tsunami di sepanjang pantai Cilacap hingga Pacitan, (2) gempabumi Sumba 19 Agustus 1977 M=8,3 yang memicu tsunami di Pantai Lunyuk, Sumbawa, dan menelan korban lebih dari 100 orang, dan (3) gempabumi Aceh 11 April 2012 M=8,3 juga memicu tsunami kecil di pantai barat Aceh. Sementara itu catatan dari luar negeri menunjukkan bahwa zona outer rise pernah memicu tsunami besar, seperti The 1933 Sanriku tsunami di Jepang yang menelan korban lebih dari 3000 orang dan Tsunami Samoa pada tahun 2009.” ujar Daryono

samoa

Daryono juga menjelaskan “Sebagai catatan kita, bahwa 8 hari lalu tepatnya pada 15 Juli 2016, sebagian besar wilayah selatan Jawa diguncang gempabumi tektonik dengan kekuatan M=5,1 yang episenternya juga terjadi di zona outer rise selatan Jawa Barat. Bersyukur bahwa 2 peristiwa gempabumi di zona outer rise akhir-akhir ini kekuatannya relatif kecil, sehingga meskipun mekanisme sumbernya berupa sesar turun, tetapi tidak berpotensi tsunami.” tandasnya

jawa01

Dari hasil monitoring BMKG selama satu jam pasca gempabumi di zona outer rise Samudera Hindia barat daya Bengkulu ini belum terjadi gempabumi susulan. Untuk itu masyarakat pesisir di Bengkulu hingga Lampung dihimbau agar tetap tenang mengingat gempabumi yang terjadi tidak merusak dan tdak berpotensi tsunami.

 

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN