Masyarakat Industri Konstruksi Indonesia Ingin Bergotong Royong Dengan Pemerintah

Kitanesia – Pada tanggal 25 – 29 Mei 2016 yang lalu berlangsung acara pameran konstruksi Indo Buildtech Expo di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD Serpong. Acara ini sukses dihadiri 45.000 pengunjung, suatu jumlah yang sangat besar, yang menggambarkan optimisme masyarakat konstruksi Indonesia, walau ditengah situasi pertumbuhan ekonomi yang melambat.

ind ice

Jika dilihat lebih cermat, acara ini merupakan wujud gotong royong kreatif dari masyarakat industri konstruksi Indonesia. Dari segi tempat, ICE, yang sekarang merupakan tempat eksebisi dan pameran terbesar di Indonesia, dibangun atas visi kedepan dari dua investor pengembang dan media terkemuka di Indonesia. Lokasi ini dirasa sangat jauh dari tempat kegiatan yang biasa dilakukan, bagaimana bisa menarik para pengunjung masyarakat konstruksi Indonesia ?.

Penyelenggara pameran lalu melakukan terobosan, dengan melakukan kerjasama dengan berbagai asosiasi masyarakat konstruksi Indonesia, untuk menyelenggarakan event asosiasi selama pameran. Tercatat lebih dari 30 asosiasi yang menyelenggarakan lebih dari 50 event. Bagaimana dengan lokasi yang jauh?, penyelenggara lalu bekerjasama dengan salah satu penyedia jasa taksi terkemuka, untuk menjamin siapapun pengunjung terdaftar, dapat difasilitasi antar jemput ke tempat pameran.

Acara pameran sendiri telah menarik minat para produsen dan pelaku jasa konstruksi global dari seluruh penjuru dunia. Hal ini menunjukkan optimisme dunia akan masa depan cerah Indonesia. Hal yang bisa dirasakan adalah keberanian para pemain global ini untuk datang jauh-jauh berjibaku ke Indonesia, dan lalu dengan berbagai cara yang ‘smart’ berusaha memasarkan produk-produknya, dan juga mencari pijakan dan partner Indonesia untuk diajak berkolaborasi.

Indonesia secara obyektif memang masih memerlukan masukan teknologi dari luar untuk mendukung percepatan pembangunan infrastruktur 2015-2019 yang digagas pemerintah kabinet kerja. Hal yang menggembirakan adalah, para asosiasi masyarakat konstruksi Indonesia sudah mempunyai kesepahaman untuk tetap mengutamakan produksi dalam negeri, dan secara bijaksana akan mengembangkan kerjasama konstruktif dengan para pemain global untuk mendukung penguatan industri konstruksi nasional Indonesia.Pengalaman selama ini menunjukkan, jika kita hanya ingin menjadi ‘agen’ produk asing, memang sepertinya terlihat mudah dan cepat  dapat untung, namun ternyata hasilnya sering tidak optimal dan justru mengecewakan pihak-pihak yang terlibat.

Walau event ini tidak ada kata sambutan dari Pemerintah namun acara ini tetap berjalan, informasinya pembukaan acara ini akan dibuka langsung oleh Presiden, namun kemudian tidak jadi, dengan informasi yang disampaikan Mensesneg ke panitia. Hanya saja instruksi pada yang akan mewakili tidak dilakukan dengan sigap, sehingga akhirnya panitia memutuskan untuk melakukan pembukaan acara tanpa wakil pemerintah. Menteri Perumahan Rakyat dan Pekerjaan Umum memang kemudian hadir, namun sudah di luar acara pembukaan, sehingga kemudian menerima masukan-masukan kritis dari asosiasi masyarakat konstruksi Indonesia.

Gotong royong antara Pemerintah dan masyarakat konstruksi Indonesia adalah sangat penting untuk mendukung percepatan pembangunan infrastruktur dan mempersiapkan industri konstruksi nasional dalam masa MEA dan menyongsong pasar global 2020. Pemerintah harus menggunakan kegiatan pembangunan terutama yang dibiayai anggaran negara, dan segala wewenang yang dimilikinya untuk juga membina dan meningkatkan kapasitas industri konstruksi nasional. Para pelaku industri konstruksi nasional juga harus menyesuaikan cara berpraktek dengan sifat kreatif dan kompetitif MEA dan Pasar Global.Gotong royong kreatif yang dilakukan masyarakat konstruksi Indonesia seperti dilakukan pada Indo Buildtech Expo, jika dilakukan secara konsisten, merupakan modal yang kuat untuk kemajuan industri konstruksi nasional Indonesia.

*(KitaHN)

 

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN