“New Born” PSSI ala Sepakbola UEFA

Sahur….Sahur….Golllll !!!

Tembakan melengkung Dimitri Payet di menit 89 merupakan menu pendamping sahur hari pertama Euro 2016. Ya, turnamen yang akan menemani sahur kita di bulan Ramadhan ini adalah puncak dari kalender 4 tahunan Union of European Football Associations (UEFA). UEFA boleh kalah umur (berdiri 15 Juni 1954) dengan Fédération Internationale de Football Association (FIFA berdiri 21 Mei 1904), bahkan dengan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI berdiri 19 April 1930), tapi siapapun mengakui bahwa dibawah UEFA lah tercipta suatu industri sepakbola terbaik di dunia.

Henri Delaunay sudah menginisiasi pembentukan kompetisi UEFA sejak tahun 1927, namun berbagai kejadian luar biasa (terbentuknya NAZI Jerman, perang dunia kedua, perang dingin) yang terjadi di Eropa membuat inisiasi ini baru bisa terlaksana pada tahun 1960. Sejak itu Euro diselenggarakan setiap 4 tahun tanpa terputus sampai sekarang. Kekonsistenan ini adalah yang terbaik dari 5 konfederasi lain dalam FIFA.

Euro ke 14 pada tahun 2012 di Polandia-Ukraina disaksikan 300 juta orang di seluruh dunia. Luar biasa ! Apa jualan utama dari industri sepakbola UEFA ? Tentunya produk pertandingan sepakbola yang bermutu terbaik bagi fans , yang dimainkan oleh pemain-pemain terbaik dari seluruh dunia hasil dari sistem pembinaan terstruktur dan sistematis industri ini. Lihatlah kegiatan pembinaan dan kompetisi dari seluruh klub dan negara anggota UEFA, mulai dari amatir, junior, sampai masuk profesional. Globaliasi disikapi dengan baik dengan pencarian bibit pemain secara internasional, disamping promosi masif ke seluruh dunia untuk mendekati fans.

Pemain-pemain terbaik yang sedang masa terbaik pastilah bermain di Liga Eropa, Messi dan Neymar tidak main di Conmebol (Amerika Selatan) walau mereka warga negara Argentina dan Brasil , Ronaldo saat ini pasti tidak akan mau main di AFC (Asia), CAF (Afrika), atau Conmebol. Yang main di Liga non UEFA, pastilah pemain kelas kedua.

Industri dengan produk yang baik, pasti akan mudah mengundang investor, lihatlah investor dari seluruh dunia berebut mensponsori klub-klub anggota UEFA, sehingga industri ini menjadi semakin besar. Primer league Inggris misalnya, sekarang ditaksir bernilai £ 1.6 milyar !

Bagaimana dengan etika dan ketegasan hukum ? Tender pelaksanaan Euro relatif bersih, negara yang paling berminat dan menunjukkan kesiapan yang terbaik, akan memenangkan hak menjadi tuan rumah. Jika ada yang tersangkut korupsi atau seperti kasus Panama Paper, langsung disuruh mundur, hal ini bahkan menimpa tokoh sekelas Michel Platini yang banyak jasanya bagi kemajuan UEFA. Hal ini jauh lebih baik dari FIFA sendiri kan ?

Bagaimana dengan judi bola ? Judi bola memang sepertinya merupakan industri ‘pendamping’ industri sepakbola. Rumah judi seperti Bwin, Wiliam Hill, Bet365 adalah perusahaan judi resmi. William Hill bahkan sudah go publik, dan Bwin bisa memperoleh pendapatan sampai US$ 400 juta. Judi di UEFA sampai dijuluki ‘judi bola adil’. Jika ada pengaturan skor, akan ditindak secara tegas, dengan tidak boleh terlibat lagi dalam kegiatan sepakbola seumur hidup.

Bagaimana dengan PSSI kita ? yang baru saja dicairkan dari kebekuannya ? Sepakbola adalah olahraga terpopuler di Indonesia, dan dengan jumlah penduduk yang besar, tentunya ini merupakan modal yang sangat berharga untuk terciptanya industri sepakbola yang baik. Jika dilihat dari sejarahnya, sudah banyak prestasi yang diraih. Tahun 1938 Indonesia sudah ikut Piala Dunia di Perancis. Dari tahun 1950 – 1970 Indonesia dikenal sebagai macan Asia, merepotkan Uni Soviet di Olimpiade Melbourne (1956), berkali-kali meraih medali di Asian Games, dan berkali-kali juara di kejuaraan antar negara, serta mampu menyelenggarakan turnamen internasional seperti Piala Marah Halim.

Bagaimana bisa PSSI kita menciptakan prestasi-prestasi seperti itu ? Jawabannya karena pembinaan dan semangat juang yang murni membela nama bangsa dan negara. PSSI pada masa tersebut terdiri dari perkumpulan amatir yang dikenal dengan nama perserikatan. Persija Jakarta, Persib Bandung, Persebaya Surabaya, PSMS Medan, Persipura Jayapura dll adalah nama-nama perserikatan yang terkenal di masa itu. Tiap perserikatan mempunyai klub-klub (misalnya klub Jayakarta dari Persija, Propelat dari Persib, Mandala dari Persipura) yang melakukan pembinaan dan kompetisi secara teratur, yang lalu ditingkat nasional diadakan kejuaraan baik antar klub perserikatan maupun antar perserikatan secara periodik.

Pada era 1970-an, mulai dirintis adanya klub profesional sampai akhirnya terbentuk liga semiprofesional Galatama pada tahun 1979. Jadi PSSI sebenarnya sudah siap ‘lepas landas’ menuju industri sepakbola modern sejak tahun 1979. Hanya saja pada era ini jugalah masuk virus judi bola ,yang sialnya, tidak terorganisir seperti di Eropa. Judi dilakukan dengan menyuap pemain untuk mengatur skor. Hal ini sangat fatal bagi perkembangan industri sepakbola, karena dilakukan dengan merusak ‘produk’ yang seharusnya menjadi jualan utama bagi para fans. Degradasi ini jelas berpengaruh pada prestasi tim nasional. Pertandingan pertarungan seru final penyisihan Olimpiade Montreal 1976 melawan Korea Utara di Gelora Bung Karno dan final penyisihan Piala Dunia 1982 melawan Korea Selatan boleh dikatakan akhir dari julukan ‘Macan Asia’.

Perserikatan dan Galatama pada awalnya berjalan baik. Niac Mitra dengan dukungan Fandi Ahmad, jagoan Singapura, sempat mengharumkan nama Indonesia di Piala Aga Khan 1982. Namun judi, suap dan pengaturan skor yang semakin menjadi. Pemain yang disuap justru pemain-pemain kunci, karena merekalah yang bisa mengatur jalannya pertandingan. Pada jaman itu, sogokan senilai 1 juta rupiah sudah cukup untuk membuat para pemain kunci itu tersebut menyerah. Saking parahnya, ada suatu klub yang pengurusnya melakukan deal dengan bandar judi, dan menyuruh para pemainnya mengatur skor. Maka terciptalah skor yang aneh-aneh. 10 – 1, 11 – 0 ?. Galatama berantakan, tim nasional Indonesia pun berantakan. Prestasi yang paling memalukan adalah kalahnya kita 0 -7 dengan Thailand di SEA Games 1985 di Bangkok.

Para pelaku suap ditindak tegas, dan kompetisi perserikatan dan galatama bergulir lagi dengan optimisme baru. Indonesia menjadi juara keempat di Asian Games 1986 di Seoul, dan untuk pertama kalinya meraih medali emas di SEA Games 1987 di Jakarta. Namun bagai petir di siang bolong, terungkap suap lagi, kali ini menimpa 4 pemain tim nasional, bahkan pada suatu even internasional. Yang lebih parah pada perserikatan terjadi kasus sepakbola gajah. Pada tanggal 21 Februari 1988 Persebaya Surabaya mengalah 0 -12 ke Persipura Jayapura untuk menyingkirkan PSIS Semarang yang mengalahkan Persebaya pada final Perserikatan setahun sebelumnya. Sejak saat itulah perserikatan terjerumus pada fanatisme pengurus daerah yang menggunakan segala cara untuk menang. Medali emas SEA Games 1991 di Filipina, adalah gelar juara terakhir yang dapat diraih PSSI.

Sejak itu sepakbola Indonesia diurus oleh kombinasi pengurus yang lemah, fanatisme kedaerahan, alat politik pimpinan daerah (pakai dana APBD), dan bandar judi ? yang tidak berorientasi untuk menghasilkan produk yang baik. Prestasi hebat tidak pernah datang lagi. Usaha-usaha yang dilakukan lebih bersifat instan.

Penggabungan perserikatan dan galatama menjadi Liga Indonesia pada tahun 1994, dengan pemain asingnya seperti Roger Milla dan Mario Kempes, memang menghasilkan pertandingan-pertandingan seru (lengkap dengan bumbu adu tinju, intimidasi wasit dll), namun hancurnya pembinaan terstruktur seperti di tahun 1960 – 1980 membuat sepakbola Indonesia mati kutu. Pembentukan tim super PSSI Primavera di Italia juga tidak langgeng memberikan prestasi. Diperbolehkannya pemain naturalisasi menjadi pemain nasional seperti merupakan langkah putus asa.

Apakah tidak ada bakat-bakat hebat dari 250 juta rakyat Indonesia ? Jelas ada. Pada tahun 2010, kombinasi dari bakat alami dan pemain naturalisasi, dibawah pelatih Alfred Riedl, menyentak sepakbola Indonesia pada piala Asean Football Championship (AFF). Semua lawan dikalahkan lewat permainan yang atraktif, publik Indonesia berbondong-bondong ke Gelora Bung Karno dengan semangat nasionalisme tinggi. Tapi apa lacur, permainan atraktif itu hilang ketika semifinal di Malaysia.

Malaysia yang sebelumnya kita bantai 5 – 1, mempecundangi kita 3 – 0. Apakah ada bandar judi bermain ? Kita hanya bisa menduga-duga. Tidak pernah ada suap ditangkap selama Liga Indonesia berjalan sejak 1994, walau beberapa media pernah mengungkap beberapa testimony dari para pemain yang dikaburnya mukanya, bahwa praktek itu tetap berjalan.

PSSI hanya menghukum yang benar-benar keterlaluan seperti menjatuhkan skorsing seumur hidup pada pemain yang main sepakbola gajah melawan negeri gajah di Piala Tiger 1998 dengan menciptakan gol bunuh diri secara sengaja, dan pada tim PSS Sleman dan PSIS Semarang yang menciptakan 5 gol bunuh diri di Divisi Utama tahun 2014. Tim nasional U-19 pimpinan Nil Maizar pada tahun 2013 juga membelalakan publik Indonesia dengan permainan tiki taka ala Barcelona, Evan Dimas dkk maju ke babak penyisihan final setelah mengalahkan favorit Korea Selatan 3 – 2. Tapi setelah itu, semua kebingungan untuk me-maintaint. Akhirnya di putaran penyisihan final di Myanmar tahun 2014, tim kita selalu kalah dalam 3 kali pertandingan. Pupus lagi lah harapan bangsa Indonesia….

Pada era pemerintahan kabinet kerja, Presidebin Jokowi mengambil sikap tegas dan berani. PSSI diminta bergerak ke arah industri sepakbola seperti UEFA. Dengan wewenang yang dimilikinya, ketika PSSI dianggap mulai melenceng, diberikan peringatan. Karena tidak digubris, peringatan diberikan sampai 3 kali, lalu PSSI dibekukan Kemenpora tanggal 17 April 2015. Semua pihak terkejut atas langkah pemerintah ini, dan mengingatkan Presiden bahwa Indonesia bisa dijatuhi sanksi dari FIFA. Tapi Presiden, yang menurut istilah Setya Novanto, tetap koppeg. FIFA menjatuhkan sanksi PSSI pada tanggal 30 Mei 2015, namun pada masa itu terbongkarlah skandal suap yang memalukan di FIFA, yang menghilangkan otoritas moral lembaga itu.

Presiden rupanya sudah mempunyai arahan sendiri dalam melahirkan ‘New Born PSSI’. Pada masa pengucilan PSSI, dibuat berbagai kejuaraan untuk mengisi waktu. Yang ‘unik’ adalah dibentuknya suatu kesebelasan PS TNI, yang ikut dalam kejuaraan-kejuaraan tersebut. Setelah FIFA melakukan reorganisasi, Presiden menyatakan mengambil alih masalah PSSI, dan berunding langsung dengan FIFA. Pimpinan PSSI yang terindikasi melakukan tindakan hukum, ditindak tegas. Agum Gumelar dan Erick Tohir 28 April 2016 melakukan negosiasi final dengan Presiden FIFA baru, 10 Mei 2016 Kemenpora mencabut pembekuan PSSI, dan 13 Mei 2016 FIFA mencabut sanksi PSSI. Tim 85 yang dikomandani PS TNI mengajukan Kongres Luar Biasa….

Arahan tersebut secara jelas dinyatakan kepada pengurus PSSI pada tanggal 15 April 2016

“Saya ingin betul-betul ada sebuah reformasi total dan kita harapkan nanti muncul klub-klub bola, tim nasional yang betul-betul disegani, paling tidak di Asia, syukur nanti bisa masuk lagi ke tingkat dunia. Saya kita itu keinginan rakyat, keinginan kita semua,” 

Presiden Jokowi juga mengungkapkan data dari FIFA (Federasi Sepak Bola Internasional) tentang negara yang sepak bolanya memiliki prospek yang sangat besar, yaitu Cina, India, dan Indonesia. Menurut dia, sepak bola Indonesia memiliki fanatisme yang sudah terbentuk, 

“Peluang ini sebetulnya memberikan optimisme, prospek ke depan persepakbolaan Indonesia, asal kita kelolanya dengan betul dan benar,” .

Presiden meyakini akan banyak investor berbondong-bondong masuk ke Tanah Air seperti yang terjadi di Cina, apabila sepak bola nasional nanti sudah menjadi sebuah industri besar dan menguntungkan

“Para pemain yang bayarannya tinggi masuk semua ke sana. Investor, industri sepak bola juga berbondong-bondong ke sana. Kenapa kita tidak dengan data dari FIFA tadi,”

“Tidak akan lahir pemain besar dan Tim Nasional yang berprestasi di dalam pengelolaan sepak bola yang amburadul,” “Semua harus berani berkorban dan mendukung langkah ini.”. – Tempo.co

Jadi industri sepakbola ala standar UEFA adalah arahan Presiden bagi ‘New Born PSSI’ Tentunya kita harapkan dalam tahun-tahun mendatang di Piala Dunia.

Martono bawa bola….oper ke Alif…Alif meliuk-liuk melewati 3 orang pemain seperti gaya Messi…..tembak…goallll !

 

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN