Pembangunan Flyover Jatingaleh, Semarang Tidak OnTime Schedule

KITANESIA ,Semarang – Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono meninjau progres pekerjaan Pelebaran Jalan Teuku Umar – Setiabudi, Jatingaleh, Semarang. Proyek ini memiliki tiga pekerjaan utama yakni pembangunan Underpass Kesatrian, Flyover Jatingaleh dan Underpass Gombel sepanjang 1,3 Km. Peninjauan dilakukan sebelum bertolak ke Provinsi Gorontalo melanjutkan kunjungan kerjanya.

Menteri Basuki turun langsung melihat progres pekerjaan di lokasi pembangunan Jembatan Jatingaleh yang kerap menimbulkan kemacetan. Sesampainya di lokasi, Menteri Basuki mendapatkan penjelasan dari kepala proyek mengenai keterlambatan progres pekerjaan.

Perihal lambatnya penyelesaian proyek ini, Menteri Basuki mengatakan dirinya sudah mengetahui hal tersebut setelah mendapatkan pesan SMS dari warga Semarang.

“Masyarakat khususnya pengguna jalan sudah jenuh dengan kemacetan akibat pekerjaan ini. Tolong sampaikan hal-hal yang menjadi penghambat pekerjaan, termasuk bila yang menghambat itu dari unsur kami sendiri. Jangan takut-takut,” kata Basuki kepada kepala proyek di lokasi, Semarang, Minggu (30/4/2017).

Menteri Basuki selanjutnya menginstruksikan kontraktor untuk memperbaiki metode kerja, menambah peralatan, material dan tenaga kerja, sehingga bisa dikerjakan 3 shift selama 7 hari.

“Saya kira kita bisa lihat cara kerja, material dan tenaga kerjanya yang menjadi kendala. Sekarang progresnya masih 56%, behind schedule. Kalau progresnya lambat, pasti tidak akan selesai tepat waktu. Untuk itu segera lakukan evaluasi menyeluruh melalui mekanisme show cuse meeting. Susun jadwal baru dengan skenario percepatan. Saya minta tujuh hari seminggu, dengan dua-tiga shift kerjanya, sama seperti empat flyover kemarin,” tutur Basuki.

Keterlambatan pembangunan ini juga menjadi evaluasi Kementerian PUPR dalam mengantisipasi kemacetan yang akan terjadi pada arus mudik lebaran nanti. Pada hari biasa saja, lalu lintas di ruas jalan ini tersendat akibat penyempitan jalan akibat pelaksanaan proyek.

“Kami minta pekerjaan ini bisa dipercepat, agar bisa fungsional saat mudik Lebaran. Kalau ini tidak selesai, berpotensi menjadi simpul kemacetan. Kita sudah berupaya keras dengan penyelesaian jalan tol hingga Ngaliyan. Macet bisa terjadi pada titik ini,” lanjut Menteri Basuki

Proyek yang dimulai pekerjaannya sejak tahun 2015 ini sempat terkendala pembebasan lahan dan masalah utilitas.

Namun setelah kembali dilanjutkan pada akhir 2016 lalu, progresnya terbilang lambat dan meleset dari target. Proyek yang harusnya selesai 31 Juli 2017, sekarang pencapaiannya masih 56%, lebih lambat dari rencana progres 68%. Pendanaan proyek ini berasal dari APBN dengan alokasi anggaran sebesar Rp 68 miliar. (*)

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN