Perayaan Waisak – Tiga sifat manusia, yaitu: keserakahan, kebencian, dan kebodohan.

Kitanesia – Umat Buddha menggelar proses pengambilan api alam yang bersumber dari api abadi di Daerah Mrapen.  Prosesi ini menjadi salah satu bagian penting dari perayaan Waisak, di samping ritual pengambilan air dan kegiatan bakti sosial.

Acara pengambilan api alam ini diikuti umat  dari Majelis Agama Buddha, yaitu: Majelis Madatantri, Majelis Martrisia, Majelis Mapabumi dan Mapaputih. Tampak hadir juga Ketua DPD Walubi  Provinsi Jawa Tengah David Hermanjaya dan Bupati Sri Sumarni.

368424

Pgs Direktur Urusan Agama  dan Pendidikan Agama  Budha Paniran mengatakan proses pengambilan api memberi makna tentang pentingnya memberi penerangan yang oleh Sang Buddha digambarkan sebagai dharma. Menurut Paniran, manusia memiliki tiga sifat, yaitu: keserakahan, kebencian, dan kebodohan. Akan hal ini, sang Buddha  memberikan  ajaran tentang pentingnya kesederhanaan.

“Kembangkanlah dirimu  yakni dengan memiliki cinta kasih  ke semua mahluk, memiliki welas asih, memilikilah empati. Kalau diri ini mampu mengembangkan tiga hal itu, pasti manusia akan memiliki kebijakan yang bisa membedakan baik dan buruk,”  terang Paniran, Jumat (20/05).

Pada kesempatan yang sama, Ketua DPD Walubi Provinsi Jawa Tengah David Hermanjaya  mengatakan, bahwa proses pengambilan api alam menjadi rangkaian penting dalam perayaan Waisak.   Menurutnya, api merupakan salah satu elemen penting penunjang kehidupan  selain air dan udara. Api mempunyai sifat antara lain bisa membakar dan menerangi . Dengan pengambilan api, umat Buddha diharapkan dapat membakar bathin yang lesu,  dan sebaliknya membangkitkan semangat hidup yang benar  sesuai ajaran sang buddha.

“Membakar untuk memurnikan hidup kita. Emas yang murni dan berharga lahir dari pemurnian dalam api. Emas murni harus berada didalam api cukup lama sampai kotoran dan ketidakmurnian yang terkandung di dalamnya  bisa terbakar atau terkikis habis,” ujarnya.

Perayaan Waisak dalam rangka memperingati Tri Suci Waisak, yaitu: pertama, lahirnya Pangeran Sidharta, kedua Pangeran Sidharta mencapai penerangan sempurna, dan ketiga  Sang Buddha mencapai paritinitana. Rangkaian Tri Suci Waisak ini diawali dengan kegiatan  bakti sosial, pengambilan api di Mrapen, pengambilan air di Jumprit, dan puncak Waisak dilaksanakan di Candi Borobudur pada Sabtu (21/05).

Sumber Kementrian Agama.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN