Peristiwa Langka, Kulminasi Matahari di Pontianak 21-23 Februari 2017

KITANESIA, PONTIANAK- Fenomena alam yang menarik bakal terjadi di Pontianak, Kalimantan Barat, 21 – 23 Februari 2017, mendatang. Yakni, Kulminasi Matahari yang merupakan salah satu peristiwa langka di Tugu Khatulistiwa Pontianak tepat pukul 11.38 WIB. Ini mirip GMT –Gerhana Matahari Total—lalu, yang hanya terjadi di beberapa tempat dan terbatas waktunya.

”Ini bisa menjadi momentum Pariwisata yang hebat. Kami akan promosikan agar menghadirkan wisatawan di Pontianak. Karena Pontianak dilintasi garis matahari, pada 0 detik, 0 menit, dan 0 derajat. Dalam satu tahun peristiwa ini hanya terjadi dua kali yakni pada 21-23 Maret dan 21-23 September. Anda ingin tahu? Silakan mengunjungi Kota Khatulistiwa,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pontianak, Hilfira Hamid.

Menpar Arief Yahya menyebut, fenomena alam yang langka itu idealnya dipromosikan jauh-jauh hari, karena wisatawan yang tertarik dengan peristiwa seperti ini biasanya berbasis kampus. Mahasiswa, dosen, peneliti, dan ilmuwan yang ingin mengabadikan peristiwa itu.

“Dan mereka selalu merencanakan lebih lama, meskipun waktunya sangat pendek,” jelas Arief Yahya.

Dia mencontohkan GMT yang dipuji di banyak Negara karena promosinya yang menggoda. Lalu dibuat berbagai event di 12 kota yang dilintasi peristiwa GMT itu. Hasilnya, penginapan dan akses pesawat menuju ke lokasi 12 kota itu benar-benar penuh.

Lebih lanjut Hilfira menjelaskan, kulminasi matahari adalah Fenomena alam ketika Matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Misteri alam dari gelaja alam tersebut adalah saat terjadi Kulminasi, posisi matahari akan tepat berada di atas kepala sehingga menghilangkan semua bayangan benda-benda dipermukaan bumi.  Bahkan di jeda waktu tersebut, para pecinta astronomi akan menyaksikan bayangan tugu seperti lenyap beberapa saat diterpa sinar Matahari. Demikian juga dengan bayangan benda-benda lain di sekitar tugu.

Berdasarakan hasil pengukuran BPPT, posisi Tugu khatulistiwa saat ini berada pada  0 derajat, 0 menit dan 0 detik lintang, 109 derajat 20 menit, 0 detik bujur timur. Walaupun terjadi pergeseran 117 meter dari garis equator sebelumnya tetapi spot ini masih dinyatakan spot terbaik untuk melihat gejala bintang di pusat tata surya galaksi Bima Sakti.

Disamping dengan daya tarik Kulminasi matahari, festival ini dimeriahkan dengan berbagai macam acara. Mulai dari festival seni, expo, festival makanan dan acara puncak yakni seremonial menyambut equinox. Memanfaatkan momen tersebut, pihak penyelenggara juga menjual paket destinasi lainya seperti menjelajahi sungai Kapuas yang menjadi sungai terpanjang di Indonesia. Atau mengunjungi Kampung Beting yang menjadi peradaban kota Pontianak di masa lalu yang masih dijaga kelestariannya hingga saat ini

”Kita juga mempersiapkan ragam destinasi lainnya, seperti  Arung Jeram Riam Berasap di Bengkayang Rumah Betang Radak, Keraton Kesultanan Kadariyah, Pantai Pasir Panjang dan Pantai Kura-Kura dan ragam paket destinasi Ekowisata di Singkawang. Kita akan sambut semua fenomena alam ini dengan nuansa Pariwisata,” ujar Hilfira.

Sekadar informasi, tidak semua negara di belahan dunia bisa menikmati misteri alam ini. Selain Indonesia ada empat negara lainnya yang berada di Afrika yang juga bisa menyaksikan keajaiban alam ini seperti negara Gabon, Zaire, Uganda, Kenya, dan Somalia.

“Namun dari semua negara yang dilintasi oleh garis khatulistiwa, hanya Pontianak kota satu-satunya di dunia yang berada tepat dilintasi oleh garis Khatulistiwa yang menhasilkan rekaan gambar tanpa bayang-bayang yang sempurna,” tambah Hilfira.

Selain dari saksi bisu keajaiban alam Kuliminasi matahari, tugu fenomenal icon Kota Pontianak ini juga menyimpan perjalana sejarah. Lewat satu ekspedisi internasional bangsa Belanda pada tahun 1928, ahli geografi Den 31 sten Maart pertama kalinya melebeli tempat ini sebagai titik/tonggak garis equator.Sejak Tugu pertama  berbentuk tonggak dengan anak panah pada tahun 1928, tugu yang menjadi icon kota Pontianak ini telah mengalami perubahan kurang lebih empat kali.

Menurut Badan Pusat Satatistik (BPS) Kunjungan Wisatawan  ke Kalimantan Barat pada September 2016 mencapai 2.877 kunjungan. Kunjungan Wisatawan ke Kalbar melalui dua jalur utama yaitu melalui pintu masuk Entikong dan pintu masuk bandara Supadio Kubu Raya. Kunjungan wisatawan melalui pintu masuk Entikong pada September 2016 sebanyak 2.148 orang sedangkan Sedangkan kunjungan yang masuk melalui pintu masuk Bandara Supadio pada Bulan September 2016 sebanyak 729 kunjungan.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Wisata Nusantara Kemenpar, Esthy Reko Astuti, mengapresiasi kegiatan tersebut serta meminta tiga kegiatan pariwisata utama yang akan dimasukkan ke agenda nasional dan ditawarkan kepada wisatawan mancanegara, serta wisatawan nusantara.

Keterlibatan masyarakat memang diperlukan agar pariwisata di suatu daerah dapat berkelanjutan, sehingga akan memunculkan multiplier effect yang dirasakan langsung. Selain itu, perlu juga inovasi terutama dalam pengemasan paket wisata. “Selain itu mereka juga harus melakukan persiapan dan memanfaatkan momentum itu dengan mengadakan berbagai festival, sehingga menarik bagi ilmuwan, dan wisatawan,” ucap Esthy.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN