Peribahasa Sebagai Karakter Budaya Bangsa

RESENSI BUKUOPENING

Dalam menyambut dua tahun kemerdekaan, 17 Agustus 1947 di Yogyakarta, Presiden Soekarno mengucapkan pidato amanat kenegaraaan dalam situasi genting, perpecahan politik dan ancaman agresi militer Belanda. Judul pidato diambil dari peribahasa Jawa berjudul “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung!“. Artinya segala sesuatu yang merintangi maksud dan tujuan harus disingkirkan. Soekarno menggunakan peribahasa tersebut untuk menggelorakan semangat rakyat agar terus berjuang mempertahankan kemerdekaan apapun rintangannya harus dihadapi.

Peribahasa atau yang sering disebut aformisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diartikan sebagai; (1) kelompok kata atau kalimat yang tetap susunannya, biasanya mengkiaskan maksud tertentu (dalam peribahasa termasuk juga bidal, ungkapan, perumpamaan); (2) ungkapan atau kalimat ringkas padat, berisi perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup atau aturan tingkah laku. Namun peribahasa tidak hanya menyangkut soal lingusitik, didalamnya ada nilai-nilai budaya yang mempengaruhi kehidupan bermasyarakat.

Peribahasa merupakan filsafat kearifan lokal yang menjadi nilai-nilai moral dan etika dalam kehidupan manusia nusantara dalam membangun komunikasi antara individu dengan individu, individu dengan masyarakat, masyarakat dengn masyarakat, masyarakat dengan hukum dan pemerintahan, antara individu dengan lingkungan dan antara individu/masyarakat dalam kehidupan spriritual. Kearifan lokal yang diangkat menjadi nilai-nilai kebangsaan ini yang oleh Soekarno dianggap sebagai berkarakter dalam budaya.

Kearifan lokal dalam bentuk peribahasa ini telah dirangkum dengan baik dalam buku karya Iman Budhi Santosa, penulis dan penyair dari Yogyakarta, Peribahasa Nusantara, Mata Air Kearifan Bangsa. Menurut penulis buku ini lahir dari keprihatinan karena peribahasa sebagai warisan kekayaan nusantara telah diabaikan, dilupakan, ditiadakan dan nyaris tak digunakan lagi baik oleh masyarakat lokal (pengguna awal) hingga ke tingkat nasional.
read2

Peribahasa meskipun lahir dalam konteks lokal, tapi isi dan makna yang dikandungnya bermuatan nilai-nilai universal dan kemanusiaan. Dalam buku Peribahasa Nusantara ini nilai-nilai universal itu dibagi dalam 30 bagian, dimana tiap bagian memberi tekanan khusus pada kebijaksanaan yang spesifik. Nilai-nilai universal yang sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tampak dalam bagian yang menyangkut kebijaksanaan dalam gotong royong, kerukunan, kemanusiaan dan tenggang rasa; tanggung jawab kemanusiaan, musyawarah dan mufakat; hukum dan keadilan; kritik sosial dan individual dan kepemimpinan dan kekuasaan.

Dalam pengantar buku Peribahasa Nusantara, Megawati Soekarnoputri menganggap peribahasa sebagai bagian dari revolusi mental, revolusi cara berpikir, cara kerja dan cara hidup yang lebih baik. Revolusi mental ini tidak dengan cara mengambil nilai-nilai dari luar, tapi menyerap nilai-nilai kearifan luhur nusantara. Menurut Megawati buku ini seperti mengajak kita bersilaturahmi dengan nenek moyang bangsa yang tersebar dari Aceh sampai Papua. Menurutnya kita dapat mempelajari dan meneladani leluhur bangsa yang telah mewariskan negeri ini lengkap dengan nilai-nilai adat dan budayanya yang beraneka ragam.

insert-1

Peribahasa juga menjadi wahana penting untuk menjadikan budaya sebagai perekat bangsa. Kearifan yang terdapat dalam peribahasa dapat menjadi pembelajaran lintas etnis, suku dan geografis untuk saling memahami satu sama lain dalam payung ke Indonesiaan. Menurut penulis buku ini dengan peribahasa kita dapat mempelajari nilai budaya saudara sebangsa dan setanah air guna membangun wawasan ke Indonesian yang lebih komprehensif. Pendekatan menyatukan Indonesia secara kultural ini menjadi salah satu pondasi Tri Sakti yang diformulasikan Soekarno sebagai “berkarakter dalam budaya.”

Buku Peribahasa Nusantara, kembali mengingatkan kita bahwa Indonesia yang beraneka ragam dalam suku dan bahasa harus diikat dengan ke Indonesiaan yang manusiawi dan persaudaraan. Selama 32 tahun Orde Baru, kekuasaan yang sentralistis dan otoriter membuat ikatan budaya menjadi marjinal, bahkan disingkirkan sebagai unsur pemersatu bangsa. Pembangunan ekonomi yang menjadi kiblat Orde Baru menjadi mantra suci menyingkirkan semua aspek yang menghalanginya, termasuk kearifan lokal bangsa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

insert 3

Pada akhirnya buku Peribahasa Nusantara ini kembali mengingatkan kita untuk membangun bangsa yang berkarakter dalam budaya. Dengan membaca dan menghayati peribahasa nusantara kita akan menemukan wujud dan konstruksi pondasi mental spiritual bangsa, persis seperti dirumuskan Soekarno dalam Pancasila. * * *

Peresensi Buku: Eko Sulistyo- Deputi Komunikasi dan Desiminasi Informasi Kantor Staf Presiden

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN