Revitalisasi Danau Limboto Sebagai Sumber Air

KITANESIA–¬†Gorontalo – Dalam kunjungan kerja hari pertama di Provinsi Gorontalo (Minggu, 30 April 2017), Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengunjungi Danau Limboto di Kabupaten Gorontalo. Limboto merupakan salah satu danau yang kritis karena pendangkalan dan kini tengah dilakukan revitalisasi oleh Balai Wilayah Sungai Sulawesi II, Ditjen Sumber Daya Air.

Dalam kurun waktu 74 tahun (1932-2006), luas Danau Limboto menyusut dari 7.000 hektar menjadi 3.000 hektar dengan kedalaman rata-rata 2,5 meter. Jika dihitung per tahunnya, tingkat penyusutan danau mencapai 88,81 hektar. Apabila tidak dilakukan langkah penyelamatan, diperkirakan dalam 25 tahun ke depan danau ini akan hilang.

Secara fungsional, danau ini memiliki peran penting sebagai sumber air bagi banyak keperluan, mulai dari konservasi keanekaragaman hayati, budidaya perikanan (floating net, fisheries), daerah tangkapan air tanah untuk Cekungan Air Tanah (CAT) Gorontalo, pengendalian banjir pada DAS Limboto dan DAS Bolango, serta rekreasi dan Pariwisata.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan, sepanjang tahun 2016, telah dilakukan restorasi 7 (tujuh) danau prioritas, yakni Danau Toba di Sumatera Utara, Tempe di Sulsel, Maninjau di Sumbar, Rawapening di Jateng, Tondano di Sulut, Limboto di Gorontalo, dan Danau Singkarak di Sumbar,” kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono beberapa waktu lalu.

Danau Limboto menurut Menteri Basuki, merupakan danau alam yang kapasitas tampungnya besar (75 juta meter kubik). Sayang kalau didiamkan akan mati, “Apa yang kita lakukan adalah memperpanjang umur danau,” kata Menteri Basuki. Tidak kurang dari 80 persen permukaan danau sebelumnya tertutup oleh gulma eceng gondok dan budidaya tanaman jagung.

Menteri Basuki mengungkapkan bahwa untuk memperpanjang umur danau ini, salah satu prasyarat yang harus dipenuhi adalah keramba ikan. Kalau tidak bisa dilarang oleh Pemerintah (Kabupaten Gorontalo) harus diatur dengan baik. Tapi akan lebih ideal kalau dilarang, karena akan memperburuk kualitas air,” terangnya.

“Danau ini merupakan milik kita semua sedangkan keramba milik perorangan. Jadi tujuan pelarangan jelas yaitu untuk melindungi kepentingan masyarakat luas bukan perorangan,” tambahnya.

Ditambahkan, rencananya Kami (Kementerian PUPR) akan mendatangkan 4 alat pembersih eceng gondok yakni aquatic weed harvester yang per unitnya senilai Rp 3,2 miliar.

Sementara itu Kepala Balai Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi II, Jeanne Wagey menuturkan bahwa, pekerjaan Danau Limboto melalui anggaran TA 2012 sampai 2017 sebesar 570 miliar dengan progres keuangan telah mencapai 54,79 persen dan fisik 59,77 persen.

Dana tersebut digunakan untuk proyek pengerukan, pembuatan kanal, pembuatan tanggul sepanjang 700 meter, bangunan pengendali sedimen, jembatan, hingga pemeliharaan jalan akses.

Bupati Gorontalo Nelson Pomalinggo, mengungkapkan, eceng gondok ini bisa dipakai untuk pupuk, makanan ternak sapi dan kerajinan, sedangkan untuk kerajinan sudah jalan dan untuk makanan ternak kini sedang diuji melalui perguruan tinggi. “Jadi¬† eceng gondok ini bukan lagi menjadi musibah bagi kita, akan tetapi dapat berguna bagi masyarakat,” tandasnya.(*)

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN