Semenanjung Muria Kembali Diguncang Gempabumi

Kitanesia.co – Senin malam (18 Juli 2016), sekitar pukul 19.50.59 WIB, kawasan Semenanjung Muria dan sekitarnya diguncang gempabumi tektonik berkekuatan 3,8 Skala Richter. Gempabumi ini berpusat di koordinat 6,38 Lintang Selatan dan 111,12 Bujur Timur, tepatnya di Lepas Pantai Semenanjung Muria pada jarak sekitar 50 km arah timurlaut Kota Jepara, pada kedalaman hiposenter 18 kilometer.

muria

Hasil analisis peta guncangan (shake map) BMKG manunjukkan bahwa guncangan gempabumi dirasakan di daerah Jepara, Mlonggo, Kembang, dan Pati dalam skala intensitas II SIG BMKG, yang berarti dampak gempabumi di daerah tersebut berupa guncangan yang dirasakan oleh orang banyak, sementara benda-benda tergantung berayun dan jendela kaca bergetar. Namun demikian hingga saat ini belum ada laporan mengenai kerusakan sebagai dampak gempabumi.

“Gempabumi Muria ini menjadi menarik perhatian kita, karena di lokasi pusat gempabumi saat ini, pada 23 Oktober 2015 lalu juga diguncang gempabumi tektonik dengan kekuatan yang lebih besar, yaitu 5,0 Skala Richter” Jelas Daryono- Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG

Ditandaskanya lagi ” Zona Semenanjung Muria dan sekitarnya secara tektonik memang cukup kompleks. Di zona ini terdapat sesar yang diduga masih aktif, yaitu Sesar Muria. Sesar ini membujur dari Gunung Muria ke arah utara hingga menerus ke lepas pantai. Selain Sesar Muria, di zona ini juga terdapat sekitar 7 (tujuh) sesar mikro lain tanpa.nama yang tersebar di lepas pantai Semenanjung Muria.” ujar Daryono.

“Gempabumi Muria yang terjadi ini, jika ditinjau dari letak episenternya tampak terletak berdekatan dengan jalur Sesar Muria. Karakteristik kedalaman hiposenter gempabumi yang sangat dangkal menunjukkan bahwa aktivitas gempabumi yang terjadi memang dibangkitkan oleh aktivitas sesar aktif.” kata Daryono.

Peristiwa gempabumi Muria seolah mengingatkan kita, bahwa zona seismogenik Muria dan sekitarnya ternyata memang masih aktif.

Dalam konteks mitigasi bencana gempabumi, tampaknya memang perlu ada upaya memetakan sesar aktif yg belum terpetakan dan memetakan kembali struktur sesar yang dianggap sudah mati. Selain itu zona seismogenik lainnya, tampaknya juga harus terus dicermati, ini semua penting untuk membangun kesiapsiagaan kita dan merencanakan kegiatan pengurangan risiko bencana.

Seperti halnya struktur sesar di Purworejo dan sekitarnya ternyata juga masih aktif dan pada 18 Juli 2016 kemarin kembali kembali memicu gempabumi yang dapat dirasakan hingga Magelang dan Kebumen.

Terkait dengan beberapa pertanyaan warga yang menanyakan apakah ada kaitan antara gempabumi Muria dan gempabumi Purworejo ? “maka kami berpendapat bahwa kedua peristiwa tersebut belum tampak adanya hubungan yang jelas. Kedua kejadian gempabumi tersebut memiliki kondisi seismogenik pembangkit gempabumi yang.berbeda dan tidak terhubung secara langsung.” ujar Daryono

“Sebuah fakta bahwa sebaran sesar/patahan di Jawa Tengah memang cukup banyak dan memiliki medan tegangan sendiri-sendiri, sementara teori migrasi gempa dan teori saling picu antar gempabumi masih pro dan kontra, artinya belum cukup kuat dalam menjelaskannya. Kecuali konsep hubungan antara gempabumi pendahuluan, gempabumi utama, dan gempa susulan memang sudah jelas dan mudah untuk dipahami.” tambahnya lagi.

” Terakhir, kami sampaikan bahwa gempabumi Muria dan Purworejo ini hanyalah gempabumi kecil (mimor), untuk itu kepada warga kami menghimbau untuk tetap tenang, jangan terlalu khawatir berlebihan, gempanumi ini tidak membahayakan dan tidak merusak. Hasil monitoring BMKG juga tidak memberikan petunjuk akan adanya gempabumi susulan yang lebih besar.” jelas Daryono, dan apabila ada pertanyaan dari masyarakat menyangkut gempabumi silahkan ajukan pertanyaan di Twitter: @daryonobmkg dan untuk masyarakat yang ingin mengetahui bagaimana mengantisipasi bencana gempabumi sebelum, saat dan setelah gempabumi terjadi silahkan klik link ini.

*(KitaHK)

 

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN