Solusi Kemenhub Atasi Penerbangan Balon Udara

KITANESIAР Festival Balon Udara dilakukan sejak tahun 2005 dalam rangka Hari Jadi Wonosobo. Kegiatan tersebut kerap diadakan di Alun-alun Sapuran dan difasilitasi oleh Pemkab Wonosobo Drs. Tri Antoro, Msi. Pada tahun 2014 terdapat 37 balon raksasa yang diterbangkan.

Tidak hanya itu, Penerbangan balon udara juga dilakukan dalam menyambut lebaran. Biasanya dilakukan dihari ke-2 sampai ke-7 lebaran, mulai pukul 06.00-08.00 WIB, dengan membawa petasan digantung dibawahnya. Salah satu lokasi yang melakukaannya adalah Kecamatan Kertek dan Desa Kembaran Kalijajar, Wonosobo.

Dikarenakan penerbangan balon udara raksasa memiliki dampak buruk dan membahayakan penerbangan. Pada tanggal 12 Juni 2016 diadakanlah kegiatan sosialisasi dan diskusi tentang balon udara, dengan Pimpinan Rapat, Bupati Wonosobo. Dengan peserta AirNav Distrik Yogyakarta, AirNav Distrik Semarang, AirNav Distrik Solo, Perwakilan Lanud Adisucipto Yogyakarta, Perwakilan TNI AD Semarang, Jajaran Dishubkominfo Daerah Istimewa Yogyakarta, Kapolres Wonosobo, Dankodim Wonosobo, Jajaran Kapolsek, Jajaran Danramil, Jajaran Muspida, Tokoh Pemuda Pemudi, Tokoh/ Pemuka Masyarakat tiap Kecamatan, Perwakilan Warga Masyarakat tiap Kecamatan se-Kabupaten Wonosobo, Komunitas Mahasiswa dan Komunitas Penggemar Balon Wono Solo.

Kegiatan tersebut merupakan intruksi Direktur Personalia dan Umum Perum LPPNI/ AirNav tanggal 10 Juni 2016. Terkait maraknya pelepasan balon udara tanpa awak. Para DM/GM untuk lebih proaktif melakukan pendekatan kepada Gubernur/ Walikota/ Bupati untuk menjelaskan dampak negatif dari pelepasan balon udara tanpa awak terhadap keselamatan penerbangan. Sebab kegiatan tersebut bertentangan dengan UU No.1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan dan PKPS/ CASR 101. Dan yang melanggarnya dapat dikenakan ancaman pidana.

Pada pertemuan tersebut masyarakat Wonosobo setuju untuk tidak menaikan balon udara yang dapat membahayakan keselamatan penerbangan.

Meski telah terjadi kesepakatan, di perayaan lebaran 2017 tetap terjadi penerbangan balon udara raksasa. Berdasarkan laporan, penerbangan balon udara 25-29 Juni Tahun 2017 telah terjadi dibeberapa daerah diantaranya Magelang, Wonosobo, Temanggung, Purbalingga, Kebumen, Purworejo, Cilacap, Banjar Negara, Kulon Progo, Kutoarjo dan Kota Jogja. Penerbangan balon udara berkisar 1300 FT hingga 18.000 FT.

wonosobo baloon

Pada Siaran Pers yang disampaikan Biro Komunikasi Dan Informasi Publik Kementerian Perhubungan, di Jakarta, 30 Juni 2017. Terkait bahaya balon udara terhadap penerbangan. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi kembali menegaskan melarang kegiatan menerbangkan balon udara tanpa disertai prosedur.

Budi Karya juga sudah berkoordinasi dengan Kapolda Jawa Tengah, bahwa pada dasarnya penerbangan balon udara yang tidak sesuai prosedur pada dasarnya meeupakan kegiatan yang terlarang. Tegas Menhub di Jakarta (30/6/2017).

Pihak kepolisian telah menindak masyarakat yang masih nekat menerbangkan balon udara. Sebab kegiatan tersebut dapat membahayakan khususnya penerbangan.

Menyikapi hal tersebut Budi Karya akan memadukan bentuk kearifan lokal semacam festival balon udara dengan aturan yang tidak membahayakan pihak lain.

“Kita akan pikirkan bagaimana kedepan akan menjadi suatu kegiatan wisata, kita tentukan tempatnya, ketinggian kita tentukan dengan kualifikasi tertentu agar tidak mengganggu dan berbahaya khususnya bagi penerbangan dan masyarakat,” jelasnya.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN