Tahun 2018 Pankreas Buatan Akan Memudahkan Penderita Diabetes.

Credit: Alden Chadwick/Creative Commons

Penderita diabetes tipe 1 diharuskan untuk selalu memonitor gula darah menggunakan insulin saat dibutuhkan. Namun keruwetan masalah tersebut akan segera dapat berkurang dengan adanya penelitian yang menyimpulkan bahwa “pankreas buatan” akan segera digunakan dalam kurun waktu 2 tahun.

Studi yang ditulis oleh Dokter Roman Hovorka dan Hood Thabit dari Universitas Cambridge,  yang mengulas teknologi sistim otomatisasi alat tersebut termasuk pengembangan pankreas buatan tersebut adalah ilmuwan dari Universitas Boston.

Sekarang ini penderita diabetes tipe 1 memerlukan 2 tahap untuk memonitor level gula darah, yaitu tahap pertama menggunakan alat dengan menusuk jari dan kemudian dibaca level gula darahnya, selanjutnya apabila kadar gula darah terlalu rendah maka penderita harus menyuntikkan insulin ke tubuh secara manual, dan bila diperlukan, saat makan penderita harus menyuntikkan dosis tambahan.

Pankreas buatan ini menggabungkan kedua tahap tersebut menjadi sistem satu tahap (closed loop system). Sebuah jarum yang diltempatkan dibawah kulit secara konstan memonitor kadar gula dalam darah, dan kemudian “menyuntikkan” insulin sesuai kebutuhan untuk memastikan kadar gula dalam tubuh sesuai kebutuhan, selain itu juga mengurangi kerepotan yang ditimbulkan dalam proses manual 2 tahap.

Penggunaan insulin pada tiap penderita berbeda, dosisnya juga berbeda. Tergantung pada makanan, pola diet, kegiatan harian. Dengan menggunakan “pankreas buatan” ini penderita mungkin hanya membutuhkan sepertiga dosis dari dosis harian pada umumnya. Menurut studi, keuntungan dari sistim “closed loop” pankreas buatan tersebut adalah alat ini  memonitor perubahan kadar gula dalam darah sepanjang waktu dan bekerja sesuai pada waktu dan kebutuhan.

Percobaan secara medis telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir ini, termasuk “hidup bebas” yaitu penderita menjalankan kehidupanrutinnya sehari-hari diluar rumah namun tetap dalam pengawasan. Sebagian besar studi mengenai masalah ini menyatakan bahwa sitim ini sangat efektif  menjaga kadar gula darah dalam tubuh serta mengurangi waktu dan kerepotan penderita untuk mengukur kadar gula darah dan menyuntik insulin ke dalam tubuh. Para penderita yang berpartisipasi dalam percobaan ini juga sangat antusias pada teknologi ini.

“Dalam percobaan sekarang ini penderita pengguna pankreas buatan ini seperti mendapatkan “waktu tambahan” dari waktu perawatan diabetes mereka. Karena sistim ini memonitor kadar gula darah secara terus menerus, tanpa harus memonitor secara manual” kata penulis studi.

Pankreas buatan ini juga menunjukkan pada kita bahwa sistim ini lebih baik dari pada transplantasi pankreas atau hanya sel beta yang memproduksi insulin dalam tubuh. Bukan hanya masalah operasisaja tapi juga risiko komplikasi yang dapat timbul, karena penolakan oleh tubuh dan risiko lainnya.

Tentu saja, masih ada celah di mana sistem pankreas buatan dapat ditingkatkan. Studi serta penelitian lebih lanjut masih harus dilakukan untuk mengatasi tantangan ini. Sebagai contoh, dalam keadaan tertentu alat ini mungkin masih sedikit lambat, seperti pada saat latihan fisik yang intensif. Penelitian sedang dilakukan ke jenis insulin, yang bertindak lebih cepat seperti insulin aspart (bereaksi cepat) dan dalam bentuk inhalasi.

Sistim pankreas buatan ini cepat atau lambat akan memasuki pasar. Di Amerika Serikat FDA (US Food and Drug Administration) sekarang ini sedang mengkaji dan mempelajari proposal pankreas buatan ini, dan kemungkinannya akan disetujui oleh FDA tahun depan. Sementara itu di Inggris (UK National Institute for Health Research) memprediksi bahwa alat ini sudah dapat dibeli dipasar pada akhir tahun 2018.

Study ini muncul dalam jurnal Diabetologia.

Sumber: Diabetologia via Eurekalert

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN