Tahun 2019 Pariwisata Penyumbang Terbesar Devisa

Kitaenisa– Menteri Pariwisata, Arief Yahya hadir di First World Conference on Tourism for Development yang dikemas dalam gaya talkshow, ada tanggal 19-20 Mei 2016 di Great Hall of The People, Beijing-Tiongkok.

Tema besar konferensi yang digelar CNTA—China National Tourism Administration (Kemenpar Tiongkok) dan UN-WTO (Lembaga PBB yang mengurusi pariwisata) itu adalah Sustainable Tourism Development (STD)

Arief Yahya berbicara pada Sesi-I bersama Jose Gustavo Santos (Mempar Argentina) Che Min’er (Sekretary of the CPC Committee of Guizhou Province) Aisha Muhammed Mussa (Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Ethiopia) Elvas Gustas (Menpar Lithuania) Ketevan Bochorishvili (Georgia) Dho Young Shim (Chairperson Sustainable Tourism for Eliminating Poverty) Bert Hofman (Country Director for China, Korea, and Mongolia) Takafumi Ueda (Senior Advisor on Private Sector Development, Japan International Cooperation Agency) dan Duan Qiang (CEO of Beijing Tourism)

Diawal paparannya, Arif Yahya berkata “Presiden Jokowi telah memutuskan sektor pariwisata menjadi salah satu sektor prioritas, selain sektor Infrastruktur, Energi, Pangan dan Maritim. Saat Presiden Jokowi menetapkan sektor pariwisata menjadi prioritas, maka semua problematika terkait dengan tourism dengan cepat akan menemukan solusinya,” tutur Arief Yahya. Statemen itu rupanya menjadi polemik di media-media besar di Beijing, dan juga menjadi headline di China Daily.

Arif Yahya mengatakan pula, tiga hal dalam pembangunan Sustainable Tourism Development (STD) itu, yaitu: Cultural, Economic, Environment (CEE). Selama ini orang hanya menghitung cultural aspec saja, belum menyentuh pada economic dan environmental. Padahal ketiganya harus seiring sejalan, sehingga pembangunan kepariwisataan itu bukan saja mengurangi angka kemiskinan, tapi juga penyumbang devisa terbesar bagi Negara, seperti di Indonesia. Dan agar berkelanjutan, maka keberadaan tourism harus mengangkat harkat dan martabat serta ekonomi masyarakat, dan “tourism akan menyumbang devisa terbesar di 2019 nanti, mengalahkan Oil and Gas, Coals dan CPO” tegas Arief Yahya.

Katevan Bochorishveli, memperkuat statemen Arief Yahya. Ia mengatakan bahwa beberapa tahun belakangan ini, kontribusi pariwisata terhadap perekonomian di negerinya paling besar dan paling cepat pertumbuhannya. “Pariwisata bisa menciptakan lapangan kerja dengan cara-cara yang kreatif,” tutur Katevan.

Marcio Favilla, mantan Tourism Minister of Brasil yang kini bekerja di UNWTO, menambahkan bahwa hadirnya turism juga bisa mengangkat pengusaha-pengusaha UMKM, usaha kecil, mikro, dan menengah. Itu sudah dia buktikan di banyak negara. “Merekalah yang akan mensupplay barang dan jasa, mendapatkan manfaat langsung maupun tidak langsung dari industry pariwisata,” jelas Marcio.

Takafumi Ueda, dari Japan International Cooperation Agency memandang tourism dari sisi yang berbeda ketimbang Arief Yahya, yaitu dari aspek sosial. “Apakah dengan hadirnya banyak wisatawan, memenuhi hotel-hotel chain bertaraf internasional, menyumbangkan GDP terbesar buat negara, itu secara otomatis mensejahterakan. Bagaimana dampak sosialnya,” tutur Ueda, bernada sinis.

Lanjut Takafumi Ueda, memang di mana-mana selalu ada risiko, apalagi bisnis selalu ada risiko, karena itu ada yang disebut risk calculate, yang tugasnya menghitung seberapa besar risiko dibandingkan dengan benefitnya. Namun Chen Min’er (Party Chief of Guizhou Province Tiongkok) menjawab dengan gamblang. “Pemerintah menciptakan peluang, perusahaan membangun bisnis dan usaha, masyarakat lokal senang menjadi suplayer barang dan jasa,” tutur Chen Min’er.

Ditempat terpisah, Arief Yahya melihat industri pariwisata di China kini menjadi kekuatan yang luar biasa. Outbond traveller-nya 120 juta orang dan Inbound-nya 130 juta di 2015. Sedangkan wisatawan domestiknya 4 miliar orang pergerakannya setahun. Adalah angka yang fantastis yang membuat semua Negara terbelalak ingin mengambil peran di pasar Tiongkok.

Apa yang musti dilakukan atas kemajuan Tiongkok di sektor pariwisatanya itu, tutur Arief Yahya. Menurutnya: “Kita harus outworld looking, jangan hanya berpikir sempit dan melihat kekurangan di dalam. Terlalu sibuk meributkan hal kecil, kehilangan opportunity besar. Lihatlah apa yang dilakukan di luar sana, prestasinya apa saja, mana yang bisa dicontoh untuk pariwisata kita. Inilah yang biasa saya sebut dengan benchmarking,” tutup Arief Yahya.

 

(SKT)

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN