Teruslah Berkarya Bung  Anies – A True Public Education Intelectual Entrepreneur

Image: Anies Baswedan Facebook

Seminar Nasional Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Yogyakarta 28 Mei 2015

“Kami berharap pada hari pertama sekolah, bukan hanya diantar oleh ibu, atau tukang ojek atau becak, tetapi hadir juga ayahnya”

“Kita ingin membangun suasana baru , berpartner dengan orang tua”

“Di usia anak yang masih dini, pendidik yang paling mewarnai mereka adalah orang tua dan pendidik PAUD. Karena itu, kita harus pastikan bahwa orang tua adalah pendidik yang paling baik”

image: aniesbaswedan.com
image: aniesbaswedan.com

Hal ini disampaikan oleh Anies Baswedan yang memulai kampanye “Gerakan Mengantar Anak ke Sekolah (di Hari Pertama)”  pada tahun 2015. Salah satu gebrakan yang dilakukan sang “Public Education Intelectual Entrepreneur” selama 20 bulan menjadi birokrat yang memimpin suatu Kementerian yang sangat vital bagi “masa depan kita, masa depan bangsa tercinta….”

Anies menerima penugasan dari Presiden Jokowi dalam kabinet kerja pada tahun 2014 sebagai suatu kehormatan, sebagai salah satu puncak karir dalam curriculum vitaenya yang sangat brillian. Kemampuannya untuk meyakinkan orang untuk terlibat dalam implementasi ide-idenya yang berani dan melampaui jamannya, jauh lebih hebat dari salesman manapun. Sangat jarang akademisi dan peneliti mempunyai kemampuan entrepreneur seperti Bung Anies. Dan lebih hebatnya lagi, kemampuan entreprenuernya ini sepenuhnya ditujukan untuk kepentingan kemajuan pendidikan dan kebijakan publik Indonesia. Kalau Bung Anies bersikap seperti ekonom Harvard, pastinya sudah menjadi kaya raya dengan menerapkan intelektualitasnya di bursa saham.

Cucu dari pejuang kemerdekaan Abdurrahman Baswedan yang lahir pada tanggal 7 Mei 1969, di Kuningan, Jawa Barat ini dari sejak pendidikan menengah sudah menonjol baik dari kemampuan akademik maupun aktifitas organisasinya. Anies remaja sudah melihat dari dekat dan merasakan bagaimana kehidupan negara adidaya Amerika selama setahun, ketika ikut program pertukaran pelajar.

anies

“Harus ada jaminan bahwa generasi baru bisa berkreasi  dalam mencapai kemajuan untuk bisa menjawab tantangan kekinian. Penguasaan teknologi dan inovasi dalam arti luas menjadi sebuah syarat bagi pemuda untuk bisa berperan dalam pergerakan Indonesia”

anies-baswedan-aktor-pendidikan

Suatu konsep progresif yang diyakini sejak dini oleh Anies sejak remaja, Anies remaja juga sempat berkarir di TVRI cabang Yogyakarta, pada program Tanah Merdeka, yang bertugas menjadi pewawancara tokoh-tokoh nasional, betapa beruntungnya Anies remaja bisa menimba ilmu langsung “from the first hand” dari guru-guru  hebat itu.

Image: Anies Baswedan Facebook
Image: Anies Baswedan Facebook

Pemuda Anies memasuki kehidupan mahasiswa dengan bekal yang idealisme yang tinggi. Sudah pasti terlihat menonjol baik di akademik maupun aktifis. Dibidang akademik, ilmu ekonominya sangat mendukung peningkatan kemampuan entrepreneurnya. DI bidang aktifis,  dengan keberanian dan intelektualitas yang luar biasa pada tahun 1993, pada masa puncak kejayaan orde baru memimpin beberapa demonstrasi.

“Strategi saya dan teman-teman melawan rezim Soeharto dalam kebijakan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkih (BPPC) adalah melakukan penelitian, tidak semata-mata berteriak saja”

Anies baswedan facebook
Anies baswedan facebook

Anies dewasa muda meniti pilihan karir dengan prinsip : memungkinkan pertumbuhan intelektual, bisa menjalankan tanggungjawab kepala keluarga, dan mempunyai pengaruh sosial. Setelah karir singkat di UGM, Anies menimba ilmu di Amerika Serikat dari mulai master sampai tingkat doktor. Ilmu yang dipelajari mulai dari bidang keamanan internasional, kebijakan ekonomi, sampai ilmu politik. Disertasi doktornya terkait kebijakan desentralisasi di Indonesia, mengambil sangat banyak sampel penelitian di kabupaten/kota Indonesia, suatu modal yang sangat berharga bagi Anies dewasa dalam langkah-langkah selanjutnya.

Anies dewasa juga sempat merasakan bagaimana bekerja di negara adidaya Amerika, suatu negara pemenang globalisasi, yang penuh dengan para pelaku kompetensinya kelas dunia, dan para salesman nya yang gigih dan kreatif. Sekembalinya di Indonesia, Anies ikut mendirikan suatu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak dalam penelitian kebijakan publik. Jiwa entrepreneurnya sangat terlihat dalam usaha meyakinkan para penyumbang untuk mendanai lembaga ini, sehingga dapat banyak melakukan penelitian, yang hasilnya diterbitkan dalam bentuk laporan dan jurnal secara berkala. The Indonesian Institute Center for Public Policy Research sampai saat ini terus berkarya secara independen, nonpartisan, dan nirlaba

anies

Anies dewasa mulai dikenal secara luas di publik setelah menjadi Rektor Universitas Paramadina pada tahun 2007, sebagai penerus dari cendekiawan muslim terkemuka Cak Noer dan tentunya saat menjadi moderator debat pemilihan presiden pertama tahun 2009 di televisi yang disaksikan 100 juta orang. Sang moderator tampak sangat cerdas, tangkas, smart dan charming dalam mengendalikan debat para calon presiden dan publik pun yakin bahwa sang moderator akan menjadi sosok berpengaruh di masa datang Indonesia, bahkan terpilih menjadi salah satu 20 orang penting yang diprediksi akan mengubah dunia dalam 20 tahun mendatang.

Salah satu terobosan di Universitas Paramadina adalah mencari pendanaan bagi mahasiswa-mahasiswa terbaik lewat program Paramadina Fellowship, dan mencantumkan nama/lembaga donatur pada gelar mahasiswa yang disponsorinya.  Keberhasilan ini mendorong Anies untuk memperluasnya menjadi “Gerakan Indonesia Mengajar” (2010), dimana Anies berhasil mengumpulkan sponsor untuk mendukung anak-anak muda terbaik bangsa untuk mengajar sekolah dasar pada daerah terpencil, dan Gerakan Indonesia Menyala (2011), yang menggerakkan orang dan institusi untuk membuat perpustakaan di daerah-daerah terpencil.

anies

Berbagai prestasi serta kreasi Anies dan pengaruhnya terhadap masyarakat, membuatnya banyak mendapat penghargaan baik nasional maupun internasional, dan beberapa jabatan panitia Adhoc. Pengajaran anti korupsi yang diterapkan di Universitas Paramadina membuatnya terpilih menjadi salah satu anggota Tim 8 KPK yang meneliti dugaan kriminilalisasi dua pimpinan KPK (2010) dan Ketua Komisi Etik KPK (2013) untuk meneliti bocornya sprindik kasus korupsi kasus Hambalang.

anies facebook

“Melunasi Janji Kemerdekaan” itulah suatu jargon khas Anies yang dilontarkan pada tanggal 15 Agustus 2011 di Universitas Paramadina, yang menandakan orientasinya yang bergerak ke arah yang lebih aktif, karena kondisi Indonesia yang naik turun pada masa reformasi.  “Mencerdaskan kehidupan bangsa”, adalah salah satu dari empat tujuan yang dijadikan prioritas Anies.

“Lebih baik menyalakan lilin ketimbang mengutuk kegelapan, bergerak melakukan sesuatu”

10011593_795408007162854_3250425163724177708_o

Kondisi global yang semakin menekan yang dibarengi dengan maraknya berbagai skandal korupsi serta lemahnya antisipasi para penentu kebijakan mengakibatkan kondisi ekonomi Indonesia menurun di tahun-tahun terakhir pemerintahan Susilo Bambang Yudoyono. Hal ini disikapi Anies dengan maju ke konvensi calon Presiden Partai Demokrat tahun 2014, yang mengejutkan banyak orang karena skandal korupsi justru banyak terjadi pada partai tersebut

“Kita membutuhkan pemimpin yang pikirannya diekspresikan dengan kata dan perbuatan yang membuat orang tergerak untuk melakukan sesuatu, karena Indonesia ini terlalu besar untuk dikerjakan satu orang, semua orang harus terlibat”

anies

“Kita memiliki banyak masalah itu bukan karena semata orang jahat banyak, tapi juga karena orang-orang baik yang ada hanya diam dan mendiamkan kejahatan itu terjadi”.

Konvensi Partai Demokrat memberikan pelajaran baru bagi sang “Public Education Intelectual Entrepreneur”, bahwa ada “hal lain” yang harus dipelajari jika terkait dengan psikologi politik massa. Setelah serangkaian presentasi, sosialisasi dan debat, pemenang ditentukan oleh survey, dan ternyata Dahlan Iskan yang memenangkannya.

Asam di gunung, Garam di laut, dalam belanga bertemu jua.

anies

Saat  itu kancah politik Indonesia dikejutkan dengan seorang “rising star”, yang sama sekali tidak punya darah biru,kekayaan material berlimpah atau pendidikan super tinggi. Gaya blusukannya sangat meraih simpati masyarakat Indonesia, sehingga justru sangat potensial untuk memenangkan pimpinan tertinggi di negeri ini. Joko Widodo, setelah ditunjuk untuk maju dalam pertarungan Pilpres 2014

“Saya malam-malam telepon Pak Anies, mohon saya dibantu”  (Jokowi, 26 Mei 2014)

“Saya merasa pasangan Jokowi-JK lebih sesuai. Mereka berdua tidak sepenuhnya kombinasi kebaruan karena Jusuf Kalla adalah tokoh senior, pernah jadi Wakil Presiden. Tapi potensi memunculkan kebaruan dan terobosan dari pasangan Jokowi-JK ini terlihat lebih besar. Ada lebih besar harapan bahwa pasangan ini bisa menjalankan misi yang disebut di atas secara lebih optimal. Dengan latar belakang misi yang selama ini kita jalankan maka saya menyatakan bersedia untuk membantu pasangan Jokowi – JK (Anies Baswedan, 27 Mei 2014)

anies

Jokowi senang mendapatkan dukungan dari Anies. Selain Anies dekat dengan kaum muda, Anies juga dianggap menjadi panutan kaum muda di Indonesia

“Cek coba di Twittter, followernya kan banyak banget” (Jokowi, 27 Mei 2014)

Bahkan Jokowi menunjuk Anies sebagai juru bicaranya. Kombinasi dua kekuatan ini bahu-membahu mengikuti proses Pilpres 2014 yang keras, serta penuh intrik dan fitnah. Keunggulan awal yang dipunyai Jokowi-JK tergerus sampai menjelang pencoblosan, sampai konser salam dua jari yang fenomenal 5 Juli 2014, yang dihadiri 300.000 massa di Gelora Bung Karno yang dengan senang hati datang menemui Jokowo dan meminta Jokowi jadi pemimpin Indonesia.

Setelah Jokowi-JK memenangkan pilpres, kemesraan kerjasama Jokowi – Anies berlanjut dengan masuknya Anies ke tim Transisi Jokowi-JK, yang bertugas mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan, agar ketika pelantikan, bisa langsung “action”.  Segera setelah pelantikan, Anies Baswedan dipercaya memimpin suatu kementerian, yang jelas sangat cocok dengan track record perjuangan Anies selama ini.

anies

“Saya kira nggak usah saya promosikan, semua sudah tahu dia perintis Indonesia mengajar” (Jokowi 22 Oktober 2014)

Anies menjalani tugasnya dengan penuh semangat dan dedikasi. Gebrakan demi gebrakan dilakukan pada Kementerian yang sering dianggap bertanggungjawab atas “Gawat Darurat Pendidikan” karena masalah-masalah pendidikan dianggap biasa-biasa saja oleh birokrasi pendidikan.

“Potret buruk pendidikan hari ini, apapun sebabnya adalah tanggungjawab kita di birokrasi pendidikan”

Jika Jokowi sering blusukan ke pasar dan gang-gang becek, Anies melakukan blusukan ke sudut-sudut Nusantara, berkeliling ke penjuru Indonesia untuk berbicara dengan  ribuan guru dan tenaga kependidikan.

“Saya menemukan mutiara-mutiara berkilauan di sudut-sudut tersulit Republik ini. Dinding kelas bisa reyot dan rapuh, tapi semangat guru, siswa dan orang tua tegak kokoh. Dalam berbagai kesederhanaan dan fasilitas, sebuah PR besar Pemerintah, saya melihat gelora keceriaan belajar yang luar biasa”

anies

Struktur Organisasi Kemendikbudpar dipecah menjadi kemendikbud yang menangani pendidikan dasar dan menengah serta kemenristekdikti yang menangani pendidikan tinggi. Anies lalu merombak struktur Kemendikbud dengan membuat secara khusus Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan serta Ditjen Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Masyarakat.

“Para pendidik PAUD pasti merasakan benar pentingnya membangun kemitraan bersama orang tua. Di usia anak yang masih dini, pendidik yang paling mewarnai mereka adalah orang tua dan pendidik PAUD. Karena itu harus pastikan bahwa orang tua adalah pendidik yang paling baik” Direktorat baru itu mengumpulkan cerita-cerita sukses para orang tua dalam mendidik anaknya di seluruh Indonesia “Setelah itu terkumpul, kami akan bagikan kepada para guru untuk disampaikan pada orang tua, agar menjadi inspirasi bahwa masih bisa kita mengharapkan dapat muncul anak-anak baik dari orang tua yang terdidik baik”

Taman Siswa Ki Hajar Dewantara adalah model bagi Anies untuk membentuk sekolah-sekolah di Indonesia

anies

“Ironis ketika negara lain menerapkan prinsip-prinsip pendidikan Ki Hajar Dewantara yang ditulis puluhan tahun lalu dan sukses meningkatkan kinerja pendidikan mereka, saat kita sendiri makin terasing dari pemikiran-pemikirannya”

“Mari kita teguhkan komitmen untuk menjadikan sekolah sebagai taman yang penuh tantangan dan menyenangkan bagi warga sekolah. Mari kita pastikan sekolah menjadi tempat dimana anak-anak kita tumbuh dan berkembang sesuai kodratnya, memenuhi potensi unik dirinya”

Anies juga membuat kebijakan brillian dan berani mengenai ujian nasional yang menjadi momok para siswa, karena dengan alasan penyetaraan pendidikan, dijadikan satu-satunya penentu kelulusan se Indonesia

“Tidak ada istilah lulus dan tidak lulus dalam UN sekarang. Yang ada hanyalah apakah nilai UN sudah mencapai kompetensi yang sudah diharapkan siswa atau belum”

“Kami serahkan ke sekolah untuk melakukan penilaian secara menyeluruh” (Anies Baswedan 23 Januari 2015).

Dan masih banyak lagi gebrakan-gebrakan yang membawa Kemendikbud dan masyarakat menjadi memiliki atensi yang baik atas pendidikan anak-anak “masa depan kita, masa depan bangsa tercinta.”

anies-baswedan-relawan-jokowi-

Rabu, 27 Juli 2016, bagai petir di siang bolong, sang “Public Education Intelectual Entrepreneur” yang selalu penuh senyum optimis itu meninggalkan Jalan Jenderal Sudirman….

Unknown-11

 

anies-book

Teringat saat Pilpres 2014 bagaimana kita selalu berdiskusi bersama disuatu sudut didaerah Kebayoran Baru, menyaksikan seorang Anies Baswedan yang bekerja tiada lelah untuk mendukung Jokowi – JK menyiapkan rancangan- rancangan pidato kampanye mereka saat itu, kenangan yang tak terlupakan, Selamat Berkarya Kembali di Masyarakat Bung Anies, pasti ada hal yang lebih besar menanti Bung,  Seorang seperti bung terbukti  bisa berkarya dimanapun, bahkan bisa lebih kuat dibanding dari bekerja di kungkungan birokrasi dan politik yang seringkali membelenggu kreativitas.

*HappsHar

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN