Tiga Kado Istimewa dari Jepang 

Untuk foto resolusi tinggi klik gambar ini

Kitanesia – Ibarat Sekali Dayung  Tiga Pulau Terlampaui. Bagaimana tidak, dalam kunjungannya ke Jepang, Presiden Jokowi mendapat 3 kado istimewa. Pembicara utama di KTT G-7 Outreach, kesepakatan bilateral pembangunan pelabuhan Patimban, serta rencana kerja sama pembuatan jalur kereta api Jakarta – Surabaya.

Agenda pertama Presiden Joko Widodo setibanya di Nagoya, Jepang adalah menghadiri Aichi-Nagoya Welcome Reception di Nagoya Kanko Hotel, Kamis, 26 Mei 2016. Presiden bersama kepala negara/pemerintahan, pimpinan organisasi internasional dan Gubernur Prefektur Aichi Hideaki Ohmura berfoto bersama.

Puncaknya ketika Presiden Joko Widodo  menjadi lead speaker pada KTT G-7 Outreach Sesi I. Topik bahasannya  Stabilitas dan Kesejahteraan di Asia. Dalam pemaparannya, Presiden mengatakan, Asia Pasifik telah menjadi kawasan paling aman dibandingkan dengan kawasan lain. Kondisi yang stabil ini membuat  Asia diprediksi memiliki pertumbuhan ekonomi sekitar 5,3% dibanding rata-rata dunia  3,2% pada  2016-2017. Sementara ekonomi Indonesia tumbuh 5,04 persen pada 2015.

Berpatokan pada Proyeksi Asian Century 2050, Asia akan menghasilkan PDB USD 174 triliun atau 52 persen PDB dunia. Indonesia, sebagai bagian dari Asia, dapat mengambil bagian. “Saat ini lebih dari 50 persen penduduk Indonesia berusia dibawah 29 tahun. Indonesia juga dikaruniai kekayaan dan sumber energi yang cukup,” papar Presiden.

Namun, Presiden Jokowi mengingatkan, kekerasan menyebabkan kerugian sangat besar. Tahun 2014, kerugian global akibat kekerasan bersenjata mencapai USD 14,3 triliun atau 13,4 persen dari PDB Dunia.

Untuk itu perdamaian dan stabilitas harus diciptakan dan dijaga. Caranya, negara-negara Asia secara sadar menciptakan perdamaian dan stabilitas ini. Presiden menilai bahwa segala potensi konflik yang tinggi di Asia, seperti Laut Tiongkok Selatan dan Semenanjung Korea, harus dikelola dengan baik.

Dalam konteks ini, Presiden Jokowi menekankan penyelesaian damai harus  menjadi pilihan utama. Indonesia tidak menginginkan Asia menjadi kawasan  konflik dan menjadi ajang power projection negara-negara besar. “Indonesia juga ingin menekankan bahwa semua negara, saya ulangi, semua negara tanpa terkecuali, harus menghormati hukum internasional,” tegas Presiden Jokowi.

Menurut Presiden, dunia sudah tidak berjalan secara bipolar dan kini  muncul banyak negara (emerging countries). Mereka punya potensi dan terbukti  berkontribusi bagi kemajuan dunia. Oleh karena itu, Presiden mengusulkan agar dunia ditata dengan melibatkan emerging countries. “Indonesia siap menjadi motor terciptanya Asia dan dunia yang damai dan sejahtera,” ucap Presiden.

Dalam keterangan pers di Bandara Internasional Chubu Centrair, Jepang, Jumat 27 Mei 2016, Presiden mengatakan negara maju melihat munculnya emerging economies atau negara berkembang yang ditandai oleh kestabilan politik dan  mampu menjaga pertumbuhan ekonominya.  “Ini yang dilihat oleh negara-negara maju terhadap kita dan juga kawasan Asia yang dianggap sebagai motor ekonomi dunia sekarang ini,” ucap Presiden Jokowi.

Kehadiran Indonesia di KTT G-7 Outreach menurut Presiden untuk membangun trust agar investasi datang ke Indonesia sebanyak-banyaknya. Terutama sektor infrastruktur yang membutuhkan pendanaan yang sangat besar.

Jadi bukan sekadar memenuhi undangan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe. “Kita dilihat dan dipuji negara-negara yang lain, terutama untuk pembangunan infrastruktur yang berkualitas dan mengarah pada pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” kata Presiden.

Dalam pertemuan bilateral dengan PM Abe, Presiden Jokowi mengatakan kedua negara sepakat bekerjasama membangun Pelabuhan Patimban.

“Kita harapkan dengan adanya pelabuhan ini jalur distribusi dan lalu lintas dapat dipangkas, tidak perlu lagi menempuh jalur darat yang terlalu jauh untuk sampai ke Jakarta, ke Semarang, atau ke Surabaya,” ucap Presiden saat  Rapat Terbatas soal Rencana Pembangunan Pelabuhan Patimban, 2 Mei 2016.

Tentang pembangunan kereta cepat Jakarta-Surabaya, Presiden menjelaskan bahwa akan dilakukan pendalaman dan kalkulasi terlebih dahulu.

Dayung sudah diayunkan oleh Presiden dan tiga pulau sudah dilampaui, tinggal menteri  terkait untuk segera menyingsingkan lengan baju, mewujudkan apa yang telah disepakati.

*(KitaDJ)

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN