Transportasi Massal Indonesia Menuju ala Euro 2016 dengan Investasi Mandiri

Oleh : Tim Redaksi Kitanesia

Kitanesia,Paris – Euro 2016 yang baru saja usai, ditonton secara langsung oleh 2.427.303 penonton dalam 51 pertandingan (rata-rata 47.594 per pertandingan), belum termasuk penonton yang menyaksikan di area fan zone di sekitaran stadion dan di Eiffel Tower. Euro 2016 diikuti 24 peserta dan diselenggarakan di 10 kota. Bagaimana Perancis bisa melayani gerakan para penggila bola tersebut baik dari luar maupun dalam negeri?

euroSalah satu hal yang menarik adalah salah satu sponsor Euro 2016 adalah Société nationale des chemins de fer français (SNCF), perusahaan kereta api nasional Perancis. Perusahaan yang berdiri sejak tahun 1938 ini melayani 14000 kereta per hari, termasuk kereta cepat TGV, yang mulai beroperasi sejak 1981. Jalur TGV sepanjang 1850 km melayani 100 juta penumpang/tahun baik dalam negeri maupun luar negeri sekarang 100 juta penumpang setahun. Penonton dari Swiss dapat berangkat dari Zurich Hauptbahnhof menuju – Paris Gare de Lyon sejauh 650 km, melesat dengan kecepatan 317 km/jam dalam waktu hanya 4 jam dengan biaya €29 (Rp 406.000,-). Layanan kereta cepat menjadi andalan utama antar kota di Eropa dibanding mobil, bus bahkan pesawat terbang. Tidak ada kemacetan maut seperti di tol Brexit walau ada event-event besar seperti Euro 2016.

12-Kereta meluncurBagaimana dengan transpotasi massal dalam kota ?. Paris metro underground adalah andalan utama. Sistem ini sudah dimulai sejak tahun 1900, dan pada tahun 2012 melayani 4.21 juta penumpang/hari dan 1,527 milyar penumpang per tahun. Dengan biaya € 1.75 – 2.75 dapat menikmati layanan yang datang dalam interval 3 – 5 menit. Jalanan Paris boleh semacet Jakarta, tapi masyarakat Paris punya alternatif yang sangat nyaman dan handal dalam beraktifitas ekonomi maupun rekreasi.

03-KRL2Bisnis transportasi massal di Eropa sudah maju sangat jauh, meninggalkan stigma kuno bahwa bisnis semacam ini pasti rugi dan mesti disubsidi. Saat ini ada 212.500 km jalan kereta api yang melayani 500 juta penduduk Uni Eropa. Bandingkan dengan Indonesia yang hanya punya 7770 km, itu pun 3708 km sudah ditutup, melayani 250 juta penduduk. Bisnis transportasi di Eropa skalanya sampai 4.6% Gross Domestic Product (GDP), dan masih terus berkembang. Dari tahun 2010 – 2030 direncanakan akan ada investasi sebesar € 1.5 trilliun di bisnis ini !. Revenue SNCF sendiri pada tahun 2014 adalah € 27.2 milyar (Rp 380 trilliun). PT Kereta Api Indonesia saja baru sejak tahun 2009 mulai mendapat untung dan penerimaannya pada tahun 2015 baru Rp 13.5 trilliun.

07-Kereta cepatBisnis transportasi massal yang memberi layanan yang handal dan ekonomis akan menjamin daya saing negara dalam menarik investasi yang akhirnya meningkatkan sustainibilitas kehidupan negara. Inggris boleh melakukan ‘Brexit’, namun Eurostar yang dirintis oleh EUKL (Inggris), SNCF (Prancis_ dan SNCB/NMBS (Belgia) sejak 2007 tetap mengangkut supporter ‘The Three Lion’ dari melesat dari St Pancras International ke Paris Gare du Nord dengan kecepatan 300 km/jam, 460 km dalam waktu 2.5 jam dengan tarik €44.5 (Rp 620.000,-). ICE yang diinisiasi Jerman dipakai di berbagai Eropa. Kita dapat jalan dari Amsterdam Central dengan 120 km/jam, dan memasuki Jerman dengan kecepatan 275 km/jam. Untuk sistem transportasi massal dalam kota, pola bisnisnya sudah melebar ke bisnis komersial. Lihat saja bus-bus dan stasiun yang dipenuhi mall, hotel dan iklan berjalan dari mulai consumer good, produk teknologi, dan acara-acara seni. Hal ini bisa mendukung sistem pembiayaan untuk memberikan layanan yang handal dan ekonomis. London Tube misalnya, kereta underground yang Sudan beroperasi sejak tahun 1863, pada tahun 2015 sudah melayani 1.305 milyar penumpang/tahun dengan jumlah tingkat sampai 4 lapis dibawah tanah !, dengan biaya antara £ 1.4 – 2.5/trip16-La Mascote

Tingkat layanan transportasi massal menjadi sangat sensitif. Masyarakat London misalnya, 20% menjalani lebih dari 2 jam di transportasi massal. Jika ada gangguan sedikit saja, misalnya keterlambatan, apalagi pembatalan yang tidak tersosialiasikan dengan baik, maka pasti akan menyulut demonstrasi besar, seperti yang terjadi pada tanggal 11 Juli 2016 lalu di Stasion Victoria London gara-gara gangguan pada Southern Line.

“We aren’t people who protest normally, but everyone’s fed up with the service. Southern mismanagement is needlessly wrecking passengers’ evening, interfering with childcare, and stressing out the workforce. Southern needs to get a grip – and if they can’t or won’t, the government shouldn’t let then run a railway”

“Impossible to organise any events because you’re always late”

“I really hope that Theresa May sees through the mess that she has inherited”

dan Theresa May yang menjadi “Second Margareth Thatcher”, begitu dilantik tanggal 13 Juli 2016 oleh Ratu Elizabeth II langsung melakukan reshuffle kabinet, dengan mengganti Menteri Transportasi Patrick McLoughin dengan Chris Gayling…. Bandingkan saja dengan kasus Brexit Indonesia yang sampai menimbulkan korban, para pejabat kita sempat saling lempar tanggungjawab, sebelum akhirnya meminta maaf kepada publik.

Tonggak sistem transportasi massal nasional Indonesia sebenarnya sudah dimulai sejak lahirnya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2007 tentang Perkeretapian, yang memungkinkan berbagai variasi pembiayaan fasilitas dan penyelenggaraan. Pada Rencana Induk Pembangunan Koridor Ekonomi Indonesia, infrastruktur perkeretaapian juga sudah diset mempunyai porsi signifikan (sekitar 39%). Pada tahap I (2010-2015), infrastruktur perkeretaapian adalah US$ 29.9 milyar dari total US$ 76.2 milyar dan pada tahap II (2016-2030) adalah US$ 342.2 milyar dari total US$ 865.5 milyar. Hanya saja yang terwujud sampai tahun 2014 hanyalah double-double track di Pulau Jawa tanpa penambahan jalur baru.

Peningkatan kualitas kereta dan pelayanan yang signifikan terjadi pada masa kepemimpinan Ignasius Jonan di PT KAI (2009-2014). Khusus untuk Jabodetabek, dibuat anak perusahaan khusus PT KAI Commuter Jabodetabek sejak tahun 2008, dan mulai dimodernisasi pada tahun 2011. “Commuter Line” ini menjadi sangat populer sejak Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo menaikinya 26 November 2013. Pada tahun 2015, commuter line sanggup melayani 914.840 penumpang/hari dengan jumlah penumpang 206 juta/tahun. Commuter line adalah salah satu contoh ‘vitamin bisa sampai ke rakyat’, dengan hanya tarif Rp 1000,- sampai Rp 4500,- sudah bisa keliling Jabodetabek dengan nyaman dan waktu yang terkontrol.

02-KRLBegitu Joko Widodo terpilih menjadi pimpinan eksekutif tertinggi di Indonesia, implementasi dari rencana-rencana yang sudah ada di bidang transportasi massal langsung menjadi prioritas. Ditargetkan sebanyak 2159 km kereta antar kota, 1099 km kereta perkotaan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua serta angkutan massal cepat di kawasan perkotaan di 6 kota metropolitan dan 17 kota besar.

“Yang sebelumnya vitaminnya tidak sampai ke rakyat, identifikasi agar vitaminnya bisa sampai ke rakyat,” itu adalah perintah Presiden pada kabinet kerja, yang akhirnya mengimplementasikan semua alternatif pembiayaan dan penyelenggaran yang ada di UU No.23/2007 dan Rencana Induk Pembangunan Koridor Ekonomi Indonesia dengan pengawasan dan pendampingan yang ketat.

Untuk jalur yang belum memenuhi kelayakan ekonomis, digunakan teknik Penyertaan Modal Negara (PMN) dengan penunjukkan langsung ke Badan Usaha Milik Negara (BUMN), karena akan lebih mudah dan cepat untuk mengerjakannya secara terintegrasi. Diusulkan adanya peningkatan PMN 10 kali lipat pada APBNP 2015 dari Rp 7.3 trilliun menjadi Rp 75 trilliun. Pada awal 2015, hal ini tidak mudah karena situasi parlemen yang saat itu belum sepenuhnya kondusif….akhirnya yang disetujui Rp 37.3 trilliun

“Yang dipotong itu yang bukan prioritas,” “Yang prioritas adalah infrastruktur karena kita ingin fokus di situ. Jadi konsentrasinya yang saya sampaikan berada PMN yang berhubungan dengan infrastruktur,” PMN jatuh ke BUMN seperti PT Angkasa Pura, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) dan BUMN karya serta PT Kereta Api Indonesia (KAI). “Itu yang masuk dalam skala prioritas dan dari kemarin sudah saya ikuti terus,” Jokowi 12 Februari 2015

Yang biaya investasinya besar bisa menggunakan pinjaman jangka panjang seperti MRT, namun tarifnya harus terjangkau masyarakat. Proyek MRT yang diwarisi Jokowi sebagai Gubernur DKI pada tahun 2012, tidak semerta-merta dilanjutkan begitu saja. Begitu mendapatkan data yang dirasakankan akan memberatkan masyarakat, Jokowi berani mengajukan negosiasi baik ke Pemerintah Pusat maupun ke JICA sebagai pemberi bantuan. Warisan yang diterima adalah 58 ditanggung Pemda DKI dan 42% ditanggung Pemerintah Pusat, biaya tahap I adalah Rp 15 triliiun, dikembalikan dengan bunga 0.25% selama 30 tahun dan ada isu bahwa masyarakat akan dikenakan tarif Rp 35.000,- jika tanpa subsidi.

“Kita akan lakukan renegosiasi, pertama dengan Pak Menteri Pekerjaan Umum dan Menteri Keuangan. Kedua, dengan yang memberikan pinjaman dari Jepang”  “Ya tidak apa-apa (ditolak), kita kan mohon dan meminta, kalau nggak 30 : 70, ya mungkin 40 : 60. Jadi kita terus negosiasi” (Gubernur DKI Jakarta, Jokowi, 1 Desember 2012)

“Harga tiket ini masih sedikit di atas (Rp 15.000) yang saya inginkan (Rp 9.000,- – Rp 10.000) sehingga saya harus negosiasi lagi masalah ini dengan pemerintah pusat,” (Gubernur DKI Jakarta, Jokowi, 29 November 2012, setelah klarifikasi dan negosiasi dengan PT MRT)

“Semua keputusan jangan negosiasi, harus ada dasar kekuatan fiskal kita. Tim kerja dalam dua hari segera melapor kepada saya, setelah laporan kita putuskan kira-kira tanggal 15 pokoknya keputusannya bagus.” (Hatta Radjasa, Menteri Perhubungan, 9 Januari 2015)

Akhirnya disepakati porsi 51 : 49 dengan tarif Rp 1.000,-/km. Karena tahap I Lebak Bukus – Bundaran Hotel Indonesia berjarak 15.7 km, tarifnya ya mestinya Rp 15.000,-, …..MRT dimulai pada 10 Oktober 2013.

Untuk proyek Light Rail Transport (LRT) di daerah yang sudah kuat potensi ekonominya, diserahkan ke konsorsium investor BUMN yang mengatur pendanaan komersial tanpa dukungan APBN (untuk Pulau Jawa seperti Jabodetabek dan Bandung), serta sistem turnkey dengan dana APBN (untuk luar Jawa seperti di Palembang)…dan yang paling heboh adalah proyek kereta api cepat pertama di Indonesia, Jakarta – Bandung sepanjang 142 km. yang akhirnya dimenangkan konsorsium perusahaan Tiongkok dan Indonesia, dengan dana sepenuhnya berdasarkan pinjaman komersial dari Tiongkok.

“Negara yang efisien….Negara yang mempunyai kecepatan dalam memutuskan…kecepatan dalam membangun…Itulah nanti yang menjadi pemenang didalam persaingan antar negara. Oleh sebab itu kereta api cepat ini adalah salah satunya untuk menuju pada kecepatan yang tadi saya sampaikan. Kecepatan mobilitas barang…Kecepatan mobilitas orang…nantinya yang akan mendorong kita memenangkan persaingan antar negara”

“Transportasi massal..Kita sudah berpuluh-puluh tahun selalu mengandalkan transportasi pribadi. Transportasi massal lama kita lupakan…Banyak kota-kota yang sudah mulai macet…Tidak hanya Jakarta…Tidak hanya Bandung…” (Jokowi, 21 Januari 2016, pada saat groundbreaking kereta api cepat)04-ProyekBiaya investasi kereta cepat akhirnya disepakati US$ 5.13 milyar, dan dibuat konsesi selama 50 tahun sejak dioperasikan nya 31 Mei 2019 nanti…dimana Jakarta – Bandung akan dapat ditempuh dalam waktu 35 menit dengan kecepatan sekitar 250 km/jam dengan perkiraan tarif Rp 200.000an. Lalu bagaimana pembiayaan infrastruktur transportasi massal lainnya ?

Sekarang ini…semua negara…semua negara… berebut investasi…berebut uang..berebut modal...agar ada aliran investasi…agar ada aliran modal masuk…agar ada aliran uang masuk…semuanya berkompetisi… semuanya bersaing memberikan kemudahan-kemudahan…memberikan pelayanan-pelayanan terbaik…Inilah yang saat ini juga kita lakukan dari paket I….paket ekonomi I sampai paket ekonomi yang ke XII….

“Tax amnesty ini…ada amnesti pajak ini…kita ingin seluruh warganegara itu berpartisipasi. Yang uangnya ada di dalam negeri di dekler, yang uangnya ada disimpan diendapkan di luar negeri dibawa masuk. Ini pertarungan antar negara….persaingan antar negara…..kompetisi antar negara”

“Dalam 5 tahun ini kita membutuhkan 4900 trilliun, dalam 5 tahun, APBN hanya bisa menyiapkan 1500 trilliun..artinya sisanya kekurangannya dari mana ? ya dari swasta…dari mana lagi ? darimana ? ya dari investasi…dari mana lagi?. Inilah kesempatan yang kita ingin agar yang masuk ini pengusaha-pengusaha nasional…pengusaha-pengusaha lokal dulu. Ambil ini…kesempatan ini…bawa uang masuk…tanamkan di investasi-investasi yang tadi saya sebutkan…infrastruktur bisa…” “yang jelas pasarnya ada.. ya kita sendiri pasarnya..ini yang harus diisi…”

“Peluang oppurtinity di negara kita masih banyak sekali yang bisa dimasuki. Jadi kenapa uang itu harus disimpan, simpan disini ga pa pa, disimpan di luar….kesenangan negara lain…Ya ndak ?”

(Jokowi, 15 Juli 2016, pada saat sosialisasi UU Tax Amnesty)

Dengan adanya ekonomi underground berkisar 1500 trilliun dan high net worth individual (HNWI) Indonesia di luar negeri sebesar US$ 250 milyar, semestinya peluang-peluang seperti investasi infrastruktur massal seperti kereta cepat dan lain-lain bisa diambil oleh pengusaha nasional.

Mari kita bersama-sama membangun infrastruktur transportasi massal ala Euro…yang menunjukkan investasinya pasti menguntungkan, dan akan mendorong negara kita menjadi negara yang efisien dengan kecepatan mobilitas orang dan barang yang akan mendorong kita memenangkan persaingan antar negara, jalur sudah benar sepertinya dan harus dikawal dengan benar…08-Dalam kereta

*Tim Redaksi Kitanesia.co

 

 

 

 

                                                                                                                             

 

3 KOMENTAR

  1. Sistem transportasi KA Perancis (SNCF) telah berasal dari waktu lama. SNCF berdecepatan tinggi ternyata tdk terlalu menggunakan loko yang amat canggih. Lokomotifnya menggunakan arus listrik kapasitas tinggi, sistem suspensi menyerupai mobil Citroen, dan kedataran sistem rel (saya pernah masuk dalam lokomotif SNCF tahun 1987 dari perjalanan Paris-Lyon, dibantu teman pegawai KA itu). Dalam hal ini, sistem listrik PLN tidak mampu mendukung model SNCF berkecepatan tinggi.

  2. Perlu perhatikan: Angkutan kota Paris dan angkutan kota umumnya di Perancis, juga negara maju umumnya memperoleh subsidi cukup tinggi, dulu Paris sampai 70%. Saya tidak tau sekarang. Angkutan umum yang tidak dapat subsidi di dunia yang saya tau adalah Singapura.

TINGGALKAN PESAN