Tren Siaran Televisi Dari UHF Terrestrial ke KU BAND via Satelit

ULASAN

Kata televisi berasal dari tele (jauh) dan vision (tampak). Secara harfiah, kata ini berarti tampak atau dapat melihat dari jauh. Istilah ini (televisi-red) pertama kali dikemukan Constantin Persyl dari Rusia pada acara International Congress of Electricity yang pertama dalam Pameran Teknologi Dunia di Paris tahun 1900.

Perlahan istilah ini semakin populer dan mendunia seiring perkembangan teknologi televisi yang mulai menggeliat pada era 1920-an. Pada tahun 1927, pesawat televisi elektronik pertama muncul ketika seorang peneliti berkebangsaan Amerika bernama Philo T. Farnsworth yang saat itu masih berusia 21 tahun mengembangkan tabung “dissector” yang menjadi dasar kerja televisi. Pada tahun 1928, drama televisi pertama ditayangkan melalui pemancar eksperimen di Schenectady, New York. Selama kurun waktu tahun 1930-an, David Sarnoff yang kemudian menjadi presiden perusahaan RCA mengembangkan teknologi televisi. Saat itu ia mengangkat seorang ahli fisika berkebangsaan Amerika keturunan Rusia yang bernama Vladimir Zworykin untuk melanjutkan penelitian dan perbaikan kamera televisi. Dia menyempurnakan tabung katoda yang dinamakan kinescope dan mengembangkan teknologi yang dimiliki CRT serta kamera tabung yang melengkapi teknologi televisi tabung pertamanya.

Perkembangan teknologi pesawat TV hampir terhenti pada awal tahun 1940- an karena Perang Dunia Kedua. Saat itu ruang frekuensi untuk pemancar televisi pada gelombang VHF (very high frequency) mulai penuh, sehingga para peneliti pun mencari jalan keluar untuk masalah ini. Tahun 1952, disepakati bahwa tambahan ruang frekuensi untuk pemancar televisi dibuka pada jalur gelombang UHF (Ultra High Frequency) dan sejak itu, frekuensi untuk siaran televisi ini semakin populer hingga saat ini, bahkan menjadi tulang punggung, khususnya Indonesia.

Secara teknologi, gelombang UHF memiliki sejumlah keunggulan seperti arah komunikasi bisa duplex, sehingga cocok untuk aplikasi hand phone dan data internet. Teknologinya relatif matang, perangkatnya lebih popular dan murah; dan pancaran tidak jauh, justru dari segi regulator merupakan plus point karena lebih mudah melakukan sensor. Namun, UHF Terrestrial pun memiliki keterbatasan yang meliputi resourse, bentangan frekuensi, dan bandwidth terbatas. Karena merupakan gelombang permukaan (terrestrial), pancarannya tidak jauh dan mudah terhalang oleh gunung atau gedung-gedung tinggi; dan perlu membangun/investasi tower/ stasiun relay pada setiap wilayah pancarannya.

Di Indonesia, Hampir semua stasiun televisi disiarkan melalui UHF terrestrial, baik analog maupun Digital DVB-T2. Tak heran, bila payung hukum berupa peraturan/izin pemerintah juga terrestrial centris. Selain disiarkan melalui UHF terrestrial, sejumlah pengelola televisi pun menyiarkan konten melalui satelit.

Era penyiaran televisi melalui satelit ini dimulai pada tahun 1976 saat Indonesia meluncurkan satelit Palapa. Satelit yang saat itu dioperasikan Perumtel, memiliki 12 transponder dengan kapasitas sekitar 6.000 sambungan pembicaraan atau 12 kanal televisi berwarna atau kombinasi dari keduanya. Setelah memasuki masa operasional, 6 dari 12 transponder Palapa A1 digunakan untuk aplikasi telepon, sedangkan 1 lainnya digunakan televisi nasional dan 5 sisanya digunakan sebagai cadangan. Pada saat peluncurannya, satelit ini memiliki bobot 574 kg. Program satelit Palapa ini menempatkan Indonesia menjadi negara ketiga di dunia yang mengoperasikan sistem komunikasi satelit domestik dengan menggunakan Satelit GSO.

shoot 1

shoot 2

Sejak itu TVRI maupun stasiun TV swasta memanfaatkan satelit Palapa untuk merelay acara TV ke seluruh nusantara, tetapi hanya kota-kota besar yang punya fasilitas tower pemancar yang dapat memancarkan kembali dengan UHF terrestrial ke pemirsa. Sejak itu pula “TV satellite DTH (Direct To Home)” dalam tanda kutip mulai memasyarakat dengan memanfaatkan “Bocoran” sinyal relay tersebut. Oleh karena, “bocoran” itu memberikan manfaat kepada seluruh masyarakat sehingga lambat laun Industri untuk perangkat pun berkembang dan warna abu-abu pun menjadi putih, inilah TV Satelit FTA (Free to Air). Karena keadaan teknologi saat itu, TV Satelit FTA menggunakan frekuensi C band yang memiliki pita frekuensi 3,7 hingga 4,2 GHz untuk downlink dan 5,925-6,425 GHz untuk uplink dan berlanjut hingga saat ini.

shoot 3

Kehadiran TV satelit FTA (Free To Air) memang sangat dirasakan di berbagai daerah, khususnya daerah yang terbilang “blank spot” lantaran tidak atau sulit dijangkau dengan sistem penyiaran via terrestrial. Teknologinya pun memiliki sejumlah keunggulan seperti terpapar di bawah ini;

  1. Jangkauan TV satellite DTH (foot print) luas, sehingga acara TV dapat mencakup seluruh nusantara dan dapat ditonton oleh jutaan pemirsa.
  2. Penyebaran EWS (Early Warning System) nasional oleh BMKG dan BNPB dapat dilaksanakan, khusus nya untuk daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).
  3. Frekuensi boleh dibilang reuseable dengan: 
a. Bedakan polarisasi dan atau symbol rate signal pada 1 satelit atau satelit berdekatan 
b. Beda posisi satelit di orbit di atas 2,5 derajat.

Saat yang sama, TV satelit pun memiliki keterbatasan yang meliputi:

  1. Biaya pengadaan/peluncuran satelit sangat tinggi, dan biaya operasional/ pengendalian relatif tinggi.
  2. Masa pemakaian satelit 15 tahun, tidak dapat diperbaiki di orbit.
  3. TV satellite DTH merupakan sistem TVRO (TV Receive Only) yaitu komunikasi simplex, Komunikasi Duplex perlu perangkat untuk melakukan upload yang mahal.

– TV & Radio Magazine

TV Satelit, Pilihan Utama Siaran TV Digital?

Aplikasi TV satelit yang telah digunakan di berbagai daerah di Indonesia sejak era 70-an dan semakin massif memasuki era 80-an saat ini memunculkan pertanyaan. Apakah TV Satelit bisa menjadi pilihan utama siaran TV digital?

Pertanyaan ini terpicu dengan kondisi penyiaran televisi di Indonesia seperti polemik berkepanjangan dalam implementasi siaran TV digital terrestrial yang hingga saat ini belum memiliki payung hukum yang kuat berupa UU penyiaran. Polemik mengacu terhadap pilihan antara Single/Multi MUX dalam RUU Penyiaran baru. Selain itu, ada perebutan bandwidth UHF terrestrial antara TV dengan HP/data internet. Saat yang sama, teknologi satelit semakin canggih, khususnya pada KU Band sehingga KU Band semakin popular pada TV satelit dan harga perangkat STB + Antena, TV satellite KU band sama dengan TV digital DVB-T2.

Seperti diketahui Ku Band merupakan kelas pertama dari K band. Ku band merupakan bagian dari spektrum elektromagnetik dengan jarak frekuensi dalam gelombang mikro mencapai 11,7 hingga 12,7 GHz untuk downlink dan 14-14,5 GHz untuk uplink. Saat ini ada beberapa provider TV satelit di Indonesia yang menggunakan KU band dan satu diantaranya menempatkan
diri sebagai FTA TV. Artinya, konten siaran yang sudah digital dan disiarkan provider TV tersebut bisa disimak secara cuma-cuma oleh masyarakat dengan menggunakan parabola berukuran diameter 45-60 cm, LNB-KU Band, dan Set Top Box/receiver DVB-S2. Tentunya, kualitas perangkat akan mempengaruhi kualitas gambar dan suara yang diterima pengguna.

Dengan demikian masyarakat luas
di seluruh pelosok Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dapat menikmati tayangan hiburan gratis secara lengkap disertai tambahan puluhan channel pilihan dan jernih
dari sisi suara dan gambar yang
bersih dengan harga perangkat yang terjangkau sekaligus menjadi solusi untuk menangani dan membantu menyiarkan konten TV nasional ke daerah ‘blank-spot’ dan melayani warga di perbatasan agar dapat dengan mudah menonton tayangan TV dari Indonesia, bukan dari negara tetangga.

Tjia Tek ijoe

Subur Semest

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN