Tuhan YME Tidak Pernah Lelah Pada Para Pemimpin Indonesia PART 1

TIM REDAKSI KITANESIA – 2 bulan terakhir ini Bangsa Indonesia menunjukkan kekuatannya ke seluruh dunia, bahwa Bangsa Indonesia siap untuk maju ke depan dibawah para pemimpin yang fokus untuk mengarahkan bangsa Indonesia dalam mengerahkan seluruh potensi yang dimiliki. Untuk tujuan apa ? Jelas untuk mencapai tujuan bangsa Indonesia yang tercantum dalam pembukaan konstitusi UUD 1945 dan memenuhi takdir dari Tuhan Yang Maha Esa, pembentuk Indonesia, untuk menjadi Zamrud Khatulistiwa yang berkilau-kilau hijau teduh ke seluruh dunia.

zamrud khatulistiwa

Sejarah Indonesia menunjukkan hal-hal menakjubkan bisa dicapai jika para pemimpin mengoptimalkan seluruh potensi sumber daya yang dimiliki. Betapa beragamnya potensi yang dimiliki Indonesia baik sumber daya alam…maupun sumber daya masyarakatnya. Lihatlah ! Indonesia adalah negara pertama di Asia Afrika, korban kolonialisme global, yang mendeklarasi kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, tanpa bantuan siapapun selain ridho Tuhan YME!.

Kemerdekaan adalah hasil usaha bangsa Indonesia, yang sejak 1908 mulai mengorganisasikan potensi keberagaman menjadi suatu pedang tajam yang fokus untuk mencapai satu tujuan : Kemerdekaan. Sebaliknya, sejarah Indonesia juga menunjukkan jika para pemimpin khilaf mengoptimalkan potensi keberagaman Indonesia, jika para pemimpin khilaf mementingkan kepentingan ‘golongan’, maka bangsa Indonesia tidak bisa optimal menggunakan potensinya.

Tuhan Yang Maha Esa membentuk Zamrud Khatulistiwa secara luar biasa baik secara fisik maupun manusianya. 3 lempeng tektonik membentuk Indonesia menjadi kaya akan sumber daya alam, dan angin muson timur dan barat membentuk sebuah wilayah tropik yang subur baik di darat maupun di laut. Migrasi manusianya pun terjadi dari segala sisi dan secara bertahap. Mulai sisi timur, 4000 tahun yang lalu memasuki bumi Papua, Maluku, dan Timor, lalu barulah dari sisi barat, 2500 tahun , yang lalu melalui Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Indonesia juga kaya akan masukan kebudayaan dan agama dari seluruh dunia.

Pada sisi barat dan tengah, pengaruh ini membuat sistem masyarakat sistematis dalam bentuk kerajaan-kerajaan. Pada sisi Timur, di Papua, masyarakat secara luar biasa menyebar dari pantai sampai puncak-puncak bersalju, menetap secara endemik, menciptakan sistem masyarakat egaliter yang bersatu dengan alam, Isinga.

papuaaa

Sejarah kuno Indonesia memperlihatkan jatuh bangunnya kerajaan-kerajaan yang sangat bergantung pada pimpinan/raja nya. Raja yang bervisi bagus dan adil akan membuat kerajaan yang makmur dan dicintai rakyatnya. Kerajaan tersebut ada yang bersifat lokal, maupun yang meluas mencakup beberapa daerah, seperti Sriwijaya dan Majapahit.

image … molsumsel
image … molsumsel

Datangnya ‘kekuatan global’ bangsa-bangsa barat di Indonesia membawa tantangan bagi para raja-raja di Indonesia. Terlihat terlihat jelas bahwa perlawanan yang bersifat lokal dan tidak teroganisir, tidak mampu menghadapi ‘kekuatan global’. Satu per satu wilayah dan manusia Indonesia tergadai ke Portugis, Inggris, dan Belanda, dimana yang terakhir ini dianggap ‘menjajah’ selama 350 tahun !.

Di masa kolonialisme yang berat dan seolah tanpa harapan ini, Tuhan YME mulai secara ajaib mulai mempersiapkan Zamrud Khatulistiwa, Ya, bagaimana bisa tercipta “lingua franca” , bahasa Melayu di seantero Nusantara, tanpa campur tangan Tuhan YME?. Malayunesia (Kepulauan Malaya) bahkan sempat diusulkan menggantikan nama Indian Archipelago (Kepulauan Hindia), nama resmi yang tadinya diakui Belanda dan dunia Barat yang menguasai globalisasi dari abad 15 sampai awal abad 20.

Penggantian nama ini diusulkan untuk menghindarkan persepsi bahwa Kepulauan Hindia itu terletak di India. “Indonesia” baru dicetuskan oleh James Richardson Logan dalam Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia Volume IV tahun 1850.

james

Logan mengajukan ‘Indonesia’ berdasarkan pertimbangan geografis dan pelafalan, yang lalu terbukti menjadi nama yang jauh lebih populer. Persiapan berikutnya oleh Tuhan YME adalah membuat sang penjajah merasa “bersalah” karena terlalu kejam terhadap warga jajahan, sehingga pada tahun 1901 mengeluarkan een eerschuld (kebijakan politik etis atau politik balas budi) : Irigasi, Emigrasi, Edukasi. Program edukasi inilah yang mencetak para pemimpin yang akan menjadi founding fathers Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Penjajah Belanda sama sekali tidak menduga bahwa sekolah-sekolah yang didirikan hampir merata di daerah-daerah, yang tadinya diperuntukkan untuk mendapatkan pegawai yang ‘cakap’ untuk pemerintahan kolonial, justru mencelikkan mata para pemuda seantero Indonesia. Ah betapa kita mempunyai negeri yang besar dan luar biasa, mengapa dikuasai Londo, yang negerinya secuil di ujung Eropa sono ?. Cita-cita membentuk negara sendiri, mulai tersebar dari mulai pembicaraan di warung-warung kopi, melalui bahasa lingua franca, sampai ke seluruh Indonesia !.

Penjajah dan Pejuang yang ditawan dan gugur
Penjajah dan Pejuang yang ditawan dan gugur

Tuhan YME juga secara jelas membentuk Indonesia dengan prinsip Bhineka Tunggal Ika dan gotong royong kreatif. Lihatlah pengorganisasian masyarakat Indonesia yang terbentuk sejak masa kebangkitan nasional 20 Mei 1908 sampai sumpah pemuda 28 Oktober 1928, semua dilakukan dengan gotong royong kreatif. Bentuk organisasi memang didasarkan atas kedaerahan, agama, aliran, namun para pemimpinnya sadar betul dari sejarah tergadainya Indonesia oleh kekuatan global kolonialisme barat, TANPA PERSATUAN TIDAK MUNGKIN CITA-CITA AKAN TERCAPAI !. Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa Indonesia Raya !…..ITULAH SUMPAH PEMUDA….SUMPAH NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA. Kemerdekaan hanya tinggal waktu saja sejak saat itu ! Sekalipun penjajah sangat kuat…. Belanda ? Jepang ?. Indonesia menjadi Negara Asia Afrika pertama korban kolonialisme global yang memproklamasikan kemerdekaan secara menggelegar ke seluruh dunia pada tanggal 17 Agustus 1945. Sejak itu tidak ada yang bisa merenggut kemerdekaan tersebut sekalipun itu Sekutu ? NICA ?, para pemenang perang dunia kedua yang mempunyai senjata-senjata paling mutakhir. Persatuan dan gotong rotong kreatif bangsa Indonesia dibawah para pemimpin yang baik berhasil mempertahankan kemerdekaan, sampai akhirnya Belanda benar-benar angkat kaki sejak Konferensi Meja Bundar 2 November 1949.

Kongres Pemuda
Kongres Pemuda

Bung Karno menyatakan kemerdekaan adalah ‘jembatan emas’ menuju bangsa yang berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Namun justru dari sejak 2 November 1949 sampai masa orde reformasi, para pemimpin kita khilaf dengan tidak memegang teguh nilai-nilai yang sudah terbukti keampuhannya tersebut, sehingga cita-cita bangsa belum tercapai secara optimal dan sering terombang-ambing dalam percaturan global

Indonesia sempat mengambil bentuk Republik Indonesia Serikat (RIS) sejak 27 Desember 1949, suatu bentuk negara yang umum di negara-negara demokrasi barat, yang justru menjadi bom waktu bagi Indonesia. Bentuk ini memang tidak bertahan lama, pada tanggal 17 Agustus 1950, Indonesia kembali menyatakan diri sebagai NKRI, namun dengan Konstitusi Dasar UUD Sementara 1950. Para pemimpin Indonesia yang mengalami eforia kemerdekaan, saling berlomba untuk mengajukan konsep/ideologi/aliran secara ‘fanatik’ baik di panggung demokrasi politik dan bahkan sampai beberapa kali mempergunakan senjata. Betapa UUD 45 dan Pancasila dibuang jauh-jauh pada masa ini, boro-boro, wong para pemimpin kita ingin membuat konstitusi baru !

Pemilihan Umum 29 September 1955, sering dikatakan sebagai pemilu yang paling demokratis dalam sejarah Indonesia. Pemilu yang diikuti 91.4% warga negara Indonesia, yang menunjukkan semangat luar biasa dan harapan dari rakyat Indonesia. Apa yang ingin dicapai dari Pemilu 1955 ?, Konstituante yang akan membentuk konstitusi dasar! Pemilu 1955 memberikan data kuantitatif pertama atas keberagaman Indonesia. Sayangnya data ini digunakan sebagai sebagai legalitas para anggota konstituante (WAKIL RAKYAT) untuk ngotot-ngototan dalam memperjuangkan konstitusi sesuai golongannya. Sangat jauh dari konsep kebhinekaan, gotong-rotong dan musyawarah dan mufakat dalam UUD 45 dan Pancasila, dan 4 tahun pun berlalu tanpa hasil konkrit !

Presiden Soekarno lalu mengeluarkan dekrit 5 Juli 1959, yang poin utamanya adalah ‘kembali ke UUD 1945 dan Pancasila.’ Organ-organ negara yang sesuai UUD 45 dibentuk sementara, sebelum dilakukan Pemilu. Bung Karno, sang founding father, menjalankan langsung pemerintahan, yang dijuluki sebagai ‘demokrasi terpimpin’, atau stigma yang dinamakan ’orde lama’. Hanya saja pada masa ini geopolitik perang dingin memasuki puncaknya. Blok besar dunia berusaha dengan segala cara, dari mulai halus sampai kasar dan kotor mempengaruhi seluruh negara untuk masuk ke dalam bloknya. Cara-cara kotor itu termasuk mencari kolaborator di suatu negara. Lihatlah para pemimpin Indonesia di masa ini , dari mulai organisasi masyarakat, partai politik, sampai militer, mempunyai afiliasi dengan negara-negara asing ! .

Presiden Soekarno, sang Putra Fajar, berusaha sekuat tenaga mempertahankan kesatuan Indonesia, namun dengan perekonomian yang semakin memburuk serta makin bercucuran darah anak-anak bangsa akibat pertikaian horizontal, Bung Karno sadar bahwa dirinya sebagai pemimpin bangsa harus berkorban demi negara dan bangsanya, mendahulukan kepentingan bangsa dan Negara dibanding kepentingan pribadi. Bung Karno akhirnya mengorbankan jabatannya….., mengorbankan jiwanya……Jika beliau berkeras, masih banyak rakyat yang akan mengikuti beliau sampai mati, namun bukan itu jalan yang beliau pilih….SUATU SIKAP PEMIMPIN YANG HARUS DITELADANI….

Jenderal Soeharto menerima ‘super semar’ dari Bung Karno, dan beliau juga mengambil tindakan yang luar biasa demi bangsa dan negara. Pembubaran PKI, yang diikuti dengan pemberantasan komunis sampai akar-akarnya, lalu mendiskrimasi keturunannya dengan alasan ‘bahaya laten’ adalah tindakan yang hanya bisa dilakukan seorang pemimpin luar biasa. Seorang pemimpin harus berani mengambil tindakan yang hanya bisa dipertanggungjawabkan secara pribadi kepada Tuhan YME demi bangsa dan negaranya. Tidak ada negara lain di dunia yang menuntaskan komunis setuntas Indonesia.

Presiden Soeharto mempunyai konsep sangat jelas tentang NKRI, Pancasila dan UUD 45, dan juga masalah ekonomi. Ekonomi harus tumbuh dengan baik, karena itulah kondisinya harus stabil. Indonesia lalu memasuki era ‘orde baru’. Secara ekonomi, Indonesia dipandu Amerika Serikat dan sekutu blok Baratnya, yang pastinya mengapresiasi langkah Indonesia terhadap komunis, dan berkepentingan agar Indonesia menjadi benteng terhadap komunis di Asia Tenggara. Skema ala Marshal Plan diterapkan untuk membantu Indonesia. Blue print negara modern, seperti Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) dan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) disusunkan oleh cendekiawan Berkeley. Jepang menjadi pendonor pinjaman utama, disamping negara-negara pendonor Barat lain yang diorganisasikan Inter Government Group on Indonesia (IGGI) sejak 20 Februari 1967.

Kekreatifan Presiden Soeharto pula yang menggunakan posisi “Benteng Komunis”, untuk melobi Amerika Serikat, sehingga perjuangan Indonesia untuk mendapat pengakuan dunia atas laut antara pulau-pulau kita sebagai bagian dari NKRI selama 25 tahun sejak Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957, akhirnya diakui dunia pada Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982 (United Nation Convention of the Law of the Sea/UNCLOS), yang ditandatangani oleh 119 negara di Teluk Montego, Jamaika, 10 Desember 1982 sehingga dikenal dengan sebutan UNCLOS 1982. Pemerintah Indonesia meratifikasi UNCLOS 1982 dalam UU No. 17 Tahun 1985, yang dalam penjelasannya dikatakan bahwa pengakuan resmi atas Negara Kepulauan sangat penting bagi Indonesia dalam mewujudkan satu kesatuan wilayah NKRI.

Presiden Soeharto benar-benar disiplin menjaga kestabilan dalam negeri. Pancasila dijadikan satu-satunya azas seluruh organisasi, dan tidak mentolerir apapun yang dinilai dapat mengganggu kestabilan nasional. Situasi ini membuat pertumbuhan ekonomi terus meningkat sampai mencapai level 7%, dan bertahan di tingkat itu selama bertahun-tahun. Indonesia juga mencapai swasembada beras pada tahun 1984, dan Indonesia pun dijuluki sebagai ‘Macan Asia’. Hanya saja pada masa ini godaan harta mulai memasuki para pemimpin. Kanker korupsi mulai merebak, sedangkan para pelaku ekonomi terbuai dengan berbagai kekayaan alam dan masukan modal asing, sehingga khilaf untuk memperkuat sumber daya manusia dan hal-hal yang dapat mengembangkan kemampuan berdikari. Badai krisis ekonomi tahun 1996 menghantam Indonesia sampai pertumbuhan ekonomi -15%, yang menunjukkan rapuhnya struktur ekonomi kita. Presiden Soeharto dan orde baru pun mengalami delegitimasi secara de facto.

Krisis ekonomi yang berimbas ke krisis keamanan dan politis yang membawa korban, sekali lagi Tuhan YME menunjukkan    jalan bagi bangsa Indonesia. Para mahasiswa yang sejak tahun 1978 sangat diperlemah aktifitas politiknya, memimpin demonstrasi besar-besaran, yang akhirnya menumbangkan orde baru dan melahirkan orde reformasi. Presiden Soeharto, juga menunjukkan jiwa rela berkorban seperti Bung Karno, dimana demi bangsa dan negara, mengorbankan jabatannya, dan merelakannya pada pemimpin baru.

Pemilihan Umum 7 Juni 1999 , merupakan event yang sangat indah, dimana masyarakat sangat bergairah dan penuh optimisme. Tingkat partisipasi masyarakat mencapai 92,6%, yang menyalurkan aspirasi lewat partai-partai yang banyak dipimpin oleh pemimpin baru. Pemilu 1999 kembali menegaskan kebhinekaan Indonesia , lalu bagaimana para pemimpin yang lahir pada orde reformasi ?. Ada miripnya dengan tahun 1950-an, dimana terjadi eforia ‘kebebasan’. Politik ‘golongan’ kembali diakomodasi. Ketetapan MPR No.VIII Tahun 1998 menyatakan Pancasila tidak lagi dijadikan sebagai asas tunggal, dan memungkinkan UUD 1945 dapat diamandemen. Ketakutan akan munculnya rezim otoriter yang berat ke eksekutif, akhirnya membuat UUD 1945 diamandemen sampai 4 kali dari mulai 19 Oktober 1999 sampai 10 Agustus 2002 yang intinya penataan keseimbangan kewenangan lembaga-lembaga Negara. Hal yang dipertahankan adalah bagian pembukaan (sekaligus Pancasila), bentuk negara kesatuan dan sistem Presidensial.

Indonesia dibawah orde reformasi, mulai menata ekonomi dan kehidupan bernegara. 2 tahun pertama memang eforia masih terasa, sehingga para pemimpin terkadang menyuguhkan perilaku yang disebut almarhum Gus Dur ‘taman kanak-kanak’. Sejak tahun 2002 barulah tercapai kestabilan, dan ekonomi mulai bertumbuh tahun demi tahun sampai kembali mencapai 6% pada tahun 2007. Sejak tahun 2006, ekonomi Indonesia dipimpin Sri Mulyani Indrawati, sang putri ekonomi terbaik Indonesia. Kendali kuat Sri Mulyani juga mampu membuat Indonesia bertahan dalam krisis global 2009. Harapan Indonesia pun semakin tinggi. Pemilu tahun 2009 cukup hanya 1 putaran yang menunjukkan kepuasan masyarakat. Namun apa mau dikata, justru sejak itulah skandal demi skandal, mulai dari korupsi, pajak, kriminalisasi KPK akhirnya membuka borok para pemimpin orde reformasi, yang rupanya sudah jauh lebih masif dari orde baru. Pertarungan politik para pemimpin juga seperti api dalam sekam membayangi perioda 2009

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN