Posisi ‘Wonderful Indonesia’ Saat Ini di Atas Thailand dan Malaysia

Kitanesia, Bali – Industri pariwisata Indonesia diklaim Menpar Arief Yahya kian bergeliat. Buktinya, rangking kampanye ‘Wonderful Indonesia’ yang digalakkan Kementerian Pariwisata di atas Thailand dan Malaysia.

Arief pun sedikit buka rahasia seputar jurus untuk melejitkan pamor ‘Wonderful Indonesia’ di mata dunia. Ia menyebut jurusnya itu sebagai digital tourism yang merupakan kolaborasi antara industri pariwisata dan telekomunikasi.

“Salah satu rahasia Wonderful Indonesia melesat dalam waktu setahun adalah digital. Kalau dulu anggaran kita (untuk kampanye Wonderful Indonesia) itu (proporsi) konvensional 70% dan 30% digital, maka tahun 2015 diubah dimana konvensional 60% digital 40. Nah, di 2016 komposisinya 50-50. Hampir semua (corong) media digital kita ada, Anda sebutkan,” ungkap mantan Direktur Utama Telkom itu.

Hasilnya pun terbilang menggembirakan. Dimana rangking kampanye ‘Wonderful Indonesia’ melesat cepat di antara negara-negara Asia Tenggara lainnya.

“Dengan digital tourism ini brand ‘Wonderful Indonesia’ telah mengalahkan brand negara-negara tetangga. Dimana dari 141 negara, kita menempati rangking 47. Sementara ‘Amazing Thailand’ cuma di ranking 83,” kata Arief.

“Dan yang paling memuaskan, kampanye ‘Truly Asia’ milik Malaysia rangkingnya 96. Jadi rankingnya jauh sekali antara Wonderful Indonesia dan Truly Asia Malaysia,” lanjutnya di sela event akhir Ekspedisi Langit Nusantara (Elang Nusa) Telkomsel di Garuda Wisnu Kencana, Bali.

Sebagai orang yang juga akrab dengan dunia teknologi telekomunikasi, Arief percaya sesuatu yang dibikin digital itu akan menjadi lebih global. “The more digital the more global dan the more digital the more personal,” sebutnya.

Peran perusahaan digital macam Telkomsel juga dianggap signifikan dalam mendukung industri pariwisata Indonesia. Tak cuma soal penyediaan infrastruktur broadband, tetapi juga untuk memberi solusi.

Contohnya ketika Kemenpar membutuhkan solusi untuk menghitung jumlah wisman (wisatawan mancanegara) yang masuk Indonesia secara realtime. Dimana hal ini jika dilakukan Kemenpar maka baru diketahui sebulan setelahnya. Jadi kalau mau tahu data pada Desember 2015 maka baru diketahui pada Februari 2016.

“Nah, sekarang Kemenpar bekerja sama dengan Telkomsel dan Telkom Grup menghitung wisatawan dengan cara mudah, yakni dengan cara digital. Dimana jumlah wisman pada detik datang kita sudah terima datanya, dengan digital kehidupan kita lebih murah dengan biaya yang jauh lebih murah,” Arief menambahkan.

“Intinya, digital itu dapat memudahkan kehidupan. Termasuk untuk promosi wisata Indonesia, dimana dari total anggaran kita Rp 4 trilun, sekarang 50-50 untuk promosi melalui media digital dan konvensional. Namun efektivitasnya media digital itu empat kali lipat dibandingkan media konvensional,” jelasnya.

Sinergi Tiga Industri

Terkait Ekspedisi Langit Nusantara (Elang Nusa) Telkomsel sendiri, Arief menyebut ini sebagai sinergi apik di antara tiga industri: transportasi yang diwakili drone, kedua telekomunikasi dan ketiga adalah pariwisata.

“Saya harapkan sinergi tiga industri ini akan menghasilkan sesuatu yang besar, kadang kalau kita berjalan sendiri tidak bisa memecahkan masalah, tetapi dengan sinergi, kita bisa memecahkan masalah,” harap Menpar Arief.
Contohnya seperti transportasi di Hong Kong yang tidak berdiri saat memberikan layanan kepada masyarakat. Melainkan digabung dengan sektor properti.

“Dengan sinergi dengan properti maka MRT (mass rapid transport) di Hong Kong dan hampir di seluruh dunia itu bisa terjadi. Maka dari itu juga saya harapkan, kombinasi di antara telekomunikasi, trasnportasi dan pariwisata ini akan menjadi sesuatu yang berhasil,” pungkasnya.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN